Tampilkan postingan dengan label Filsafat Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Ilmu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2015

FILSAFAT DAN FILSAFAT ILMU: Antara Ilmu Induk dan Cabang
by sariono sby

A. PENDAHULUAN
Manusia dari setiap zaman pasti memiliki daya pikir dan imajinasi yang berbeda-beda. Apa yang dipikirkan orang sekarang berbeda dengan apa yang dipikirkan orang-orang 6.000 tahun yang lalu. Karena pada tangkapan obyek yang berbeda, menggunakan beberapa alat modern seperti teleskop, spektroskop, radioteleskop, dan lain sebagainya. Begitu pula karena sudah semakin berkembangnya teori-teori keilmuan sehingga bangunan keilmuan menjadi beda.
Melalui pengamatan yang diperoleh sebelumnya, manusia kemudian menangkap gejala-gejala obyek. Dengan penuh perhatian dan mencurahkan waktu untuk berpikir tentang obyek, ia akan sampai pada kesimpulan sementara atau hipotesa. Dan tentu tidak semua yang dipikirkan pada awal pengamatan akan memiliki hasil yang sama setelah mengadakan pengamatan.
Contoh yang sangat masyhur adalah sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. Beliau berpikir melihat bintang, lalu berhipotesa itu adalah tuhan, ternyata salah. Beliau melihat rembulan, lalu berhipotesa itu adalah tuhan, ternyata salah. Dan beliau melihat matahari, lalu berhipotesa itu adalah tuhan, ternyata salah.
Perjalanan pemikiran Ibrahim sungguh membutuhkan segala curahan pikir dan hati. Dia masih bersikukuh ada pada pendiriannya dalam meyakini Tuhannya. Meski berbagai tekanan muncul, termasuk raja saat itu, yaitu Namrud. Namun Nabi Ibrahim masih bisa selamat dari segala rekasayanya. Beliau juga meyakini bahwa Tuhannya jauh lebih besar dari ketiga benda pengamatnnya. Bahkan Nabi Ibrahim juga mendakwahkan agamanya kepada Ayah dan Ibunya, meski dengan cara yang lembut dan halus.
Dari perjalanan panjang pengamatan, akhirnya Nabi Ibrahim menemukan Tuhannya dan mendakwahkannya kepada penduduk sekitarnya –termasuk ayahanda- yang menyembah berhala. Disinilah mengapa Allah menceritakan kembali kisah Nabi Ibrahim kepada orang Arab, agar menjadi peringatan bagi mereka betapa pentingnya makna kalimah tauhid.
Pengamatan-pengamatan, baik secara personal maupun kolektif dalam perkembangannya membentuk semacam garis-garis teori yang terus berkelanjutan. Disempurnakan dari satu peneliti kemasa peneliti selanjutnya. Karena banyaknya penelitian itu, maka banyak bidang tidak dapat dipahami oleh orang awam. Watak ilmiah tersembunyi dibalik susunan pengalaman ilmiah. Pemahaman yang saling berhubungan ini juga membentuk jaringan sistematik. Dan hahekat keterkaitan sistematis inilah yang menjadi urgensitas filsafat ilmu.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Filsafat
Filsafat berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu philos yang berarti senang, gemar, atau cinta, sedangkan Sophia dapat berarti kebijaksana. Jika digabungkan maka filsafat bisa berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan. Kata lain dari filsafat adalah hikmah atau hakekat. Jadi kalau ada orang bertanya, “Apakah hikmah dari semua ini?”, maka ia telah berpikir secara falsafati.
Filsafat mengkaji masalah-masalah dari titik focus (inti) nya yang mutlak, terdalam, atau perenungan-perenungan yang mendalam tentang sebab ada dan perbuat. Pemikiran ini terjadi secara terus-menerus hingga mencapai titik penghabisan. Menjawab pertanyaan terakhir dengan mendalam sampai jadi teranglah kekaburan pengertian sehari-hari.
Filsafat tentang air misalnya. Jika dalam konteks sehari-hari, air adalah sesuatu untuk diminum yang dapat menghilangkan rasa haus dan dahaga. Tapi dalam kajian filsafat bukan hanya itu, tapi serangkaian kumpulan dari atom-atom yang membentuk satuan dengan kode kimia H2O. Air dapat berupa menjadi benda cair, pada (es), atau gas (uap).
Dalam arti yang populer, istilah filsafat sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, entah sadar atau tidak. Dalam ranah ini, filsafat dapat berarti sebagai suatu pandangan hidup atau . dalam contohnya, kita sering berkata, “Saya tidak suka atas falsafah anda dalam berbisnis”. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Henderson, “Philosophy means one’s general view of life of men, of ideals, and of values, in this sence every one has a philosophy of life.” (Filsafat berarti satu pandangan umum kehidupan manusia, cita-cita, dan nilai-nilai, dalam pengertian ini setiap orang memiliki filosofi hidup.)
Selain itu filsafat juga bisa diartikan sebagai penafsiran atau penilaian terhadap sesuatu yang berarti bagi kehidupan umat manusia. Meskipun ada juga sebagian orang yang beranggapan bahwa filsafat hanya sekedar pandangan atau teori yang tidak tidak dapat bersentuhan dengan kehidupan praktis. Namun pada kenyataannya para filosof seperti Thomas Jefferson, Locke dan Stuart Mill telah mengembangkan suatu teori yang dianut oleh banyak orang.
Dalam dunia akademik filsafat diartikan sebagai kegiatan berpikir secara radikal. Yaitu sebuah pandangan yang kritis dan mendalam terhadap segala sesuatu yang ada. Atau, sebuah proses penelusuran pengetahuan sampai ke akar-akarnya. Sehingga tak salah jika Henderson merumuskannya sebagai pandangan yang sistematik dan iklusif tentang alam semesta, di mana manusia ada di dalamnya.
Dalam pengertiannya yang sempit, filsafat bisa berarti sebuah ilmu yang berhubungan dengan metode logis atau analisis logika bahasa dan makna-makna. Di sana filsafat diartikan sebagai science of science yang memberikan analisis terhadap asumsi dan konsep ilmu pengentahuan. Ia menjadikan ilmu pengetahuan sebagai obyek yang sistematis dan terorganisir.
Sedangkan dalam pengertiannya yang lebih luas, filsafat adalah suatu pandangan yang mengintegrasikan pengetahuan manusia dari segala macam pengalamannya menjadi suatu pandangan yang komprehensif tentang alam semesta. Berkaitan dengan hidup dan makna hidup. (Harold H Titus)
Filsafat adalah usaha manusia dengan akalnya untuk memperoleh suatu pandangan dunia dan hidup. Jadi filsafat dilahirkan karenana kemenangan akal atas dongeng dan mitos yang diterima dari kepercayaan masa lampau. Akal manusia berkembang dari masa ke masa. Sehingga lambat laun mereka tidak dapat menerima mitos dan dongeng-dongeng yang tidak bisa dibutktikan secara empirik. Maka macam-macam ilmu pengetahuan kemudian ditemukan oleh manusia. Pendekatan secara rasional terhadap gejala-gejala yang terjadi di dunia ini menghasilkan pendapat-pendapat yang bisa diteliti, dikoreksi dan diperdebatkan kebenarannya.
Jadi filsafat bisa diartikan sebagai usaha manusia mengerahkan akal pikirannya untuk semaksimal mungkin menjauh dari dogma-dogma yang dipaksakan kebenarannya. Karena bagaimanapun pada akhirnya orang-orang akan merasa janggal dengan informasi bahwa bumi ini dijulang oleh seorang dewa bernama Atlas. Atau, jika mereka diberitahu untuk menyembah Dewa bernama Zeus agar tehindar dari kesedihan dan malapetaka. Dan, masa sekarang ini, hanya sedikit saja yang percaya bahwa gerhana disebabkan oleh Buto Ijo yang tengah kelaparan dan memakan matahari atau bulan. Setelah orang-orang mengenal filsafat hal-hal macam itu, barangkali, hanya akan dianggap sebagai lelucon atau sekedar dongeng pengantar tidur buat anak-anak.
Filsafat meliputi segala sesuatu yang sekarang disebut ilmu pengetahuan atau science. Baik ilmu pasti, ilmu alam, ilmu astronomi, ilmu hayat, ilmu kedokteran dan ilmu politik. Suriasumantri mengatakan filsafat adalah suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.
Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa filsafat adalah sebuah kegiatan berpikir secara radikal, sistematis dan universal. Yang dimaksud berpikir radikal, berarti memikirkan segala hal dengan mendalam. Menelusuri sebuah pengetahuan sampai ujung. Dan, tidak berhenti hingga tercerabut akarnya. Sistematis, berarti mengacu pada sebuah kerangka berpikir yang memiliki tahapan-tahapan yang logis dan teratur. Sedangkan universal berarti membebaskan pikiran untuk menyelami suatu hal secara keseluruhan. Bukan hanya potongan-potongan kecil yang memberi pemahaman parsial. Oleh karenanya, berfilsafat berarti memikirkan sesuatu secara menyeluruh dengan sadar (yaitu berpikir secara telitit dan teratur) dan mematuhi hukum-hukum yang ada.
Haryono Semangun (1992) menyatakan bahwa kata filsafat (philosophos) itu sendiri pertama kali dipakai sejak abad ke-6 Masehi oleh Phytagoras. Konon, pada masa itu, Phytagoras adalah orang yang sangat dihormati karena kebijaksanaannya yang melebihi kebanyakan orang. Sehingga orang-orang menyebutnya Shopos (sangat bijaksana). Namun, dengan kerendahan hati dia menolak sebutan itu, dan mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang Philosophis (orang yang mencintai kebijaksanaan).
Jika melihat hal itu, maka sebenarnya tujuan filsafat adalah untuk mencapai kebijaksanaan. Karena sepanjang hidupnya manusia tidak pernah berharap akan menyesal dengan keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh pikirannya sendiri. Manusia memiliki hasrat yang kuat untuk memahami suatu hal secara utuh, benar dan jelas, agar mereka dapat memutuskan dengan tepat, apa yang harus mereka lakukan. Intinya mereka selalu menginginkan yang terbaik dari kehidupan yang dianugerahkan oleh tuhan kepada mereka.
Karena memiliki sikap dasar semacam itu, seharusnya manusia dapat dengan mudah menerima filsafat. Sehingga kebanyakan manusia selalu berhasrat untuk menemukan kebenaran dengan seterang-terangnya. Dan, karena sikap itu mereka menjadi kritis. Tidak mudah diyakinkan oleh sebuah pendapat tanpa terlebih dahulu mengujinya dengan penalaran logis sebagaimana kerangka yang telah ada. Mencintai filsafat berarti mampu menerima pendapat yang berbeda, dengan mengedepankan pendekatan kritik dan dialog.
Menurut Harun Nasution (1979) filsafat berasal dari akar kata bahasa arab Falsafa, kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi Falsafat. Sehingga ejaan filsafat yang sering digunakan selama ini adalah salah kaprah. Karena kata filsafat tidak berakar dari bahasa Arab ataupun bahasa Inggris (Phylosophi). Dia mendua istilah filsafat adalah serapan dari dua bahasa Arab dan Inggris sekaligus. Fil dari kata Philsophi (inggris) dan safah dari kata bahasa Arab (Falsafah). Namun dalam praktiknya Harun Nasution berpendapat bahwa kata filsafat jelas berasal dari bahasa Arab. Karena orang arab lebih dulu datang dan sekaligus mempengaruhi bahasa indonesia. Sehingga dalam setiap karyanya yang bertema filsafat dia selalu menggunakan istilah Falsafat.
Di kalangan filosof berkembang beberapa rumusan soal apa sesungguhnya pengertian dari filsafat. Lorens Bagus (1996). filsafat berarti:
1. Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas.
2. Upaya untuk melukisakan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.
3. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangakauan pengetahuan: sumbernya, hakikatnya, keabsahannya dan nilainya.
4. Penyelidikan kritis atas penandaian-pengandaian dan pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
5. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yang anda katakan dan untuk mengatakan apa yang anda lihat.
Jika diteruskan pengertian filsafat tidak ada habisnya, karena masing-masing filsuf memiliki terminologi yang beragam. Bahkan bisa saling bertentangan antara satu dan lainnya. Karena masing-masing mereka memiliki gaya ungkapan dan titik tekan yang berbeda, berdasarkan latar budaya dan pengalaman yang tidak sama.
Namun, hal itu tidaklah menjadi permasalahan yang mendasar. Karena pada dasarnya filsafat itu ada agar manusia menggunakan akal pikirannya semaksimal mungkin. Yang terpenting adalah aktifitas berpikir tersebut, bukan terminologinya. Biarlah orang terlebih dahulu melakukan penelitian, baru kemudian membuat kesimpulan dengan bingkai logikanya sendiri. Dari bermacam-macam terminologi di atas, yang perlu diketahui oleh seseorang hanyalah ciri dan karakteristik filsafat yang paling pokok, yaitu upaya secara sungguh-sungguh dengan menggunakan akal pikiran untuk menemukan hakikat segala yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan.

