Sabtu, 12 September 2015

Pengambilan Kebijakan Berbasis Education Management Information System (EMIS)
oleh Fuadi Aziz

Download PDF
KEBERIMANAN KEPADA MALAIKAT DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
oleh AFIFUDDIN HARISAH

Download PDF 
MANAJEMEN KONFLIK PONDOK PESANTREN NURUL UMMAH PUTRI KOTAGEDE YOGYAKARTA

Link Download PDF : http://digilib.uin-suka.ac.id/13777/1/BAB%20I%2C%20IV%2C%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf

Manajemen Konflik dalam Kepemimpinan Pesantren

Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Al-Khoirot
Ponpes Al-Khoirot Malang  

Manajemen Konflik dalam Kepemimpinan Pesantren sangat diperlukan karena pondok pesantren baru bisa tumbuh dan berkembang apabila para pengasuhnya memiliki sistem yang solid untuk mengelola konflik yang bisa saja muncul dan terjadi. Karena, tidak jarang terjadi konflik dan perpecahan di antara pengasuh pesantren itu disebabkan oleh masalah yang sepele atau adanya miskomunikasi dan kesalahpahaman. Ponpes yang tidak solid biasanya sulit untuk tumbuh menjadi pesantren yang besar dan memiliki kualitas tinggi.
Setiap ada pengasuh pesantren yang meninggal dunia akan selalu timbul pertanyaan: siapa yang akan mengganti sebagai pengasuh. Dan kalau pengganti pengasuh yang wafat ternyata lebih dari satu, maka akan ada pertanyaan lanjutan: apakah tidak akan terjadi konflik kalau pengasuhnya banyak? Bahkan, pertanyaan itu tak jarang terwujud dalam pernyataan: tidak akan lama lagi akan terjadi konflik internal.
Saat KH. Zainal Ali Suyuthi, pengasuh kedua PP Al-Khoirot, meninggal pada April 2011 rumor akan terjadi konflik internal sempat mengemuka dari sebagian kalangan, termasuk dari sebagian pengasuh pesantren lain. Namun, alhamdulillah, rumor itu tidak terbukti. Sebaliknya, manajemen PP Al-Khoirot justru semakin solid di bawah kepemimpinan Dewan Pengasuh yang unsurnya terdiri dari putra-putri, menantu dan cucu pendiri pesantren.
Pertanyaan dan pernyataan akan terjadinya konflik internal wajar mengemuka saat sebuah pesantren ditinggal wafat pengasuh sebelumnya . Karena, hal itu memang kerap terjadi di banyak pesantren.
Suksesi Kepemimpinan
Sampai saat ini sebagian besar pesantren—kalau tidak semuanya– masih menggunakan cara lama dalam pengelolaan pesantren yaitu manajemen keluarga. Dalam sejarahnya mayoritas pesantren di Indonesia didirikan oleh individu santri dan biasanya dibangun di atas tanah milik pribadi, atau tanah hibah/tanah wakaf yang diserahkan oleh pemiliknya pada kyai pengelola pesantren. Pada proses pembangunannya, kyai biasanya dibantu oleh banyak pihak sukarelawan termasuk masyarakat, wali santri dan simpatisan. Dengan demikian, kyai menjadi figur sentral dalam kepemimpinan pesantren dan terkadang menjadi figur sentral dalam masyarakat.
Dalam sistem kultur Indonesia yang paternalistik[1], maka biasanya saat pendiri pesantren wafat, ia secara natural akan diganti oleh putra atau menantunya. Tidak penting apakah mereka memenuhi syarat atau tidak secara keilmuan dan kepribadian untuk memimpin pesantren. Dalam kultur Indonesia, khususnya Jawa, yang masih menghormati budaya feodal[2], putra atau menantu kyai adalah penerus natural dalam suksesi kepemimpinan pesantren. Masyarkat memaklumi itu dan mereka menerimanya.
