Tampilkan postingan dengan label ilmu manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu manajemen. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2015

MANAJEMEN KONFLIK DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
Tugas ini dibuat guna memenuhi tugas matakuliah
Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Hendro Widodo, M.Pd.




Di susun oleh:
KELOMPOK 7
1.      Mohamad Sholikin            (09470107)
2.      Tri Pariyatun                     (09470111)
3.      Nur Setyaningsih              (09470112)
4.      Sri Hartati                                     (09470114)
5.      Nur Fitriana                       (09470116)
KI – C

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011




PENDAHULUAN
A.    Latar belakang masalah
Manajemen didalam dunia pendidikan ataupun bisnis memiliki peran penting untuk mengantarkan kemajuan organisasi. Menurut Nanang Fatah dalam bukunya Landasan Manajemen Pendidikan, teori manajemen mempunyai peran atau membantu menjelaskan perilaku organisasi yang berkaitan dengan motivasi, produktivitas, dan kepuasan (satisfaction). Dengan demikian, manajemen merupakan factor dominan dalam kemajuan organisasi.[1]
Sebagai manusia sosial yang berada dalam lingkungan bermasyarakat dan berorganisasi tentunya pasti akan mengalami interaksi. Dalam proses interaksi ini manusia selalu dihadapkan dengan konflik-konflik yang disebabkan oleh berbagai sumber. Manajemen  merupakan pengorganisasian yang melibatkan banyak orang dan bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu, tidak jarang di dalam organisasi terjadi perbedaan pandangan, ketidakcocokan, serta pertentangan yang terkadang menimbulkan banyak konflik. Dalam organisasi manapun terdapat konflik, mulai dari konflik kecil hingga konflik besar, baik secara tersembunyi maupun yang muncul secara terang-terangan. Begitu pula yang terjadi didalam manajemen lembaga pendidikan islam.
Untuk lebih jelasnya, dalam makalah ini kami akan sedikit memaparkan mengenai problematika manajemen konflik didalam lembaga pesantren.
B.     Rumusan masalah
Dari uraian diatas dapat ditarik pertanyaan:
1.      Apa yang dimaksud dengan manajemen konflik dalam lembaga pendidikan islam?
2.      Problematika apa yang terdapat di dalam manajemen konflik terutama di dalam lembaga pesantren ?
PEMBAHASAN
A.    Makna Manajemen, Konflik dan Manajemen Konflik
1.      Pengertian Manajemen
Manajemen adalah:
a.       Manajemen dalam arti luas : menunjuk pada rangkaian kegiatan , dari perencanaan akan dilaksanakannnya kegiatan sampai penilaiannya.
b.      Manajemen dalam arti sempit :  terbatas pada inti kegiatan nyata, mengatur atau mengelola kelancaran kegiatan, mengatur kecekatan personal yang melaksanakan, pengaturan sarana pendukung, pengaturan dana, dan lain-lain, tetapi masih terkait dengan kegiatan nyata yang sedang berlangsung.
c.       “Manajemen” dari bahasa Inggris “ Administration”, sebagai “the management of excecutive affairs”.  Dalam pengertian ini,  manajemen bukan hanya pengaturan yang terkait dengan  pekerjaan tulis-menulis, tetapi pengaturan dan arti luas.[2]
Di bawah ini terdapat beberapa pengertian mengenai manajemen, diantaranya:
a.       Menurut The Liang Gie dalam buku Manajemen Pendidikan  mengatakan: manajemen sebagai seni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pngontrolan terhadap sumber daya manusia dan alam untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. [3]
b.      Dalam kurikulum 1975 disebutkan bahwa manajemen adalah segala usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber-sumber secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidika.
c.       Menurut Muljani A. Nurhadi, menyatakan bahwa manajemen merupakan suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang brupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya, agar efektif dan efisien.[4]
Menurut hemat manajemen dapat juga diartikan ke dalam tiga bagian yaitu usaha kerja sama, dalam sekelompok orang, dan dalam menentukan tujuan tertentu yang ditetapkan sebelumnya.
2.      Pengertian Konflik
Ditinjau dari akar katanya, istilah konfllik berasal dari kata configrere atau conficium,  yang artinya benturan menunjuk kepada semua benturan, tabrakan, ketidaksesuaian, pertentangan, oposisi, dan interaksi-interaksi yang bersifat antagonis. Beberapa pendapat menyatakan bahwa:
a.       Afzalur Rahim menyatakan bahwa konflik dapat didefinisikan sebagai keadaan interaktif yang termanifestasikan kedalam sikap ketidakcocokan, pertentangan, atau perbedaan dengan atau antara entitas social, seperti individu, kelompok, atau organisasi.
b.      Wahyosumidjo yang mendefinisikan konflik secara lebih simple, yaitu segala macam bentuk hubungan manusia yang mengandung sifat yang berlawanan.[5]
Menurut hemat kami, dari kedua pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen konflik merupakan suatu langkah yang diambil oleh manajer untuk mengendalikan konflik yang terjadi sehingga tujuan pendidikan dapat terwujud secara optimal.