2. FILSAFAT ILMU
a. Pengertian Ilmu
Dalam hati, manusia memiliki bermacam-macam dorongan dan keinginan. Namun, sepanjang sejarah umat manusia hasrat yang paling menyita perhatian hanyalah dorongan untuk mengerti atau memahami segala sesuatu. Dalam buku Metaphysica, Aristoteles menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki dorongan kodrati untuk memahami segala sesuatu.
Perhatikan reaksi anak kecil ketika disodori sebuah benda. Pertama-tama dia akan memperhatikannya, jika cukup menarik di indra penglihatannya, maka tergerak tangannya untuk meraba, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Semua itu adalah proses paling mula dalam kehidupan manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Seiring dengan bertambahnya kemampuan linguistik manusia, mereka mulai menggunakan bahasa untuk menanyakan segala hal. Hal itu menunjukkan betapa manusia sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari ilmu.
Kata Ilmu itu sendiri berakar dari bahasa Arab alima yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Sedangkan dalam bahasa inggris disebut science, dari bahasa latin scientia, yang berarti pengetahuan- scire (mengetahui). Dalam bahasa Yunani disebut episteme (Suriasumantri; 1998) .
Secara umum mengerti dapat diartikan sebagai “setiap kegiatan dengan mana subyek dengan cara tertentu mempersatukan diri dengan suatu obyek”. Apa yang disebut mengerti itu selalu mengandung suatu hubungan antara subyek dan obyek. Subyek yang mengerti dan obyek yang dimengerti. Sedangkan obyek itu dapat berupa satu barang atau apa saja, bahkan bisa berupa subyek itu sendiri (manusia).
Dalam proses “menjadi mengerti” itu terjadi penyatuan antara subyek dan obyek. Penyatuan ini berlangsung dengan cara nonfisis (batiniah). Jadi tidak dapat dibayangkan bahwa proses tersebut berlangsung seperti roti yang kita kunyah dan kemudian inti sarinya menyatu menjadi darah dan daging. Tapi proses tersebut belangsung secara ideal dengan perantara idea. Bisa juga disebut gambaran batin yang dibentuk oleh pikiran berdasarkan apa yang ditangkap oleh panca-indra.
Pengertian harus melalui beberapa tahapan tertentu sehingga menjadi pengetahuan. Seperti ketika orang melihat pelangi. Mereka mengetahui melalui panca indra bahwa obyek yang disebut pelangi itu terdiri dari warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Tidak puas hanya dengan itu, maka pikiran mereka mulai menyusun, mengatur, menghubungkan dan mempersatukan bermacam pengalaman, lalu mencoba mencari keterangan sejelas-jelasnya. Sehingga mereka memahami apa sesungguhnya pelangi itu dan bagaimana warna-warna itu bisa muncul seperti demikian adanya.
Endang Saifudin Anshari memaparkan beberapa definisi ilmu menurut para ahli. Menurut Mohammad Hatta, ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu gologan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.
Menurut Ralp Ross dan Ernest Van Den Haag, ilmu adalah gabungan dari berbagaimacam pengetahuan yang tersusun secara empiris, rasional, umum dan sistematik.
Ilmu adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu, yaitu sistematis, rasional, empiris, universal, obyektif, dapat diukur, terbuka dan kumulatif. Wihadi Admojo (1998) menjelaskan pengertian ilmu sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun dengan sistem tertentu menurut metode yang khusus. Sehingga dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dalam bidang (pengetahuan) tertentu.
Sedangkan untuk pembagian ilmu, Abu Hamid atau yang dikenal Imam Ghozali membaginya menjadi 2, yaitu: ilmu yang wajib dicari bagi masing-masing individu seseorang (fardhu ain) dan ilmu yang wajib dicari bagi sebagian umat manusia (fardhu kifayah). Ilmu yang pertama merupakan ilmu-ilmu yang berhubungan langsung dengan Sang Maha Pencipa. Adapun ilmu yang kedua merupakan bentuk dari adanya interaksi sosial.

b. Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu pengetahuan. Secara metodologis tidak ada dikotomi tegas yang memisahkan antara ilmu-ilmu alam dan sosial. Karena masing-masing tidak memiliki perbedaan prinsipil yang mencirikan cabang filsafat ilmu tersendiri, yang bersifat otonom. Hanya saja para ahli seringkali membedakannya (ilmu alam dan sosial) karena permasalahan teknis yang bersifat khas. Dan pembagian itu lebih bersifat pembatasan dalam bidang-bidang yang ditelaah.
Filsafat ilmu merupakan telaah filsafati yang ditujukan untuk menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Sehingga muncullah tiga landasan pokok yang sangat dikenal di kalangan ahli filsafat: Ontologi, Epistemologi dan fisiologi.
Landasan ontologis meliputi beberapa pertanyaan: Obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia hingga akhirnya membuahkan pengetahuan?
Landasan Epistemologi mengacu pada pertanyaan: bagaimana proses yang memungkinkan untuk menimba ilmu tersebut? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara, teknik dan sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
Landasan Aksiologis mengacu pada pertanyaa: apa kegunaan ilmu tersebut untuk kehidupan manusia? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antra teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?
Secara sederhana untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari lainnya ialah dengan mengajukan pertanyaan: apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut? (Ontologi); Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tersebut? (Epistemologi) dan apa gunanya pengetahuan tersebut bagi umat manusia? (Aksiologi)