Sistem dinasti ini bukan hanya monopoli pesantren. Dalam politik pun, tradisi ini terjadi. Partai PDIP tidak bisa melepaskan diri dari sosok Megawati yang merupakan anak pendiri ideologinya yaitu Soekarno. Saat ini, Puan Maharani, anak Megawati, sudah digadang-gadang untuk meneruskan estafet kepemimpinan Megawati. Walaupun secara kualitas kepemimpinannya masih kalah dibanding para aktifis internal partai.
Sistem dinasti dalam suksesi kepempinanan di pesantren sebenarnya merupakan tradisi turun temurun yang terjadi juga di luar pesantren. Karena itu, tidak ada masalah cara ini terus diterapkan. Tapi dari praktik ini pula konflik internal dapat muncul.
Terjadinya Konflik Internal
Konflik internal itu akan muncul biasanya apabila pengasuh yang wafat meninggalkan calon-calon pengasuh lebih dari satu dan mereka tidak terdidik secara baik dalam bidang keilmuan dan kepemimpinan (leadership).
Untuk menghindari konflik antar-saudara semacam ini, para kiai di Madura dan sebagian Jawa memiliki cara yang mereka anggap jitu. Yaitu, setiap anak laki-laki akan dibuatkan pesantren baru di luar. Dan hanya satu yang akan menjadi penerus pesantren asal. Dengan cara ini ada dua keuntungan yang diperoleh, pertama, jumlah pesantren akan terus bertambah dan itu baik bagi pendidikan masyarakat. Kedua, potensi konflik antar-saudara akan terhindari.
Namun, sistem ini juga mengandung beberapa kelemahan. Seperti, pertama, pesanren asal akan sulit tumbuh besar karena kemampuan para penerusnya jadi terpecah-pecah ke dalam sejumlah pesantren kecil. Apalagi kalau para pendiri pesantren baru itu lemah secara ekonomi dan komunikasi. Kedua, cara ini seperti menghindari masalah, bukan memecahkan akar masalah itu sendiri yang sebenarnya dapat diatasi dengan manajemen konflik yang baik. Dan yang tak kalah penting, tanpa pemecahan masalah yang komprehensif dalam hal suksesi ini, sebuah pesantren akan sulit menjadi besar, kokoh dan solid secara organisasi.
Dengan demikian, solusi konflik internal yang biasa dilakukan– dengan cara hanya satu orang yang menjadi pengasuh pesantren dan yang lain harus keluar– saya kira tidak tepat. Dan malah akan semakin memperlemah pesantren itu sendiri. Baik secara kualitas maupun kuantitas. Apalagi, lemah kuantitas biasanya berakibat pada lemahnya tawar menawar (bargaining power) dengan pihak lain.
Manajemen Konflik
Sebenarnya akar masalah dari konflik antarpengasuh dalam satu pesantren dapat terjadi karena kurangnya kemampuan atau kemauan (political will) masing-masing pihak yang bertikai untuk mengatasi konflik (conflict management). Padahal, konflik itu bersumber dari perbedaan dan mengatasi perbedaan itu tidaklah sulit asal ada kemauan dari setiap individu terkait.
Unsur paling menonjol terjadinya suatu keretakan internal dalam kepemimpinan plural biasanya karena salah satu atau beberapa faktor di bawah dan begitu juga solusinya.