B.     Penyebab-Penyebab Terjadi Konflik
1.      Adanya perbedaan pendapat yang masing-masing merasa paling benar sehingga menimbulkan ketegangan.
2.      Adanya salah paham.
3.      Salah satu atau dua pihak merasa dirugikan.
4.      Terlalu sensitive.
Konflik yang terjadi di lembaga-lembaga pada umumnya dikarenakan:
1.      Adanya perbedaan persepsi terhadap suatu pekerjaan,
2.      Perbedaan sifat dan karakteristik yang ada pada setiap individu,
3.      Terjadinya salah paham dalam komunikasi,
4.      Perbedaan nilai, pandangan dan tugas,
5.      Tidak menyetujui terhadap butir-butir yang terdapat dalam hasil keputusan,
6.      Adanya frustasi dan kejengkelan terkait dengan masalah pribadi yang dialaminya,
7.      Berkaitan dengan pertanggungjawaban dalam kerja team,
8.      Persaingan memperebutkan status/promosi, berkurangnya sumber-sumber tertentu.
C.    Jenis-Jenis Manajemen Konflik
Dalam manajemen knflik memiliki jenis atau bentuk konflik yang sering terjadi dilapangan baik dari segi pelaku ataupun dari perannya. Menurut G. Owens menyebutkan bahwa konflik dapat terjadi antara seseorang atau unit-unit social yang disebut dengan konflik interpersonal, intergroup, dan internasional. Adapun tingkatan dari manajemen konflik itu sendiri terdiri dari:
1.      Konflik interpersonal, suatu konflik yang terdiri didalam diri seseorang.
2.      Konflik intergroup, suatu konflik yang terjadi antara dua individu atau lebih.
3.      Konflik intragroup, konflik antara dua atau beberapa orang dalam satu group.
4.      Konflik intergroup, konflik yang terjadai antar kelompok.
5.      Konflik intraorganisasi konflik yang terjadi antarunit dalam organisasi.
6.      Konflik interorganisasi, yaitu konflik yang terjadi aantar organisasi.[6]
Jenis dan bentuk konflik itu memiliki implikasi dan konsikuensi bagi manajer lembaga pendidikan islam. Hal ini karena mamajer memiliki peran yang fungsional dalam mengelola konflik dan diharapkan mampu mengelolanya sebaik mungkin sehingga menghasilkan kepuasan bagi semua pihak, terutama pihak yang berkonflik.
Adapun kegiatan-kegiatan atau tahapan-tahapan yang perlu dilakukan dalam manajemen konflik meliputi:
1.      Perencanaan analisis konflik,
2.      Penilaian konflik, dan
3.      Pemecahan konflik.
D.    Problematika Manajemen Konflik dalam Pendidikan Islam di Lingkungan Pesantren
Di dalam sebuah konflik dapat menimbulkan beberapa kemungkinan mengenai akibat-akibat atau resiko tertentu dan bahkan bisa terdapat kemungkinan menimbulkan hal-hal yang positif. Konflik yang dapat menguntungkan kegiatan organisasi atau perorangan apabila hal tersebut dapat merangsang timbulnya gagasan-gagasan baru untuk meningkat efisiensi dan efektivitas kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah, dan menjaga agar kelompok selalu memperdulikan berbagai kepentingan anggota. Oleh karena itu, kemunculan sebuah konflik timbul tergantung pada manajemennya sendiri.
Seperti halnya yang diungkapkan oleh G.W. Alloprt yang dikutip oleh Hanson, menyatakan bahwa semakin banyak sarjana social yang memaparkan bahwa konflik itu sendiri bukan kejahatan, tetapi lebih merupakan suatu gejala yang memiliki pengaruh-pengaruh konstruktif atau destruktif, tergantung pada manajemennya.[7]
Ada beberapa pandangan dalam konflik yang menimbulkan perbedaan sehingga berpengaruh ganda konflik, diantaranya:
a.       Pandangan pertama menganggap bahwa konflik merupakan suatu gejala yang membahayakan dan pertanda instabilitas organisasi/lembaga.
b.      Pandangan kedua beranggapan bahwa konflik itu menunjukkan adanya dinamika di dalam organisasi/lembaga, yang bisa mempertahankan pada kemajuan.[8]
Dari kedua pandangan diatas terdapat usaha memacu kemajuan sebagai respons positif terhadap adanya konflik tersebut. Dengan demikian, dengan adanya kedua pandangan tersebut dapat disatukan dengan sebuah kesepakatan yaitu adanya manajemen konflik.