3. OBYEK FORMAL DAN MATERIAL FILSAFAT ILMU
Manusia diciptakan dengan memiliki perangkat mulia, yaitu akal. Dengan akallah manusia bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Prilaku berpikir akan menghantarkan seseorang pada proses analisa terhadap suatu obyek. Menjadikan dirinya kritis atas segala kejadian yang ada.
Obyek merupakan suatu yang penting dalam segala hal. Tidak terkecuali bagi disiplin ilmu. Karena dengan obyek yang jelas, maka kerangka berpikir menuju tujuan kajian semakin tampak. Dan sebaliknya, jika obyek kajian tidak jelas, maka akan melahirkan sebuah disiplin ilmu yang tidak bermetode.
Setiap ilmu memiliki dua macam obyek, yaitu material dan formal. Obyek material merupakan sesuatu yang dijadikan sasaran penelitian. Seperti dalam ilmu kedokteran yang menggunakan tubuh sebagai obyek material. Adapun obyek formalnya adalah metode guna memahami obyek material tersebut. Filsafat Ilmu sebagai proses berpikir secara sistematis dan radikal juga memiliki obyek material dan formal.
Obyek material filsafat merupakan segala bentuk yang ada, baik yang tampak maupun tidak. Yang tampak berada dalam ranah empiris dan yang tidak tampak berada dalam ranah metaf isik. Sebagian filosof membagi obyek material dalam 3 bagian, yaitu: alam empiris, alam pikiran, dan alam kemungkinan. Adapun obyek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional.
Keberadaan obyek filsafat lebih luas dari ilmu lainnya. Penelitian filsafat merupakan segala yang ada dan tidak terbatas. Jika ada pertanyaan apa perbedaan antara obyek filsafat dengan obyek ilmu pengetahuan lainnya?. Maka dijawab, bahwa filsafat memiliki sifat mendalam, seakar-akarnya (radikal). Dan ilmu lainnya hanya terbatas pada sesuatu yang bisa diselidiki secara ilmiah saja.
Bukan hanya itu, sifat radikal yang melekat pada filsafat dalam kondisi tertentu akan menampakkan hasil kerjanya ketika ilmu pengetahuan sudah tidak mampu lagi memberi jawaban atas masalah. Inilah cirri khas yang membedakan filsafat dengan ilmu pengetahuan.
Menurut Jujun S. Suriasumantri (1984), bahwa pada hakekatnya, secara historis semua ilmu berawal dari filsafat. Karena berawal dari berpikir radikal dan sistematis kemudian dalam perkembangan waktu yang cukup lama sehingga memunculkan terori-teori baru yang kemudian bercabang dan berkembang sehingga menimbulkan spesifikasi yang menampakkan kegunaan dalam dunia praksis.

4. RUANG LINGKUPAN FILSAFAT ILMU
Karena hubungan yang erat antara filsafat dengan ilmu pengetahuan, maka tidak salahlah jika para filosof menamakan filsafat sebagai induknya ilmu (mother of science). Dari filsafat telah lahir ilmu-ilmu modern dan kontemporer. Sehingga manusia bisa menikmati ilmu dan tehnologi sebagai buahnya. Awalnya fisafat terbagi menjadi filsafat teoritis mencakup matefisika, fisika, matematika, dan logika. Sedangkan filsafat praktis adalah ekonomi, politik, hukum dan moral. Setiap disiplin ilmu ini kemudia berkembang dan mengkhususkan pada suatu pembahasan, seperti fisika berkembang menjadi biologi. Dan biologi berkembang menjadi anatomi, dan kedokteran.
Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, filasafat bukan hanya menjadi sumber ilmu tapi sudah merupakan bagian dari ilmu sendiri yang juga mengalami spesialisasi. Dalam taraf ini, filsafat tidak mencakup secara keseluruhan tapi sudah mengalami partikulasi. Contohnya adalah filsafat agama dan hukum. Dan filsafat ilmu adalah bagian perkembangan filsafat yang sudah terkotak dalam satu bidang tertentu. Filsafat ilmu yang sedang dibahas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tuntunan bahwa filsafat bukan hanya berada di pantai, namun kjuga diharuskan membimbing ilmu. Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan yang super cepat menyebabkan ilmu semakin jauh dari induknya. Begitu pula dalam proses ini, terkadang muncul arogansi yang tidak sehat antara satu bidang ilmu dengan bidang ilmu lainnya. Disinilah titik strategis filsafat sebagai ilmu yang menyatukan visi keilmuan itu sendiri. kemudian, dalam konteks ini, kajian filsafat sangat relevan untuk dikaji dan didampingi.

5. PROBLEM-PROBLEM DALAM FILSAFAT ILMU
Dalam sejarah manusia usahama memahami dunia dapat dilakukann dengan 2 sarana, yaitu: melalui pengalaman ilmiah (scientific knowledge) dan gaib (mystical explanations). Manusia memiliki pengetahuan yang sistematis dengan berbagai hipotesis yang telah dibuktikan kebenarannya . Tapi disatu sisi ada pengetahuan yang berada diluar jangkauan nalar manusia. Dan diantara itu masih ada pemahaman yang sudah diuji namun belum sah untuk dibuktikan kebenarannya.
Dalam mengembangkan keilmuannya, para peneliti mengkonsentrasikan diri pada wilayah kedua, yaitu sebuah pengetahuan yang sudah diuji namun belum bisa disahkan menurut system penelitian.
Untuk itu ada beberapa metodologi yang dapat menjadi solusi terhadap permasalah keilmuan, yaitu, deduksi, induksi dan dialektika.
Metode deduktif berpola dari prinsip-prinsip umum yang kemudian ditarik menjadi sebuah kesimpulan, dan diterapkan untuk hal-hal khusus. Contohnya:
· Semua manusia akan mati (prinsip umum)
· Semua presiden adalah manusia (prinsip khusus)
· Maka semua presiden pada akhirnya akan mati (kesimpulan)
Sedangkan metode induktif berpola kebalikannya. Yaitu mengambil kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus, lalu diterapkan untuk hal yang umum.
· Amir adalah presiden (prinsip khusus)
· Amir akan mati (prinsip yang bersifat umum)
· Semua presiden akan mati (kesimpulan)
Metode dialektika adalah kerangka pikiran yang menggunakan tiga jenjang penalaran untuk mengambil sebuah kesimpulan: tesis, antitesis dan sintesis. Metode ini mengembangkan argumentasi dengan melalui beberapa proses yang saling mempengaruhi satu sama lain. Metode ini dalam prosesnya tidak pernah menyajikan sebuah pemahaman yang sempurna tentang kebenaran. Sehingga selalu menyisakan alternatif yang baru. Semakin dalam orang memasuki tahapannya, semakin ia akan menemukan kesulitan-kesulitan baru. Sampai ia dapat menguak problematika aslinya. Dengan kerangka berpikir seperti itu semakin terbuka kemungkinannya orang akan mendekati kebenaran.
Proses dialektika selalu terdiri dari tiga fase. Fase pertama disebut tesis, yang menampilkan lawan dari fase kedua yang disebut antitesis. Akhirnya, timbullah fase ketiga yang disebut sintesis yang mendamaikan antara tesis dan antitesis yang salaing berlawan. Sintesis yang telah dihasilkan dapat menjadi tesis pula yang menampilkan antitesis lagi dan akhirnya kedua-duanya menjadi sintetis baru. Demikianlah selanjutnya setiap sintesis dapat menjadi tesis.
Tanpa kerangka pikiran yang logis mustahil manusia bisa menemukan kebenaran. Bahkan, dengan metode-metode di atas sekalipun tidak memberikan jaminan seratus persen bahwa orang akan menemukan kebenaran. Namun, setidaknya hal itu bisa sedikit membantu untuk memuaskan hasrat manusia untuk merengkuh pengetahuan.