Pertama, komunikasi dan musyawarah mufakat. Komunikasi adalah kata kunci utama atas keberhasilan atau kegagalan suatu kepemimpinan yang plural (tidak tunggal). Terjadinya keretakan atau konflik internal pasti dikarenakan oleh kurang atau tidak adanya komunikasi. Pemicu awal dari konflik adalah kesalahpahaman. Dan kesalahpahaman terjadi karena minimnya komunikasi. Komunikasi bisa dalam bentuk formal dan informal. Dalam setiap keputusan, hedaknya diprioritaskan musyawarah mufakat. Tidak ada ego yang harus menang atau kalah. Semua ego harus mendapatkan bagian dari “kemenangan” dan bagian “kekalahan.” Itulah esensi dari musyawarah mufakat.
Kedua, persamaan visi. Dari komunikasi yang intens, maka kesempatan untuk menyamakan visi (rencana besar ke depan) dan menghindari konflik akan semakin besar.
Ketiga, kerja sama tim. Kepemimpinan plural ibarat main bola. Semua keberhasilan adalah karena hasil kerja sama tim. Langsung atau tidak langsung. Begitu juga, tanggung jawab kegagalan harus dipikul bersama. Dengan pola pikir (mindset) seperti ini, maka tidak ada seorang pun yang akan merasa dilupakan saat suka. Dan jadi kambing hitam saat duka.
Keempat, hindari kepentingan pribadi. Pengasuh pesantren adalah posisi untuk ibadah kepada Allah dan pengabdian kepada kepentingan masyarakat dengan mengorbankan waktu, tenaga dan materi. Bukan posisi untuk mencari keuntungan. Berangkat dari paradigma ini, maka semua tugas yang diemban oleh masing-masing pengasuh adalah mulia.
Kelima, pembagian tugas. Setiap individu memiliki potensi tertentu yang tidak dimiliki oleh yang lain. Akan sangat ideal apabila setiap Dewan Pengasuh memikul tugas khusus tertentu sesuai dengan bidang dan potensinya. Di PP Al-Khoirot, misalnya, semua tugas kepesantrenan dan kemasyarakatan ditanggung bersama sesuai potensi dan kesepakatan sebelumnya. Termasuk acara rutin seperti imam shalat berjamaah. Dengan demikian, tugas menjadi lebih ringan. Dan masih ada waktu yang tersisa bagi setiap pengasuh untuk melaksanakan pekerjaan pribadi masing-masing.
Keenam, penghasilan tetap. Kiai sebaiknya punya penghasilan tetap. Entah itu dengan cara bekerja, berbisnis atau bertani. Sebab, salah satu faktor terjadinya keretakan internal tidak jarang disebabkan oleh—meminjam istilah Kyai Syuhud Zayyadi– “rebutan tumpeng.” Realita ini menyedihkan, tapi harus dengan besar hati diakui. Ada pesan almarhum Kiai Nabrawi, mantan takmir masjid jamik kota Malang, yang patut diingat oleh semua kiai dan calon kiai demikian: “Kiai koduh alakoh, malّe tak rep-ngarep pessenah santreh.”
Dengan melaksanakan enam poin di atas, konflik antarpengasuh pesantren insyaAllah akan terhindari. Dengan cara itu pula pesantren akan lebih cepat maju dan besar karena dipimpin oleh sebuah tim yang solid dengan berbagai macam dan ragam potensi dan kemampuan individunya.[]
CATATAN AKHIR
[1] Paternalistik adalah budaya dalam suatu masyarakat yang menggantungkan diri pada figur tokoh kharismatik tertentu.
[2] Di mana orang dihargai dan tidak dihargai karena faktor keturunannya. Bukan karena kualitas individunya.