Konflik itu muncul karena dipicu oleh beberapa sumber. MenurutWahjosumidjo yang dikutip oleh Mujamil Qomar dalam bukunya yang berjudul manajemen pendidikan islam menyebutkan bahwa” konflik itu sendiri terjadi selalu bersumber pada manusia dan perilakunya, disamping pada struktur organisasi dan komunikasi”. Khusus didalam lembaga pesantren, laporan hasil penelitian dari Hamdan Farchan dan Syarifudin menyatakan bahwa akar konflik didunia pesantren berdasarkan dari konflik keluarga, konflik politik, perebutan pengakuan umat, feodalisme, dan manajemen.[9]
Sebagaimana yang terjadi didalam pesantren terdapat beberapa sumber konflik yang penyebabnya bersumber pada manusia. Hal ini terjadi akibat dari tingkah laku manusia yang kurang sehat sehingga masalah yang sederhana hmenjadi besar karena pengaruh dari berbagai provokasi. Pemahaman “konflik” di lembaga pesantren selama ini lebih banyak diartikan secara tradisional, yang menganggap bahwa konflik adalah hal yang tidak perlu dan bahwasanya ia merupakan suatu yang merugikan. Dengan berlangsungnya waktu sudah seharusnya sikap orang tentang konflik dalam pesantren mengalami perubahan. Pandangan yang berlaku sekarang adalah bahwasanya konflik-konflik di dalam pesantren merupakan hal yang tidak dapat dihindari, dan bahkan konflik-konflik itu perlu, terlepas dari bagaimana lembaga tersebut dimanaj, didesain dan dioperasikan.
Kiranya tidak akan ada yang menyanggah kebenaran pendapat yang menyatakan bahwa agar evektifitas lembaga dapat dipertahankan dan kekompakan ditingkatkan, konflik yang timbul baik pada tingkat individual, tingkat kelompok dan antar kelompok harus diselesaikan. Penyelesaian dimaksud tidak harus berarti bahwa konflik dikurangi atau dihilangkan sama sekali, melainkan dikelola (dimanaj) sedemikian rupa sehingga meningkatkan efektivitas individu, kelompok dan organisasi.[10]
Menurut Mastuhu (lihat Manfred Oepen, 1988;280-288) ada 10 prinsip yang berlaku pada pendidikan di pesantren. Kesepuluh prinsip itu menggambarkan kira-kira 10 ciri utama tujuan pendidikan pesantren, antara lain sebagai berikut:
  1. Memiliki kebijaksanaan menurut ajaran agama Islam.
  2. Memiliki kebebasan yang terpimpin.
  3. Berkemampuan mengatur diri sendiri.
  4. Memiliki rasa kebersamaan yang tinggi.
  5. Menghormati orang tua dan guru.
  6. Cinta kepada Ilmu.
  7. Mandiri. Jika mengatur diri sendiri kita sebut otonomi, maka mandiri yang dimaksud adalah berdiri atas kekuatan sendiri.
  8. Kesederhanaan.  Dilihat secara lahiriah sederhana memang mirip dengan miskin. Padahal yang dimaksud dengan sederhana di pesantren adalah sikap hidup, yaitu sikap memandang sesuatu, terutama materi, secara wajar, proporsional, dan fungsional.[11]
Secara lebih tegas hendak kita mengusulkan agar dirancang kerjasama yang erat antara lembaga pendidikan sekolah dengan pesantren. Secara lebih tegas diusulkan juga hendaknya para pengeritik kiai dan atau pesantren berpikir lebih menegara bahkan lebih mendunia; dengan cara berpikir seperti itu orang dapat memperoleh kemampuan mendahulukan yang penting dan membelakangkan yang kurang penting. Dalam hal ini rekayasa budaya yang Pancasialis lebih luas dampak positifnya ketimbang menghilangkan hal-hal yang dianggap oleh sebagian orang sebagai bid’ah.[12]
Dalam lingkungan pesantren ternyata memiliki tahapan tersendiri dalam menyelesaikan konflik yang tidak lazim terjadai dilembaga pendidikan lainnya. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penyelesaian konflik  melibatkan kultur yang telah mentradisi. Hal ini karena bagi mereka tradisi merupakan jembatan dalam meminimalisasi konflik yang terjadi diantara mereka. [13]
E.     Kelemahan dan Kelebihan
Didalam menejemen konflik khususnya di lembaga pesantren terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan. Adapun kelebihannya meliputi adanya kegigihan dan kerjasama antar pihak yang terkait terjadi kompromi dan  kolaborasi yang bertujuan untuk pemecahan masalah yang paling efektif. Sedangkan kekurangan didalam lembaga pesantren suatu pemecahan masalah masih bersifat tradisional karena tradisi bagi mereka memiliki posisi yang sangat kuat dan fungsi yang jelas termasuk sebagai jembatan dalam meminimalisasi konflik yang terjadi. Hal ini menyebabkan adanya pandangan buruk atau ketidaklaziman dilembaga pendidikan lainnya.

