C. KESIMPULAN
Filsafat merupakan induk semua ilmu (mother of science). Sifat utama radikalnya mampu memerankan posisi diantara ilmu pengetahuan lainnya. Kemudian filsafat ilmu merupakan perkembangan dari cabang filsafat. Dia memiliki cara yang sistematis sehingga melahirkan bangunan-bangunan teori baru. Karena merupakan cabang maka kajian tentang filsafat ilmu sudah memiliki batas-batasnya.
Obyek filsafat ilmu memiliki dua ranah yaitu materi dan formal. Obyek materi merupakan pusat kajian yang menjadi sasaran kajian. Obyek formal adalah bangunan teori dan keilmuan yang menjadi metode (manhaj) agar sampai pada pusat kajian.
Dalam perjalanannya, manusia selalu berusaha menguak berbagai kejadian sehingga melahirkan teori-teori baru. Pengujian manusia pada masalah-masalah yang telah muncul akan berpotensi besar menambah semakin berkembangnya ilmu pengetahuan.
 
FILSAFAT ILMU DAN METODOLOGI PENELITIAN

by sariono sby

PENDAHULUAN
Filsafat berasal dari kata Philo dan sophia (bahasa Yunani). Philo artinya cinta atau menyenangi dan sophia artinya bijaksana. Konon orang yang selalu mendambakan kebijaksanaan adalah orang-orang yang pandai, orang yang selalu mencari kebenaran. Dalam mencari kebenaran ini, mereka mendasarkan kepada pemikiran dan logika dan bahkan berspekulasi.
Filsafat ilmu merupakan kajian atau telaah secara mendalam terhadap hakekat ilmu. Oleh sebab itu, filsafat ilmu ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu tersebut, seperti :
a. Objek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud hakiki objek tersebut ? Bagaimana hubungan objek dengan daya tangkap manusia (misalnya berpikir, merasa, mengindera) ?
b. Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu ? Bagaimana prosedurnya ? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri ? Apa kriterianya ? Cara, teknik, atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ?
c. Untuk apa ilmu itu dipergunakan ? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana hubungan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dan norma-norma moral / profesional ?
Ketiga kelompok pertanyaan tersebut merupakan landasan-landasan ilmu, yakni kelompok pertama merupakan landasan ontologi, kelompok kedua merupakan landasan epistemologi, dan kelompok yang terakhir merupakan landasan aksiologis.
Secara singkat uraian landasan ilmu itu adalah sebagai berikut :
a. Landasan ontologis adalah tentang objek yang ditelaah ilmu. Hal ini berarti tiap ilmu harus mempunyai objek penelaahan yang jelas. Karena diversivikasi ilmu terjadi atas dasar spesifikasi objek telaahannya maka tiap disiplin ilmu mempunyai landasan ontologi yang berbeda.
b. Landasan epistemologi adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga diperolehnya ilmu tersebut. Secara umum, metode ilmiah pada dasarnya untuk semua disiplin ilmu yaitu berupa proses kegiatan induksi-deduksi-verivikasi seperti telah diuraikan diatas.
c. Landasan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Dengan perkataan lain, apa yang dapat disumbangkan ilmu terhadap pengembangan ilmu itu serta membagi peningkatan kualitas hidup manusia.
Sarana Berpikir Ilmiah
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan langkah tersebut.
Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakekat sarana yang sebenarnya sebab sarana merupakan alat yang membantu dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Dalam proses pendidikan, sarana berpikir ilmiah ini merupakan bidang studi tersendiri. Dalam hal ini kita harus memperhatikan 2 hal, yaitu :
a. Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti diketahui, salah satu diantara ciri-ciri ilmu umpamanya adalah penggunaan induksi dan deduksi dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya.
Secara lebih jelas dapat dikatakan bahwa ilmu mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuaannya yang berbeda dengan sarana berpikir ilmiah.
b. Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuaannya berdasarkan metode ilmiah.
Jelaslah bahwa mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuaannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah dan bahkan merupakan ilmu tersendiri.
Dilihat dari pola berpikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyandarkan diri pada proses logika deduktif dan induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif ini sedangkan statistik mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.
Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk menolak atau menerima hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula.
Salah satu langkah ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah.

PEMBAHASAN
Hubungan Filsafat Ilmu dan Penelitian
A. Definisi Filsafat ilmu dan metodologi penelitian
Menurut Amsal Bahtiar, filsafat Ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar Ilmu.Dengan demikian filsafat Ilmu merupakan cabang dari filsafat yang secara spesifik mengkaji hakekat Ilmu untuk mencapai suatu kebenaran.
Metodologi penelitian adalah berarti Ilmu tentang metode. Sedang penelitian adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan data kemudian mengolah, menganalisa dan mengkaji data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif.
Jadi metodologi penelitian Ilmu yang mempelajari, menyelusuri, mencari dan mengumpulkan data kemudian mengolah, menganalisa dan menyajikan data yang dilakukan secara sistematis supaya diperoleh suatu kebenaran yang obyektif.
Secara terminology, metodologi penelitian atau metodologi riset (science researct atau method), metodologi berasal dari kata methodology, maknanya Ilmu yang menerangkan metode-metode atau cara-cara. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa inggris “research” yang terdiri dari kata “re” (mengulang) dan search (pencarian, pengajaran, penelusuran, penyelidikan atau penelitian) maka research berarti berulang melakukan pencarian.Metodologi penelitian bermakna seperangkat pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah tertentu untuk diolah, dianalisa, diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan cara pemecahannya.
B. Kedudukan Filsafat Ilmu Dan Metodologi Penelitian
Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, jika kebenaran yang sebenarnya itu disusun secara sistematis, jadilah ia sistematika filsafat, sistematika filsafat itu biasanya terbagi atas tiga cabang besar filsafat yaitu: teori pengetahuan, teori hakekat dan teori nilai.
Isi filsafat ditentukan oleh obyek apa yang dipikirkan, obyek yang difikirkan oleh filosof ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. Jadi filsafat sebagai suatu proses berfikir bebas, sistematis, radkal dan mencapai dataran makna yang mempunyai cabang ontology, epistemologi dan aksiologi.
Ontologi dinamakan sbagai teori hakekat, teori hakekat ini sangat luas, segala yang ada yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup penetahuan pengetahuan dan nilai (yang di carinya ialah hakekat penegetahuan dan hakekat nilai).
Didalam ontology membahas dua bidang yaitu:
1. Kosmologi membicarakan hakekat asal, hakekat susunan, hakekat berada, juga hakekat tujuan kosmos.
2. Metafisik atau antropologi secara etimologis berarti dibalik atau dibelakang fisika artinya ia ingin mengerti atau mengetahui apa yang ada dibalik dari alam ini atau suatu yang tidak nampak.
Jadi kosmologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki hakekat asal, susunan, tujuan alam besar, yang dibicarakan didalam cabang ini missal hakekat kosmos, bagaimana caranya ia menjadi (how daes it come to being) dan lain-lain. Mungkin ada orang yang beranggapan bahwa teori kosmologi itu merupakan teori astronomi, sebenarnya bukan, astronomi adalah sains sedangkan kosmologi adalah filsafat. Sedangkan metafisika adalah membicarakan hakekat manusia dari sgi filsafat, umpamanya apa manusia itu? dan dari mana asalnya, apa akhir atau tujuannya?. Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. atau suatu cabang filsafat yang membahas sumber, proses, syarat, batas dan validitas dan hakekat pengetahuan. Sistematika dan logika sangat berperan dalam epistemologi demikian pila metode-metode berfikir seperti deduktif dan induktif.
Epistemologi dari sini dapat disimpulkan bahwa bila ontology memahami sesuatu adalah tunggal maka cara memperoleh kebenarannya dengan menggunakan jenis penelitian kuantitatif, akan tetapi bila ontologynya memahami sesuatu secara jamak, maka digunakan jenis penelitian kualitatif.
Aksiologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai (value), tindakan moral melahirkan nilai etika, ekspresi keindahan yang melahirkan nilai esthetika dan kehidupan sosiolah yang menjelaskan apa yang di anggap baik dalam tingkah laku manusia, apa yang di maksud indah dalam seni. Demikian pula apakah yang benar dan diinginkan didalam organisasi sosial kemasyarakatan dan kenegaraan.
Dalam aksiologi ini di pengaruhi oleh ontology yang digunakan , ontology yang memahami sesuatu itu tunggal, penelitiannya jenis kuantitatif, maka Ilmu yang dibentuknya disebut nomotetik dan bebas nilai, sedangkan ontology yang memahami sesuatu itu jamak dan penelitiannya jenis kualitatif. Maka Ilmu yang di hasilkan disebut ideografik dan bermuatan nilai.
Menurut Jujun S. Suria Sumantri filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat Ilmu dan pengetahuan ilmiah.
Sedangkan menurut tim Dosen filsafat Ilmu UGM, filsafat imu secara sistematis merupakan cabang dari rumpun kajian epistemologi. Epistemologi sendiri mempunyai dua cabang yaitu filsafat pengetahuan (theory of knowledge) dan filsafat Ilmu (theori of science) objek material flsafat pengetahuan yaitu gejala pengetahuan, sedang objek material filsafat yaitu mempelajari gejala-gejala Ilmu menurut sebab secara pokok. Metodologi penelitian adalah seperangkat penegetahuan tentang langkah-langkag sistematis dan logis tentang pencarian data, pengolahan data, analisa data, pengambilan kesimpulan dan cara pemecahan.
Didalam menjalankan fungsinya metodologi menggunakan cara dan di buktikan kebenarannya adalah metode ilmiah. Menurut JUjun S. Suria Sumantri: Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari pelaturan-pelaturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Metode ini secara filsafati termasuk dalam apa yang di namakan epistemologi. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapat pengetahuan, apakah sumber-sumber pengetahuan? apakah hakekat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? apakah manusia di mungkinkan untuk mendapat pengetahuan? sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk di tangkap manusia.
Dari sini dapat kita ketahui bahwa metode ilmiah merupakan bagian dari metodologi ilmiah, bahwa filsafat Ilmu dan metodologi penelitian mempunyai kedudukan yang sama dalam cabang filsafat yaitu masuk dalam golongan epistemologi.
Menurut Amsal Bahtiar tujuan filsafat Ilmu adalah:
1. Mendalami unsur-unsur pokok Ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber hakekat dan tujuan Ilmu
2. Memahami sejarah pertumbuhan , perkembangan dan kemajuan Ilmu di berbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses Ilmu kontemporer secara histories.
Metodologi bisa juga diartikan Ilmu yang membahas konsep berbagai metode, apa kelebihan dan kekurangan dari suatu, kemudian bagaimana seseorang memilih suatu metode. Sedangkan penelitian bertujuan menghimpun data yang akurat yang kemudian diproses sehingga menemukan kebenaran atau teori atau Ilmu dan mungkin pula mengembangkan kebenaran terdahulu atau menguji kebenaran tersebut.
Jadi metode ilmiah untuk memperoleh Ilmu pengetahuan yang benar di perlukan cara-cara yang benar pula. Menurut para pakar , mencari kebenaran, cara-cara memperoleh kebenaran ilmiah diebut metode ilmiah, yang terdiri mencari masalah, menentukan hipotesis, menghimpun data, menguji hipotesis, prinsip ini berlaku untuk untuk semua sains oprasionalisasi, metode ilmiah itu dilakukan bidang studi metodologi penelitian. dari sini tampak dengan jelas hubugan antara filsafat Ilmu dengan metodologi penelitian