 

TEORI DAN HIPOTESIS
DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Metodologi Penelitian
Dosen Pengampu: Dr. Usman, M.Ag

  


Oleh:
Tri Pariyatun, S.Pd.I
1420411160
PAI-D (Mandiri)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
KONSENTRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penelitian merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan. Tujuan penelitian adalah menemukan atau mengembangkan teori. Teori membuat manusia mempunyai ilmu pengetahuan. Tanpa teori, tidak ada ilmu pengetahuan di dunia ini, karena tidak pernah ada kegiatan pengumpulan dan pembuktian. Melalui penelitian, teori mendorong ilmu mencapai kemjauan secara berkesinambungan. Dengan dilakukan penelitian maka dihasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Untuk melakukan penelitian maka harus dilewati berbagai tahapan. Hal ini sesuai dengan pengertian penelitian ilmiah itu sendiri yakni menjawab masalah berdasarkan metode yang sistematis. Salah satu hal penting yang dilakukan terutama dalam penelitian kuantitatif adalah merumuskan hipotesis.
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya: Pertama, Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik. Kedua, Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau difalsifikasi. Ketiga, hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Namun tidak semua peneliti mampu menyusun hipotesis dengan baik terutama peneliti pemula. Masih banyak terdapat kesalahan dalam menyusun hipotesis. Untuk menyusun hipotesis yang baik setidaknya peneliti harus mengacu pada kriteria perumusan hipotesis, bagaimana jenis-jenis hipotesis dalam penelitian, maupun pemahaman tentang penelitian tanpa menggunakan hipotesis. Selain itu seorang peneliti juga harus mengetahui bagaimana cara menguji hipotesis agar terhindar dari kekeliruan yang mungkin terjadi dalam pengujian hipotesis. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka makalah ini akan membahas mengenai hakikat teori dan hipotesis dalam sebuah penelitian sehingga mengurangi kekeliruan yang mungkin terjadi dalam pengujian hipotesis.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah yaitu:
Teori Penelitian
1.         Apa pengertian teori penelitian?
2.         Apa peran dan kriteria teori penelitian?
3.         Apa sumber dan langkah-langkah pendiskripsian teori penelitian?
Hipotesis Penelitian
1.      Apa pengertian hipotesis?
2.      Apa manfaat dan karakteristik hipotesis penelitian?
3.      Apa jenis-jenis hipotesis?
4.      Apa bentuk rumusan hipotesis?
5.      Bagaimana cara merumuskan hipotesis?
6.      Bagaimana cara menguji hipotesis?