PENUTUP
Kesimpulan
Manajemen konflik merupakan suatu langkah yang diambil oleh manajer untuk mengendalikan konflik yang terjadi sehingga tujuan pendidikan dapat terwujud secara optimal. Konflik yang terjadi dikarenakan adanya perbedaan pendapat yang masing-masing merasa paling benar sehingga menimbulkan ketegangan, adanya salah paham, salah satu atau dua pihak merasa dirugikan dan terlalu sensitive. Konflik dapat terjadi antara seseorang atau unit-unit social yang disebut dengan konflik interpersonal, intergroup, dan internasional. Konflik dapat menguntungkan kegiatan organisasi atau perorangan apabila dapat merangsang timbulnya gagasan-gagasan baru untuk meningkat efisiensi dan efektivitas kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah, dan menjaga agar kelompok selalu memperdulikan berbagai kepentingan anggota. Konflik memiliki dampak positif tergantung manajemennya sendiri.



















DAFTAR PUSTAKA
Mulyono. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan . Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2009.
Mustafidin, Ahmad.”Manajemen Konflik Relevansinya Dengan Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam (Studi Kasus Pesantren Darul Amanah Sukorejo Kendal Jawa Tengah)”. Skripsi S1 . Fakultas Tarbiyah, IAIN Walisongo. 2004. 
Qamar, Mujamil. Manajemen Pendidikan Islam . Jakarta: Erlangga. 2007.
Suharsimi Arikunto dkk, Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media. 2009.
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan Dalam Presfektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1992.




[1]Mujamil Qamar, Manajemen Pendidikan Islam  (Jakarta: Erlangga 2007). Hal. 3
[2] Suharsimi Arikunto dkk, Manajemen Pendidikan  (Yogyakarta: Aditya Media 2009). Hal. 2
[3]Mulyono, Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan (Yogyakarta: ar-ruzz media 2009). Hal. 17
[4]Suharsimi Arikunto dkk, Manajemen …….. Hal. 3
[5] Mujamil Qamar, Manajemen……hal. 235.
[6] Mujamil Qamar, Manajemen……hal. 237-238
[7] Ibid, hal 235
[8]  Mujamil Qamar, Manajemen……hal. 236
[9] Mujamil Qamar, Manajemen……hal. 237

[10] Ahmad Mustafidin, 2004, ”Manajemen Konflik Relevansinya Dengan Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam (Studi Kasus Pesantren Darul Amanah Sukorejo Kendal Jawa Tengah)”. Skripsi S1 . Fakultas Tarbiyah, IAIN Walisongo.
[11] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Presfektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya 1992). Hal 201
[12] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan …………. Hal 197