KESIMPULAN
1. Filsafat Ilmu merupakan cabang dari Ilmu filsafat yang termasuk dataran epistemologi
2. Filsafat Ilmu membahas tentang ontology, epistemologi, dan aksiologi
3. Metodologi ditinjau dari Ilmu filsafat juga termasuk dalam tataran epistemologi
4. Filsafat Ilmu dan metodologi penelitian menduduki posisi yang sama dalam Ilmu filsafat yaitu pada tataran epistemologi
5. Dan untuk mencapai hasil penelitian yang valid, metodologi harus di landasi filsafat Ilmu.
Filsafat Ilmu dan metodologi penelitian
Ontologi
1. Membahas apa yang ingin diketahui
2. Suatu pengkajian mengenai teori tentang ada
3. Objek yang di telaah Ilmu adalah sesuatu yang berberada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang di uji indra manusia yang berorientasi empiris
4. Kuantitatif dan kualitatif
Epistemologi
1. Membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan
2. Ilmu pengetahuan diperoleh melalui proses metode
3. Hakekat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan dengan sifat terbuka dan menjunjung tinggi kebenaran diatas segala-galanya
4. Metode ilmiah, logico hypotico verivicative dan deducto hypotetici verivicative
Aksiologi
1. Membahas tentang manfaat yang di peroleh manusia dari pengetahuan yang didapatkanya
2. Analisa tentang penerapan hasil-hasil temuan Ilmu pengetahuan

Sumber : http://referensiagama.blogspot.com

Hubungan Filsafat Ilmu dan Penelitian

OLEH : AHMAD SHOLIHIN
A. Definisi
Menurut Amsal Bahtiar, filsafat Ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar Ilmu.[1]
       Dengan demikian filsafat Ilmu merupakan cabang dari filsafat yang secara spesifik mengkaji hakekat Ilmu untuk mencapai suatu kebenaran. Metodologi penelitian adalah berarti Ilmu tentang metode.[2] Sedang penelitian adalah penelitian adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan data kemudian mengolah, menganalisa dan mengkaji data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif.[3]
Jadi metodologi penelitian Ilmu yang mempelajari, menyelusuri, mencari dan mengumpulkan data kemudian mengolah, menganalisa dan menyajikan data yang dilakukan secara sistematis supaya diperoleh suatu kebenaran yang obyektif.
Secara terminology, metodologi penelitian atau metodologi riset (science researct atau method), metodologi berasal dari kata methodology, maknanya Ilmu yang menerangkan metode-metode atau cara-cara. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa inggris “research” yang terdiri dari kata “re” (mengulang) dan search (pencarian, pengajaran, penelusuran, penyelidikan atau penelitian) maka research berarti berulang melakukan pencarian.Metodologi penelitian bermakna seperangkat pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah tertentu untuk diolah, dianalisa, diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan cara pemecahannya.[4]
B. Kedudukan Filsafat Ilmu Dan Penelitian
Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, jika kebenaran yang sebenarnya itu disusun secara sistematis, jadilah ia sistematika filsafat, sistematika filsafat itu biasanya terbagi atas tiga cabang besar filsafat yaitu: teori pengetahuan, teori hakekat dan teori nilai.
Isi filsafat ditentukan oleh obyek apa yang dipikirkan, obyek yang difikirkan oleh filosof ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. Jadi filsafat sebagai suatu proses berfikir bebas, sistematis, radkal dan mencapai dataran makna yang mempunyai cabang ontology, epistemologi dan aksiologi.
Ontologi dinamakan sbagai teori hakekat, teori hakekat ini sangat luas, segala yang ada yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup penetahuan pengetahuan dan nilai (yang di carinya ialah hakekat penegetahuan dan hakekat nilai).
Didalam ontology membahas dua bidang yaitu:
  1. Kosmologi membicarakan hakekat asal, hakekat susunan, hakekat berada, juga hakekat tujuan kosmos.
  2. Metafisik atau antropologi secara etimologis berarti dibalik atau dibelakang fisika artinya ia ingin mengerti atau mengetahui apa yang ada dibalik dari alam ini atau suatu yang tidak nampak.[5]
Jadi kosmologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki hakekat asal, susunan, tujuan alam besar, yang dibicarakan didalam cabang ini missal hakekat kosmos, bagaimana caranya ia menjadi (how daes it come to being) dan lain-lain. Mungkin ada orang yang beranggapan bahwa teori kosmologi itu merupakan teori astronomi, sebenarnya bukan, astronomi adalah sains sedangkan kosmologi adalah filsafat. Sedangkan metafisika adalah membicarakan hakekat manusia dari sgi filsafat, umpamanya apa manusia itu? dan dari mana asalnya, apa akhir atau tujuannya?.      Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. [6] atau suatu cabang filsafat yang membahas sumber, proses, syarat, batas dan validitas dan hakekat pengetahuan. Sistematika dan logika sangat berperan dalam epistemologi demikian pila metode-metode berfikir seperti deduktif dan induktif.
epistemologi dari sini dapat disimpulkan bahwa bila ontology memahami sesuatu adalah tunggal maka cara memperoleh kebenarannya dengan menggunakan jenis penelitian kuantitatif, akan tetapi bila ontologynya memahami sesuatu secara jamak, maka digunakan jenis penelitian kualitatif.
Aksiologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai (value), tindakan moral melahirkan nilai etika, ekspresi keindahan yang melahirkan nilai esthetika dan kehidupan sosiolah yang menjelaskan apa yang di anggap baik dalam tingkah laku manusia, apa yang di maksud indah dalam seni. Demikian pula apakah yang benar dan diinginkan didalam organisasi sosial kemasyarakatan dan kenegaraan.[7]
Dalam aksiologi ini di pengaruhi oleh ontology yang digunakan , ontology yang memahami sesuatu itu tunggal, penelitiannya jenis kuantitatif, maka Ilmu yang dibentuknya disebut nomotetik dan bebas nilai, sedangkan ontology yang memahami sesuatu itu jamak dan penelitiannya jenis kualitatif. Maka Ilmu yang di hasilkan disebut ideografik dan bermuatan nilai.
Menurut Jujun S. Suria Sumantri filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat Ilmu dan pengetahuan ilmiah.[8]
Sedangkan menurut tim Dosen filsafat Ilmu UGM, filsafat imu secara sistematis merupakan cabang dari rumpun kajian epistemologi. Epistemologi sendiri mempunyai dua cabang yaitu filsafat pengetahuan (theory of knowledge) dan filsafat Ilmu (theori of science) objek material flsafat pengetahuan yaitu gejala pengetahuan, sedang objek material filsafat yaitu mempelajari gejala-gejala Ilmu menurut sebab secara pokok.[9]
Metodologi penelitian adalah seperangkat penegetahuan tentang langkah-langkag sistematis dan logis tentang pencarian data, pengolahan data, analisa data, pengambilan kesimpulan dan cara pemecahan.
Didalam menjalankan fungsinya metodologi menggunakan cara dan di buktikan kebenarannya adalah metode ilmiah. Menurut JUjun S. Suria Sumantri: Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari pelaturan-pelaturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Metode in secara filsafati termasuk dalam apa yang di namakan epistemologi. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapat pengetahuan, apakah sumber-sumber pengetahuan? apakah hakekat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? apakah manusia di mungkinkan untuk mendapat pengetahuan? sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk di tangkap manusia.[10]
Dari sini dapat kita ketahui bahwa metode ilmiah merupakan bagian dari metodologi ilmiah, bahwa filsafat Ilmu dan metodologi penelitian mempunyai kedudukan yang sama dalam cabang filsafat yaitu masuk dalam golongan epistemologi.
Menurut Amsal Bahtiar tujuan filsafat Ilmu adalah:
  1. Mendalami unsur-unsur pokok Ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber hakekat dan tujuan Ilmu
  2. Memahami sejarah pertumbuhan , perkembangan dan kemajuan Ilmu di berbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses Ilmu kontemporer secara histories.[11]
Metodologi bisa juga diartikan Ilmu yang membahas konsep berbagai metode, apa kelebihan dan kekurangan dari suatu, kemudian bagaimana seseorang memilih suatu metode. Sedangkan penelitian bertujuan menghimpun data yang akurat yang kemudian diproses sehingga menemukan kebenaran atau teori atau Ilmu dan mungkin pula mengembangkan kebenaran terdahulu atau menguji kebenaran tersebut.[12]
Jadi metode ilmiah untuk memperoleh Ilmu pengetahuan yang benar di perlukan cara-cara yang benar pula. Menurut para pakar , mencari kebenaran, cara-cara memperoleh kebenaran ilmiah diebut metode ilmiah, yang terdiri mencari masalah, menentukan hipotesis, menghimpun data, menguji hipotesis, prinsip ini berlaku untuk untuk semua sains oprasionalisasi, metode ilmiah itu dilakukan bidang studi metodologi penelitian. dari sini tampak dengan jelas hubugan antara filsafat Ilmu dengan metodologi penelitian
Jadi dapat kita simpulkan bahwa:
-          Filsafat Ilmu merupakan cabang dari Ilmu filsafat yang termasuk dataran epistemologi
-          Filsafat Ilmu membahas tentang ontology, epistemologi, dan aksiologi
-          Metodologi ditinjau dari Ilmu filsafat juga termasuk dalam tataran epistemologi
-          Filsafat Ilmu dan metodologi penelitian menduduki posisi yang sama dalam Ilmu filsafat yaitu pada tataran epistemologi
-          Dan untuk mencapai hasil penelitian yang valid, metodologi harus di landasi filsafat Ilmu.
Filsafat Ilmu dan penelitian
Ontologi Epistemologi Aksiologi
- Membahas apa yang ingin diketahui - Suatu pengkajian mengenai teori tentang ada
- Objek yang di telaah Ilmu adalah sesuatu yang berberada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang di uji indra manusia yang berorientasi empiris
- Kuantitatif dan kualitatif
- Membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan - Ilmu pengetahuan diperoleh melalui proses metode
- Hakekat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan dengan sifat terbuka dan menjunjung tinggi kebenaran diatas segala-galanya
- Metode ilmiah, logico hypotico verivicative dan deducto hypotetici verivicative
- Membahas tentang manfaat yang di peroleh manusia dari pengetahuan yang didapatkanya - Analisa tentang penerapan hasil-hasil temuan Ilmu pengetahuan