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Teori Penelitian
Setiap kali melakukan penelitian, peneliti harus terlebih dahulu mengkaji teori yang relevan dengan masalah penelitian. Untuk dapat melakukan pengkajian teori sebagai landasan landasan penelitian, peneliti terlebih dahulu harus memahami konse-konsep dasar tentang teori.
1.      Pengertian Teori
Suatu penelitian perlu mengkaji teori dan menjadikannya landasan agar penelitian yang dilakukan tidak sekedar coba-coba. Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.[1] Teori merupakan pokok penyataan mengenai sebab-akibat atau adanaya hubungan positif antara gejala yang diteliti dari satu atau beberapa faktor tertentu dalam masayarakat. Oleh sebab itu, pada setiap penelitian teori-teori wajib diperlukan untuk mendukung hipotesis yang dibuat.
Teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum, teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (predicton), pengendalian (control) suatu gejala.[2] Menurut Suryabrata, dalam memilih teori harus memperhatikan prinsip kemutakhiran (recency) dan relevansi (relevance). Kecuali penelitian historis, penelitian perlu menghindarkan menggunakan bacaan yang sudah lama, karena sumber yang lama mungkin memuat teori dan konsep yang sudah tidak berlaku lagi yang kebenarannya sudah dibantah oleh teori yang lebih baru atau hasil penelitian yang lebih kemudian. Prinsip relevansi maksudnya adalah bahwa sumber teori haruslah relevan atauterkait dengan masalah yang sedang digarap. Apabila suatu penelitian hendak menyelidiki tentang sikap remaja terhadap tata tertib sekolah , maka haruslah dilakukan kajian teori tentang sikap, remaja, dan tata tertib sekolah, sebagai dasar pijkan penelian tersebut.[3]
Jadi, untuk melakukan penelitian harus dilakukan dengan melihat bangunan yang lebih dulu dibuat oleh generasi pendahulu atau orang lain. Sehingga teori merupakan bangunan atas fakta-fakta yang sudah diketahui sebelumnya. Atas dasar pondasi teori tersebut, seorang peneliti berpartisipasi menyususn pengetahuan di atasnya. Dapat disimpulkan bahwa teori merupakan informasi yang diberikan oleh para pendahulu untuk menjadi panduan dalam memahami realitas, baik fisik maupun sosial. Dengan demikian, teori menempatkan dua fungsi yaitu menjadi sumber bagi hipotesis dan memberikan petunjuk dalam mengumpulkan data.
2.      Peran dan Kriteria Teori
Teori merupakan alat dari ilmu (tool of science). Sebagai alat dari ilmu, landasan teori memiliki beberapa manfaat, yaitu:[4]
a)      Memperdalam pengetahuan tentang bidang yang diteliti
b)      Mengetahui hasil-hasil penelitian yang berhubungan yang sudah pernah dilaksnaaan.
c)      Memperjelas masalah penelitian.
d)     Meramalkan fakta atau memprediksi fakta.
Adapunn peranan fakta, antara lain: alasan untuk menolak teori yang ada; menyebabkan lahirnya teori baru; memberi dorongan untuk mempertajam atau memperhalus rumusan teori yang ada. Kegunaan suatu teori ilmiah dijadikan acuan dalam riset ilmiah harus memenuhi enam kriteria. Keenam kriteria itu adalah sebagai berikut:[5]
a)      Inklusif. Suatu teori yang dijadikan acuan dalam riset ilmiah harus sesuai dengan jumlah dan jenis fenomena yang dikaji dalam riset itu.
b)      Konsisten. Konsisten suatu menentukan apakah teori itu dapat menjelaskan temuan-temuan baru tanpa mengubah asumsi-asumsi yang mendasarinya.
c)      Akurat. Akurat suatu teori adalah derajat ketepatan teori itu untuk digunakan dalam menjelaskan suatu fenomena dan membuat prediksi.
d)     Relevan. Relevansi suatu teori tergantung pada kedekatan hubungan antara teori itu dengan informasi atau data yang dikumpulkan.
e)      Berbuah atau fruitfulness. Keberbuahan suatu teroi menunjukkan pada produktivitas teori itu dalam merangsang ide-ide baru untuk riset-riset di masa yang akan datang.
f)       Sederhana. Kesederhanaan teori terkait dengan derajat kedalaman teori itu dalam menjelaskan suatu fenomena dengan hanya membutuhkan sedikit keterangan.
3.         Sumber dan Langkah-langkah Pendiskripsian Teori
Pustaka yang merupakan sumber-sumber teori dapat diperoleh dari dua sumber utama, yaitu:
a)      Laporan-laporan penelitian (abstrak, jurnal ilmiah, tesis, disertasi, dan laporan penelitian lainnya)
b)      Buku-buku teks
Dalam menyusun landasasan teori adalah membaca buku dan lapiran hasil penelitian. Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:[6]
a)      Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya
b)      Cari sumber-sumber bacaan (buku, kamus, ensiklopedia, journal ilmiah, laporan penelitian, Skripsi, Tesis, Disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti.
c)      Lihat daftar isi setiap buku, dan pillih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti. (Untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian, lihat judul penelitian, permasalahan, teori yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisi, kesimpulan dan saran yang diberikan.
d)     Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
e)      Baca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti, lakukanlah analisa, renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