Senin, 14 September 2015

MANAJEMEN KONFLIK SEBAGAI UPAYA MEMPERTAHANKAN KEUTUHAN RUMAH TANGGA PERSPEKTIF KIAI PESANTREN DI BONDOWOSO
 Dedi Rahman Hasyim
Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Abstract
Divorce cases in Indonesia are growing each year. certainly the special attention is needed to minimize it. One of way that is can be minimize the divorce rate is the conflict management. Where the various conflicts that dwell in the family can afford permissibility managed well by the parties involved in it so inevitabilities of divorce. This research is going to reach, how is the conflict management implemented in the family of Kiai Pesantren in Bondowoso. In that’s way we learn anything done by them in facing and managing any conflicts that was occurred in their family.
 A.Pendahuluan
Membina rumah tangga menuju sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, jelas tak segampang yang dibayangkan. Membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses. Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah, namun lebih kepada adanya keterampilan mengelola konflik yang terjadi di dalamnya.[1]
Konflik begitu akrab serta tak terhindarkan dalam jalinan kehidupan manusia.[2] Namun tentu saja, tidak seorangpun menginginkan konflik terjadi dalam rumah tangganya. Sebaliknya, dalam hubungan diharapkan keharmonisan dan rasa tentram. Oleh karenanya maka sangat penting dalam rumah tangga untuk membangun komitmen untuk menjaganya tetap utuh.
Sejatinya, kodrat manusia dalam sebuah hubungan adalah menjaga keharmonisan hubungan tersebut. Dari itulah terjadi usaha mengelola konflik yang mengancam keharmonisan jalinan rumah tangga.[3] Hanya saja tidak jarang pasangan suami istri tidak mengetahui bagaimana menanggulangi konflik tersebut.[4]
Pada kenyataannya, konflik dalam rumah tangga selalu muncul.[5] Bagaimanapun bentuk konflik tersebut, kecil ataupun besar. Konflik yang terjadi dalam rumah tangga adakalanya berupa konflik yang teratasi, dan sebagian yang lain konflik yang tidak dapat diatasi sehingga berakhir pada perceraian.
Tercatat dalam rekapitulasi urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen, pada tahun 2011 Pengadilan tinggi Agama (PTA) mencatat perkara perceraian sebesar 86,66 persen, sedangkan perkara lain hanya sebesar 13,44 persen saja.[6] Di Bondowoso, kasus perceraian juga terhitung tinggi. Berdasarkan data yang deperoleh dari Pengadilan Agama Bondowoso, tercatat perceraian yang telah diputus sebanyak 1589 perkara.[7]
Dari data serta hasil wawancara yang penulis lakukan di Pengadilan Agama Bondowoso tersebut menunjukkan bahwa rumah tangga Kiai Pesantren di Bondowoso terhindar dari perceraian.[8] Fakta tersebut memberikan indikasi yang kuat terhadap adanya pengelolaan konflik yang baik di dalam relasi tersebut.
Penelitian ini akan menelisik tentang bagaimana konflik terjadi dalam rumah tangga Kiai Pengasuh Pondok Pesantren di Bondowoso dan bagaimana manajemen konflik mereka terapkan guna mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari konflik serta manajemen konflik yang diaplikasikan dalam rumah tangga Kiai Pesantren di Bondowoso.

B.    Konflik dan Manajemen Konflik: Konsepsi Kajian Epistemologis

Konflik: Istilah konflik merupakan kata kerja yang berasal dari bahasa latin configure, artinya saling memukul. Kemudian diadopsi bahasa inggris menjadi conflict, dan diadopsi bahasa indonesia menjadi konflik.[9] Winardi menyebutkan, Konflik berarti adanya oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi.[10]
Menurut Kilmann & Thomas dalam Luthans, yang dimaksud dengan konflik adalah : “ Suatu kondisi ketidakcocokan obyektif antara nilai-nilai atau tujuan-tujuan, seperti perilaku yang secara sengaja mengganggu upaya pencapaian tujuan, dan secara emosional mengandung suasana permusuhan.[11]”
Dari beberapa paparan di atas maka dapat dipahami bahwa konflik adalah oposisi, pertentangan pendapat, ketidakcocokan obyektif antara dua individu atau lebih tentang nilai, tujuan, kekuasaan, dan sumberdaya yang bersifat langka.
Dalam bentuk konflik, Al-Qur’an memberikan deskripsi tentang konflik sosial dalam dua bentuk. Bentuk pertama adalah konflik potensial, yakni potensi konflik dalam diri manusia. Potensi konflik tersebut dapat terjadi sekalipun pada orang lain yang tidak saling mengenal. Bentuk yang kedua adalah konflik aktual, yakni realitas konflik sosial. Konflik ini merupakan reaksi dari konflik potensial yang diorganisir dan dimobilisasi massa.[12]