[1] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Raja Grafindo Persada. Jakarta 2004, hal: 17
[2] EM Zul Fajri. Ratu Aprilia Senja. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Difa Publiher, hal: 565
[3] Ibid, hal: 803
[4] Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu dakwa, perpustakaan Nasional 1997, hal: 1
[5] Ahmad Tafsir. Filsafat Umum. PT  Remaja Rosda Karya Bandung, 2003, hal: 28-29
[6] Ibid, hal: 23
[7] Mohammad Noor Syam. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Usaha Nasional. Surabaya, 1983, hal: 28-35
[8] Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Filsafat, Pustaka Sinar Harapan, 2001,hal: 33
[9] Tim Dosen filsafat Ilmu Fakultas filsafat UGM. Filsafat Ilmu, Liberty. Yogyakarta, 2001, hal: 45-46
[10] Jujun S. Sumantri, Opcit, hal: 119
[11] Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu. Raja Findo Persada. Jakarta 2004, hal: 20
[12] Wardi Bachtiar. Metodologi Penelitian Ilmu Dakwa, Pustakaan Nasional 1997, hal: 3
 

Sabtu, 12 September 2015

HAKIKAT ALAT/MEDIA DAN EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan berakar dari perkataan didik yang berarti pelihara, ajar dan jaga. Setelah dijadikan analogi, pendidikan boleh diuraikan sebagai satu proses yang berterusan untuk menjaga dan memelihara pembesaran tubuh/badan dan pertumbuhan bakat manusia dengan rapi supaya dapat melahirkan orang yang berilmu, baik tingkah laku dan dapat mengekalkan nilai-nilai budaya dikalangan masyarakat. [1]
Dalam pendidikan Islam, dikenal kata ta’lim, tarbiyah dan ta’dib yang merujuk kepada pendidikan. Kata ‘tarbiyah’ adalah kata yang sering digunakan dalam dunia akdemik dan ilmiah dalam suatu pendidikan. Ini adalah karena perkataan ‘tarbiyah’ menurut sarjana pendidikan Islam berasal dari “rabb” yang menunjuk kepada Allah SWT sebagai pendidik umat manusia. Menurut Marimba, pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukuran-ukuran Islam. Muhammad Quthb memberi pengertian pendidikan Islam, sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah Idi, sebagai usaha untuk melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia, baik dari segi jasmani maupun rohani, baik dari kehidupan fisik maupun mentalnya, dalam melaksanakan kegiatannya di muka bumi ini.
Untuk dapat melakukan proses pendidikan Islam dengan efektif dan efisien diperlukan media pendidikan Islam. Tanpa menggunakan media, maka pendidikan Islam tidak akan berhasil sepenuhnya. Meskipun demikian kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa biasanya seorang pendidik lebih memilih menggunakan satu media dalam pembelajarannya setiap hari dengan berbagai alasan, antara lain: ia sudah merasa akrab dengan media tersebut, ia merasa bahwa media yang dipilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik daripada dirinya sendiri, atau media yang dipilihnya dapat menarik minat dan perhatian siswa.  
Definisi alat berarti barang ataupun sesuatu yang dipakai untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan media berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak dari medium yang secara harifah berarti perantara atau pengantar. Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar.
Yang menjadi ruang lingkup dalam pembahasan mengenai hakikat alat/media dalam pendidikan Islam adalah: Pengertian Metode, Dasar Metode Pendidikan Islam, Prinsip Metode Pendidikan Islam, Alat/Media Pendidikan, Jenis Alat/ Media Pendidikan Islam. [2]
Dalam pendidikan Islam, tujuan merupakan sasaran ideal yang hendak dicapai. Dengan demikian kurikulum yang telah dirancang, disusun dan diproses dengan maksimal diupayakan untuk mencapai tujuan tersebut. Tentu saja terkait dengan hal ini pendidikan Islam mempunyai tugas yang berat, salah satunya adalah mengembangkan potensi fitrah manusia. Untuk mengetahui kapasitas, kualitas, peserta didik perlu diadakan evaluasi. Dalam evaluasi perlu adanya teknik, dan sasaran untuk menuju keberhasilan dalam proses belajar mengajar dan penddidikan secara keseluruhan.
Evaluasi yang baik haruslah didasarkan atas tujuan yang ditetapkan berdasarkan perencanaan sebelumnya dan kemudian benar-benar diusahakan oleh guru untuk peserta didik. Betapapun baiknya, evaluasi apabila tidak didasarkan atas tujuan yang telah ditetapkan, tidak akan tercapai sasarannya.
Terkait dengan evaluasi dalam makalah ini akan dibahas tentang pengertian evaluasi pendidikan Islam, tujuan dan fungsi evaluasi pendidikan Islam, prinsip-prinsip evaluasi pendidikan Islam, sistem evaluasi pendidikan Islam dan sasaran evaluasi pendidikan Islam. 
BAB II
PEMBAHASAN
                                                 