Manajemen Konflik: Menurut Robinson, Manajemen konflik adalah tindakan konstruktif yang direncanakan, diorganisasikan, digerakkan, dan dievaluasi secara teratur atas semua usaha demi mengakhiri konflik. manajemen konflik harus dilakukan sejak pertama kali konflik mulai tumbuh. Karena itu, sangat dibutuhkan kemampuan manajemen konflik, antara lain, melacak pelbagai faktor positif pencegahan konflik daripada melacak faktor negatif yang mengancam konflik.[13]

Menurut Criblin dalam Wahyudi, manajemen konflik adalah teknik yang dilakukan untuk mengatur konflik. Dalam pengertian yang hampir sama, manajemen konflik adalah cara dalam menaksir atau memperhitungkan konflik. Hendricks berpendapat manajemen konflik adalah penyelesaian suatu konflik yang dapat dilakukan dengan cara mempersatukan dan mendorong tumbuhnya creative thinking. Mengembangkan alternatif adalah salah satu kekuatan dari gaya integrating.[14]
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa pengertian manajemen konflik adalah macam-macam pengaturan, pengelolaan, atau cara penyelesaian yang efektif untuk menyikapi suatu permasalahan.
Penelitian ini akan menggunakan teori Kenneth W. Thomas dan Rapl H. Kilmann. Mereka mengembangkan taksonomi gaya manajemen konflik berdasarkan dua dimensi: (1) kerja sama pada sumbu horizontal dan (2) keasertifan pada sumbu vertical. Kerjasama adalah upaya orang lain jika menghadapi konflik. Disisi lain, keasertifan adalah upaya orang untuk memuaskan diri sendiri jika menghadapi konflik. Berdasarkan dua dimensi tersebut Thomas dan kilmann mengemukakan lima jenis gaya manajemen konflik. Adapun kelima jenis gaya manajemen konflik tersebut adalah sebagaimana berikut:[15]
  1. 1.Kompetisi (Competiting). Gara manajemen konflik dengan tingkat keasertifantinggi dan tingkat kerjasama rendah. Gaya in merupakan gaya yang berorentasi pada kekuasaan, dimana seseorang akan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk memenangkan konflik dengan diaya lawannya.
  2. 2.Kolaborasi (Collaborating). Gaya manajemen konflik dengan tingkat keasertifan dan kerjasama tinggi. Tujuannya adalah untuk mencari alternatif, dasar bersama, dan sepenuhnya memenuhi harapan kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik.
  3. 3.Kompromi (Compromizing). Gaya amanajemen konflik tengaha atau menengah, di mana tingkat keasertifan dan kerjasama sedang. Dengan menggunakan strategi memberi dan mengambil (give and take), kedua belah pihak yang terlibat konflik mencari alternatif titik tengah yang memuaskan sebagai keinginan mereka.
  4. 4.Menghindar (Avoiding). Gaya manajemen konflik dengan tingkat keasertifan dan kerja sama rendah. Dalam gaya manajemen konflik ini, kedua belah pihak berusaha menghindari konflik. Menurut Thomas dan Kilmann bentuk menghindar tersebut bisa berupa: (a) menjauhkan diri dari pokok masalah; (b) menunda pokok masalah hingga waktu yang tepat; atau (c) menarik diri dari konflik yang mengancam dan merugikan.
  5. 5.Mengakomodasi (Accomodating) gaya manajemen konflik dengan tingkat keasertifan rendah dan tingkat kerjasama tinggi. Seorang mengabaikan kepentingannya sendiri dan berupaya memuaskan kepentingan lawan.

C.    Fenomena Konflik Dalam Rumah Tangga Kiai Pesantren di Bondowoso

1.      Pandangan Kiai Pesantren tentang konflik

Berbagai pandangan yang didapatkan dalam penelitian ini memberikan implikasi yang diantaranya, Pertama: Konflik dapat terjadi dalam rumah tangga yang merupakan lingkup sosial serta terdiri dari lebih dari satu orang anggota. Kedua: Konflik terjadi akibat adanya perbedaan keinginan, perbedaan pandangan, pertentangan, dan ketidak sesuaian. Ketiga: Akan selalu ada objek konflik. Objek tersebut tentu juga beragam.

2.      Penyebeb Terjadinya Konflik Dalam Rumah Tangga Kiai

Temuan dalam penelitian ini menunjukkan ragam faktor penyebab konflik dalam rumah tangga Kiai Pengasuh Pondok Pesantren di Bondowoso, diantaranya, Pertama perbedaan pendapat/argumentasi. Kedua, kecemburuan istri. Ketiga, keadaan ekonomi rumah tangga. Keempat, Faktor eksternal yakni adanya intervensi di luar lingkup rumah tangga itu sendiri. Hal tersebut muncul dari kerabat dekat, keluarga, ataupun masyarakat. 

3.      Bentuk Konflik Dalam Rumah Tangga Kiai Pesantren di Bondowoso

Keempat faktor tersebut berimplikasi pada, Pertama, perdebatan/cekcok. Kedua, terjadinya pertengkaran. Ketiga, tidak saling tegur dengan pasangan. 

4.      Dampak Konflik Dalam Rumah Tangga Kiai Pesantren di Bondowoso

Beberapa dampak terjadinya konflik dalam rumah tangga Kiai di Bondowoso diantaranya, Dampak Positif: 1) Mereka memandang bahwa konflik merupakan nikmat dari Allah atas perbedaan yang diciptikan. 2) Penyesuaian diri dengan lingkungan rumah tangga. 3) Membuat rumah tangga lebih harmonis. 4) Terjadinya adaptasi menuju perubahan dan perbaikan. 5) Lahirnya keputusan-keputusan yang inovatif. 6) Menuntut persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat. 7) Lebih berhati-hati dalam bertindak dikemudian hari. 8) Sebagai langkah introspeksi diri dalam rumah tangga.
Adapun dampak negatifnya adalah: 1) Terhambatnya komunikasi antara pihak yang berkonflik. 2) Terganggunya keeratan hubungan dalam rumah tangga. 3) Terganggunya kerjasama dalam rumah tangga. 4) Timbulnya rasa ketidakpuasan dalam berumah tangga.

D.    Manajemen Konflik Perspektif Kiai Pesantren di Bondowoso.

Penelitian ini menemukan terjadinya manajemen konflik yang efektif dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga oleh Kiai Pesantren di Bondowoso. Gaya manajemen konflik yang diterapkan oleh seluruh objek yang diteliti adalah gaya kolaborasi.
Gaya manajemen konflik kolaborasi merupakan gaya dengan pendekatan yang konfrontatif dan kooperatif, dimana gaya ini digunakan sebagai usaha untuk bekerjasaman dengan lawan gena mendapatkan solusi yang memuaskan bagi keduabelah pihak. Kolaborasi tersebut dapat berbentuk: penyelidikan ketidak setujuan untuk belajar dari pemahaman masing-masing; setuju untuk menyelesaikan masalah yang apabila tidak diselesaikan akan menghabiskan tenaga; atau berkonfrontasi untuk menmukan solusi kreatif atas masalah interpersonal.[16]
Thomas dan Kilmann mengemukakan, Kolaborasi (collaborating) merupakan gaya manajemen konflik dengan tingkat keasertifan dan kerjasama tinggi. Tujuannya adalah untuk mencari alternatif, dasar bersama, dan sepenuhnya memenuhi harapan kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik. Gaya manajemen konflik kolaborasi merupakan upaya bernegosiasi untuk menciptakan solusi sepenuhnya memuaskan pihak-pihak yang terilibat konflik. Upaya tersebut sering meliputi saling memahami perasaan konflik atau saling mempelajari ketidaksepakatan. Selain itu, kreatifitas dan inovasi juga digunakan untuk mencari alternatif yang dapat diterima oleh keduabelah pihak.[17]
Menurut William Hendrick gaya manajemen konflik kolaborasi atau yang ia sebut sebagai gaya integrating (mempersatukan), merupakan gaya yang membawa aliran kreativitas kepermukaan dan mampu menemukan solusi atas isu yang kompleks. Gaya memadukan tersebut sangat baik digunakan bila orang dan masalah itu secara jelas dipisahkan.[18]
Menurut Rahim dan Bouma, dalam berkolaborasi, hal yang terpenting adalah kepercayaan dan keterbukaan oleh pihak yang terlibat dalam konflik. Lebih dari itu, gaya tersebut menunjukkan perhatian terhadap diri sendiri dan orang lain yang sama tinggi dan upaya yang dituju dalam gaya tersebut adalah win-win solution. 
  1. E.Kesimpulan
Manajemen konflik merupakan bekal yang dibutuhkan bagi pemimpin secara umum. Demikian pula berlaku pada jalinan rumah tangga. Suami sebagai imam dalam rumah tangga, sedemikian mungkin harus mampu mengelola berbagai konflik yang dihadapi, agar dapat menghindari mudharat yakni konflik yang destruktif. terlebih bahwa konflik merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan bersosial sebagaimana dalam rumah tangga.
  1. F.Daftar Pustaka
Gymnastiar , Abdullah, Meraih Bening Hati Dengan Manajemen Qalbu, Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 2002.
Hendricks, William, How to Manage Conflict, Jakarta: Bumi Aksara, 2001.
Jackman, Ann, How to Get Things Done: Kiat Sukses Merealisasikan Rencana, Erlangga, 2006.
Liliweri, Alo, Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural, Cet I; Yogyakarta: Lkis, 2005.
Muhyiddin, Muhammad, Selamatkan Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka, Cet. II; Yogyakarta: Diva Press, 2009.
Nurcahyawati, Febriani W, Manajemen Konflik Rumah Tangga, Yogyakarta: Bintang Pustaka Abadi, 2010.
Thontowi, Ahmad, “Manajemen Konflik,” Makalah, disajikan pada Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Palembang.
Winardi, Konflik dan Manajemen Konflik (Konflik Perubahan dan Pengembangan) Bandung: Mandar Maju, 2007.
Wirawan, Konflik dan Manajemen Konflik Teori, Aplikasi, dan Penelitian, Jakarta: Salemba Humanika, 2010.
Yusuf, Muhammad Ely, Hubungan Antara Penyesuaian Diri Dalam Lingkungan Kerja Dengan Manajemen Konflik di Kalangan Karyawan UD. Sido Muncul Blitar, Skripsi, Malang: Universitas Islam Negeri Malang, 2008.
Zenrif, Fauzan, Realitas dan Metode Penelitian Sosial dalam Perspektif Al-Qur’an, Malang: Uin Press, 2006