A. Hakikat Alat/Media Pendidikan Islam
1.  Pengertian Metode
Kata metode berasal dari bahasa Yunani. Secara etimologi, kata metode berasal dari dua suku perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos jalan atau cara.
Menurut Ahmad Husein, metode adalah : “langkah-langkah yang diambil seorang pendidik guna membantu peserta didik merealisasikan tujuan tertentu”. Dalam bahasa Arab, metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pendidikan, maka langkah tersebut harus diwujudkan dalam bentuk proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian peserta didik. Dengan demikian dapat dipahami bahwa metode merupakan cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.
2. Dasar Metode Pendidikan Islam
Dalam penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau sosial peserta didik dan pendidik sendiri. Untuk itu, dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dalam hal ini tidak terlepas dari unsur agamis dan biologis.
Dasar Agamis
Pelaksanaan dasar metode pendidikan Islam dalam prakteknya merupakan interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam sebuah proses pembelajaran. Dalam hal ini, agama merupakan salah satu dasar metode pendidikan dan pengajaran oleh pendidik. Al-Qur’an dan Al-Hadits tidak bisa terlepas dari pelaksanan metode pendidikan Islam.
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa metode pendidikan Islam berdasarkan pada agama. Sementara agama Islam merujuk pada sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Dasar Biologis
Perkembangan biologis manusia mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Semakin dinamis perkembangan biologis seseorang maka dengan sendirinya makin meningkat pula daya intelektualnya. Dalam memberikan pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan Islam, seorang pendidik harus memperhatikan perkembangan peserta didik.
3. Prinsip Metode Pendidikan Islam
Dalam penggunaannya, metode pendidikan Islam perlu memperhatikan prinsip-prinsip yang mampu memberikan pengarahan dan petunjuk tentang pelaksanaan metode tersebut. Diantara prinsip-prinsip dalam memilih metode pendidikan adalah:
a.        Prinsip Kemudahan
Menggunakan sebuah cara yang memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan sekaligus mengidentifikasikan dirinya dengan nilai-nilai ilmu pengetahuan dan keterampilan.
b.        Prinsip Berkesinambungan
Dalam menggunakan metode pendidikan, seorang pendidik perlu memperhatikan kesinambungan pelaksanaan pemberian materi. Jangan hanya karena mengejar kurikulum pendidik menggunakan metode yang meloncat-loncat yang pada gilirannya akan memberikan pengaruh yang negatif pada peserta didik, karena peserta didik merasa dibohongi oleh pendidik.
c.         Fleksibel dan Dinamis
Metode pendidikan Islam harus digunakan dengan prinsip fleksibel dan dinamis. Sebab, dengan kelenturan dan kedinamisan metode tersebut, pemakai metode tidak hanya monoton dengan satu metode saja.
4. Alat/Media Pendidikan
Dari beberapa literatur, tidak terdapat perbedaan pengertian antara alat dan media pendidikan, Zakiah Darajat menyebutkan pengertian alat pendidikan sama dengan media pendidikan sebagai sarana pendidikan. [3]
Terminologi alat berarti barang sesuatu yang dipakai untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan media berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.
Dalam hal ini batasan makna media pendidikan dirumuskan pada beberapa batasan. Diantaranya, Gegne menyebutkan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar.
Sementara Brigs mendefinisikan media sebagai salah satu bentuk alat fisik yang dapat menyajikan pesan yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Dari dua definisi mengacu pada penggunaan alat yang berupa benda untuk membantu proses penyampaian pesan.
5. Jenis Alat/Media Pendidikan Islam
Adapun Sutari Imam Barnadib mengemukakan bahwa alat pendidikan ialah tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Alat pendidikan ternyata mencangkup pengertian yang luas. Yang termasuk didalamnya berupa benda, seperti kelas, perlengkapan belajar dan yang sejenisnya. Alat ini disebut juga dengan alat peraga. Sedangkan yang merupakan alat bukan benda ialah dapat berupa situasi pergaulan, bimbingan perintah, ganjaran teguran, anjuran serta tugas ancaman maupun hukuman.
Media pendidikan/alat pendidikan yang bersifat non materi memiliki sifat yang abstrak dan hanya dapat diwujudkan melalui perbuatan dan tingkah laku seorang pendidik terhadap anak didiknya. Diantara media dan sumber belajar yang termasuk kedalam katagori ini adalah : keteladanan, perintah, tingkah laku, ganjaran dan hukuman.
a)    Keteladanan
Pada umumnya manusia memerlukan figur identifikasi yang dapat membimbing manusia kearah kebenaran. Untuk memenuhi keinginan tersebut itu Alla­h mengutus nabi Muhammad SAW menjadi suri tauladan bagi segenap manusia dan wajib diikuti oleh umatnya. Untuk menjadi sosok yang ditauladani, Allah SWT memerintahkan manusia termasuk pendidik selaku khalifah fi al-ardh mengerjakan perintah Allah SWT dan Rasulnya sebelum mengajarkannya kepada orang yang akan dipimpin.
b)   Perintah dan Larangan
Seorang muslim diberi oleh Allah SWT tugas dan tanggungjawab melaksanakan “amar ma’ruf nahi munkar”. Amar ma’ruf nahi munkar merupakan alat/media dalam pendidikan. Perintah adalah suatu keharusan untuk berbuat atau melaksanakan sesuatu.
Suatu perintah akan mudah ditaati oleh peserta didik jika pendidik sendiri menaati peraturan-peraturan, atau apa yang dilakukan sipendidik sudah dimiliki atau menjadi pedoman pula bagi hidup si pendidik.
Sementara larangan dikeluarkan apabila si peserta didik melakukan sesuatu yang tidak baik atau membahayakan dirinya. Larangan sebenarnya sama dengan perintah. Kalau perintah merupakan suatu keharusan untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat, maka larangan adalah keharusan untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan.
c)    Ganjaran dan Hukuman
Maksud ganjaran dalam konteks ini adalah memberikan sesuatu yang menyenangkan (penghargaan) dan dijadikan sebuah hadiah bagi peserta didik yang berprestasi, baik dalam belajar maupun sikap perilaku. Pendidik dalam pendidikan Islam yang tidak memberikan ganjaran kepada peserta didik yang telah memperoleh prestasi sebagai hasil belajar, maka dapat diartikan secara implisit bahwa pendidik belum memanfaatkan alat pengajaran seoptimalnya.
d)   Hukuman
Selain ganjaran, hukuman juga merupakan alat/media pendidkan. Dalam Islam hukuman disebut dengan iqab. Abdurahman an-nahkawi menyebutkan bahwa tahrib yang berarti ancaman atau intimidasi melalui hukuman karena melakukan sesuatu yang dilarang.
Sejak dahulu, hukuman dianggap sebagai alat/media yang istimewa kedudukannya, sehingga hukuman itu diterapkan tidak hanya dibidang pengadilan raja, tetapi juga diterapkan pada semua bidang, termasuk bidang pendidikan.
B.  Hakikat Evaluasi Pendidikan Islam
1.  Evaluasi
a)  Pengertian Hakikat
Berbicara tentang hakikat berarti berbicara tentang teori keberadaan, dan hasil berpikir tentang segala sesuatu yang ada dan mungkin ada telah terkumpul banyak. Nama lain  untuk  teori  hakikat  ialah  teori  tentang keadaan,  demikian  pandangan Langevel sebagaimana  dikutip  Ahmad Tafsir.
Hakikat adalah realitas, yakni ke-real-an; “real” artinya kenyataan yang sebenarnya. Hakekat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah. Suatu pengandaian, bahwa pada hakekat-Nya pemerintahan demokratis  menghargai  pendapat  rakyat.  Mungkin orang pernah menyaksikan pemerintahan itu melakukan tindakan sewenang-wenang, tidak menghargai  pendapat rakyat. Itu hanyalah keadaan sementara bukan hakiki. Yang hakiki  pemerintahan itu demokratis. Melihat suatu obyek fatamorgana, ia tidak real  karena tidak ada. Karena itu fatamorgana itu bukan hakikat.
Bahasa  lain  dari  teori  hakekat  adalah  ontologi.  Ontologi  dalam bahasa Inggris “ontology” berakar dari bahasa Yunani “on” berarti ada, dan  ontos berarti keberadan. Sedangkan “logos” berarti pemikiran.   Jadi ontologi   adalah  pemikiran  mengenai  yang  ada  dan  keberadaannya. Sedangkan  menurut  A.R.  Lacey  sebagaimana  dikutip  Suparlan  bahwa ontologi  diartikan   sebagai  “a  central  part  of  metaphisics”. Sedangkan metafisika diartikan sebagai “that which comes after ‘physics’ yakni hal yang hadir setelah fisika. Dalam metafisika, pada dasarnya dipersoalkan mengenai substansi atau hakekat yang ada.
b)   Pengertian Evaluasi
Menurut bahasa evaluasi berasal dari bahasa Inggris, “evaluation”, yang berarti penilaian atau penaksiran. Sedangkan menurut pengertian istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur memperoleh kesimpulan. Dengan demikian secara sederhana dapat disimpulkan bahwa evaluasi pendidikan adalah penilaian untuk mengetahui proses pendidikan dan komponen-komponennya dengan instrumen yang terukur. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 ayat 21 dijelaskan bahwa “evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan”.
c)  Jenis-Jenis Evaluasi:
Selanjutnya jenis evaluasi dapat dibedakan sebagai berikut:
1.    Jenis evaluasi berdasarkan tujuan dibedakan atas lima jenis evaluasi, yaitu:
a)  Evaluasi diagnostik, adalah evaluasi yang ditujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.
b)  Evaluasi selektif adalah adalah evaluasi yang digunakan untuk memilih siwa yang paling tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
c)  Evaluasi penempatan adalah adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa.
d)  Evaluasi formatif adalah adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar dan mengajar.
e)  Evaluasi sumatif adalah adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan belajar siswa.
2.       Jenis evaluasi berdasarkan sasaran, yaitu:
a) Evaluasi konteks yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik mengenai rasional tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul dalam perencanaan.
b) Evaluasi input, evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber daya maupun strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan.
c) Evaluasi proses, evaluasi yang ditujukan untuk melihat proses pelaksanaan, baik mengenai kelancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor pendukung dan faktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan dan sejenisnya.
d) Evaluasi hasil atau produk, evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi, ditingkatkan atau dihentikan.
e)  Evaluasi outcome atau lulusan, evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar siswa lebih lanjut, yakni evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.
3.         Jenis evaluasi berdasarkan lingkup kegiatan pembelajaran, yaitu:
a) Evaluasi program pembelajaran, yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar, aspek-aspek program pembelajaran yang lain.
b) Evaluasi proses pembelajaran, yang mencakup kesesuaian antara proses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang ditetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
c) Evaluasi hasil pembelajaran, mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.
4.         Jenis evaluasi berdasarkan subjek dan objek, yaitu:
1) Berdasarkan Subjek
a)  Evaluasi internal, evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.
b)  Evaluasi eksternal, evaluasi yang dilakukan oleh orang
luar sekolah sebagai evaluator, misalnya orangtua, masyarakat.
2) Berdasarkan Objek
a)  Evaluasi input, evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan.
b) Evaluasi transformasi, evaluasi terhadap unsur-unsur transformasi proses pembelajaran antara lain materi, media, metode dan lain-lain.
c)    Evaluasi output, evaluasi terhadap lulusan yang mengacu pada ketercapaian hasil pembelajaran.
C.    Hakikat Evaluasi Dalam Filsafat Pendidikan Islam
Penilaian dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran.  Penilaian dapat dilakukan baik dalam suasana formal maupun informal, di dalam kelas, di luar kelas, terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar  atau  dilakukan  pada  waktu yang  khusus.  Penilaian  dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti tes tertulis, penilaian hasil kerja siswa melalui kumpulan hasil  kerja  (karya) siswa (portofolio), dan penilaian unjuk kerja (perfomance) siswa.
Ajaran Islam yang menaruh perhatian yang besar terhadap evaluasi. Allah  SWT dalam berbagai firman-Nya dalam kitab suci Al-Qur’an menginformasikan bahwa, pekerjaan evaluasi merupakan suatu tugas penting dalam  rangkaian  proses pendidikan yang telah dilaksanakan oleh pendidik. Abuddin Nata mengutip (QS Al-Baqarah/2: 31-32):
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسۡمَآءِ هَـٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (٣١) قَالُواْ سُبۡحَـٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآ‌ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ (٣٢)
Artinya : “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al Baqarah:31).
Artinya : “Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Baqarah:32)
Sebenarnya terjemahan Hakim dengan Maha Bijaksana kurang tepat, Karena arti Hakim ialah: yang mempunyai hikmah. Hikmah ialah penciptaan dan penggunaan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. Disini diartikan dengan Maha Bijaksana Karena dianggap arti tersebut hampir mendekati arti Hakim. Menyebut empat hal yang dapat diketahui. Pertama, Allah SWT bertindak sebagai guru yang memberikan pelajaran kepada Nabi Adam as. Kedua, para malaikat tidak memperoleh pengajaran sebagaimana  yang diterima Nabi Adam, mereka tidak dapat menyebutkan nama-nama benda.  Ketiga, Allah SWT meminta kepada  Nabi Adam  agar  mendemonstrasikan ajaran  yang  diterimanya. Keempat, materi evaluasi, haruslah materi yang pernah diajarkannya.