[1]Abdullah Gymnastiar, Meraih Bening Hati Dengan Manajemen Qalbu (Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 2002), 82.
[2]William Hendricks, How to Manage Conflict (Jakarta:   Bumi Aksara, 2001), 1.
[3]Muhammad Muhyiddin, Selamatkan Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka (Cet II; Yogyakarta: Diva Press, 2009), 447.
[4]Febriani W Nurcahyawati, Manajemen Konflik Rumah Tangga (Yogyakarta: Bintang Pustaka Abadi, 2010), xiii.
[5]Ibid., 2.
[7]Data didapat dari Pengadilan Agama Bondowoso, tanggal 12 Februari 2013.
[8]Sugeng, Wawancara (Bondowoso, 12 Februari 2013) / Panitera Pengadilan Agama Bondowoso.
[9]Wirawan, Konflik dan Manajemen Konflik Teori, Aplikasi, dan Penelitian (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), 4.
[10]Winardi, Konflik dan Manajemen Konflik (Konflik Perubahan dan Pengembangan) (Cet ke 2; Bandung: Mandar Maju, 2007), 1.
[11]Ahmad Thontowi, “Manajemen Konflik,” Makalah, disajikan pada Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Palembang.
[12]M. F. Zenrif, Realitas dan Metode Penelitian Sosial dalam Perspektif Al-Qur’an (Malang: Uin Press, 2006), 50.
[13]Alo Liliweri, Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural (Cet I; Yogyakarta: Lkis, 2005), 288.
[14]Muhammad Ely Yusuf, Hubungan Antara Penyesuaian Diri Dalam Lingkungan Kerja Dengan Manajemen Konflik di Kalangan Karyawan UD. Sido Muncul Blitar, Skripsi (Malang: Universitas Islam Negeri Malang, 2008), 16.
[15]Ibid., 140.
[16]Ann Jackman, How to Get Things Done: Kiat Sukses Merealisasikan Rencana (Erlangga, 2006), 62.
[17]Wirawan, Konflik dan Manajemen Konflik Teori, Aplikasi, dan Penelitian (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), 140.
[18]William Hendrick, Bagaimana Mengelola Konflik (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 54.

Sumber : http://syariah.uin-malang.ac.id/index.php/113-skripsi-al-ahwal-al-syakhshiyyah/521-manajemen-konflik-sebagai-upaya-mempertahankan-keutuhan-rumah-tangga-perspektif-kiai-pesantren-di-bondowoso