BAB III
PENUTUP
 
A. Kesimpulan Tentang Alat/Media Pendidikan Islam
Menurut Ahmad Husein, metode adalah : “ langkah-langkah yang diambil seorang pendidik guna membantu peserta didik merealisasikan tujuan tertentu”.
Maka langkah tersebut harus diwujudkan dalam bentuk proses pendidikan dalam rangka pembentukan keperibadian peserta didik. Dengan demikian dapat dipahami bahwa metode merupakan cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.
Metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dalam hal ini tidak terlepas dari unsur agamis dan biologis.
Diantara prinsip-prinsip dalam memilih metode pendidikan adalah:
a) Prinsip Kemudahan
b) Prinsip Berkesinambungan
c) Fleksibel dan Dinamis
Zakiah Darajat menyebutkan pengertian alat pendidikan sama dengan media pendidikan sebagai sarana pendidikan.
Adapun Sutari Imam Barnadib mengemukakan bahwa alat pendidikan ialah tindakan atau perbutan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Alat pendidikan ternyata mencangkup pengertian yang luas. Yang termasuk didalamnya berupa benda, seperti kelas, perlengkapan belajar dan yang sejenisnya. Alat ini disebut juga dengan alat peraga. Sedangkan yang merupakan alat bukan benda ialah dapat berupa situasi pergaulan, bimbingan perintah, ganjaran teguran, anjuran serta tugas ancaman maupun hukuman.
B. Kesimpulan Tentang Evaluasi Pendidikan Islam
1. Hakikat evaluasi pendidikan Islam adalah konsep berpikir tentang penilaian  dalam proses  belajar  mengajar  yang  mempunyai tujuan  dan fungsi untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau tidaknya tujuan pendidikan Islam  (dengan seluruh komponen yang terlibat di dalamnya) dalam mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan.
2.  Dalam dunia pendidikan, khususnya dunia persekolahan, penilaian mempunyai makna bagi siswa, guru dan sekolah itu sendiri. Bagi siswa dua kemungkinan, memuaskan dan tidak memuaskan, sedangkan bagi guru akan dapat mengetahui siswa-siswa mana yang sudah menguasai atau yang belum menguasai pelajarannya. Demikian juga penggunaan metode yang tepat. Jika sebahagian besar dari siswa memperoleh angka jelek, maka boleh jadi penyebabnya adalah pendekatan atau metode yang kurang tepat. Sedangkan bagi sekolah adalah menciptakan kondisi belajar sebagai cermin sekolah yang berkualitas.
3. Baik tujuan umum maupun tujuan khusus dari evaluasi pendidikan adalah merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan. Tanpa adanya evaluasi maka tidak mungkin timbul kegairahan atau rangsangan pada diri peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasinya masing-masing.
4.Evaluasi sebagai salah satu instrument pendidikan Islam memiliki peran yang sangat penting dalam mengukur keberhasilan suatu program pendidikan yang telah dijalankan oleh pendidik terhadap peserta didiknya.
5. Penilaian terhadap peserta didik tidak hanya meliputi aspek penilaian pada hasil ujian dari materi yang diberikan, tetapi juga penilaian terhadap moral peserta didik.
6. Prinsip-prinsip evaluasi pendidikan Islam harus sejalan dengan ajaran Islam yang selalu mengarah kepada akhlaq mulia. Dan di antara sifat orang yang berakhlaq mulia adalah obyektif, jujur dan mengatakan sesuatu apa adanya.  
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
Asnawir dan  M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
Azra, Azyumardi, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.
Darajat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1984.
Departemen Agama RI.2007.Al-Qur'an dan Terjemahannya Al-Jumanatul 'Ali Seuntai Mutiara Yang Maha Luhur.Bandung:J-Art.
Djamarah, Syaiful Bahri, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.
Djamarah, Syaiful Bahri, Guru Dan Anak Dalam Interaksi Edukatif :Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis, Jakarta: Rineka Cipta, 2005.
Fatkhurrohman, Pupuh, dan M.Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar:Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, Bandung: PT Refika Aditama, 2007.
Idi, Abdullah, dan Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
Marimba, Ahmad D, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al Maarif, 1980.
Munardji, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bina Ilmu, 2004.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006.
Sujana, Nana, Media Pengajaran, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005.
Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta, 1997.
Suwarna, et, al, Pengajaran Mikro: Pendekatan Praktis dalam Menyiapkan Pendidik Profesional, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005.



[1] Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
[2] Asnawir dan  M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
[3] Darajat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1984.

Sumber : http://najihblogspot.blogspot.co.id/2015/02/tugas-makalah-filsafat-pendidikan-islam.html