f)       Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.
B.       Hipotesis Penelitian
Dalam kegiatan penelitian, hipotesis biasanya disusun setelah peneliti mengkaji beberapa teori terkait dengan variable-variabel yang dikaji. Hasil penelaahan berbagi teori inilah yang kemudian dapat membantu peneliti merumuskan hipotesis penelitian. Selanjutnya akan dipaparkan hal-hal yang terkait dengan hipotesis dalam penelitian.
1.      Pengertian Hipotesis
Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dankerangka berfikir. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian harus merumuskan hipotesis. Penelitian yang bersifat ekploratif dan deskriptif sering tidak merumuskan hipotesis. Hipotesis menjadi dugaan berdasarkan keterngan teori yang sementara diterima sebagai kebenaran sambil menunggu pengujian menggunakan data empiris.
Hipotesis berasal dari kata hypo (di bawah, lemah) dan thesa (kebenaran). Dari kedua akar katanya dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah kebenaran yang lemah.[7] Kebenaran hipotesis dikatakan lemah karena kebenarannya baru teruji pada tingkat teori. Untuk menjadi kebenaran yang kuat, hipotesis masih harus diuji menggunakan data-data yang dikumpulkan. Kebenaran yang lemah akan meningkat menjadi thesa apabila berdasarkan hasil uji menggunakan data yang dikumpulkan memberi kesimpulan mendukung hipotesis. Sebaliknya, bila hipotesis teruji melalui data-data yang dikumpulkan maka hipotesis tidak dapat lagi diterima sebagai kebenaran.
Hipotesis adalah kesimpulan sementara atas masalah penelitian. Kita mengemukakan sebelumnya bahwa untuk sampai pada kesimpulan tersebut, harus dijalin pola pemikiran sehingga kesimpulan tersebut benar-benar logis. Dengan kata, lain hipotesis tersebut merupakan prediksi hasil penelitian yang akan dilakukan. Ia dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang bersifat sementara, akrena masih perlu diuji dengan data penelitian yang akan ditemukan nantinya.[8]
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban yang empirik dengan data.[9]
Suryanbrata memberikan beberapa definisi tentang hipotesis:[10] (1) hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris, (2) hipotesis merupakan rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoritus yang diperoleh dari penelaahan kepustakaan, (3) hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling tinggi kebenarannya, (4) hipotesis merupakan pernyataan mengenai populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sempel penelitian atau hipotesis adalah pernyataan mengenai keadaan parameter yang akan diuji melalui statistik sampel.
2.      Manfaat dan Karakteristik Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam suatu penelitian sangat penting untuk memandu penelitian. Manfaatnya dapat dirinci sebagai berikut:
a)      Memberikan tujuan yang tegas bagi peneliti
b)      Membantu dalam menentukan arah yang harus ditempuh, dalam pembatasan ruang lingkup penelitian dengan memilih fakta-fakta yang relevan.
c)      Menghindarkan sesuatu penelitian yang tidak terarah dan tidak bertujuan dan pengumpulan data yang mungkin ternyata tidak ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.[11]
Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan suatu fenomena keagamaan tertentu yang terjadi di masyarakat. Karena itu, penelitian deskriptif tidak memerlukan hipotesis. Kalaupun ada hipotesis dalam penelitian deskripsi, sifatnya hanya pertanyaan penelitian, tidak perlu dirumuskan dalam sebuah hipotesis secara eksplisit.
Menurut Sugiyono, hipotesis yang baik memiliki beberapa karakteristik, diantaranya:[12]
a)      Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih
b)      Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran
c)      Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.
3.      Jenis-Jenis Hipotesis
Ditinjau dari operasinya rumusan untuk ketiga jenis hipotesis tersebut kita kenal dua jenis rumusan yaitu:
a)      Hipotesi Nol
Hipotesis nol, yakni hipotesis yang menyatakan ketidakadanya hubungan anatara variabel. Dalam notasi, hipotesis ini dituliskan dengan “Ho”. Dalam contoh-contoh di atas ketiga rumuusan hipotesis nol dimaksud adalah:[13]
(1)   Tidak ada hubungan antara nilai matematika dengan nilai IPA
(2)   Tidak ada hubungan sebab-akibat timbal balik antara tingkat kekayaan dengan kelancaran berusaha. Tidak ada saling pengaruh antara tingkat kekayaan dengan keberhasilan berusaha.
(3)   Tidak ada hubungan sebab-akibat antara banyaknya makanan dengan tingkat kekenyangan. Tidak ada pengaruh banyaknya makan terhadap tingkat kekenyanga. Banyak makan tidak berpengaruh terhadap tingkat kekenyangan.
b)     Hipotesis Alternatif atau Hipotesis Kerja
Hipotesis alternatif atau hipotesis kerja, yakni hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antar variabel. Dalam notasi, hipotesis ini di tuliskan dengan “Ha”. Untuk hipotesis alternatif sendiri dapat dibedakan menjadi dua macam yaittu: “hipotesis terarah” (directional hypothesis) dan “hipotesis tidak terarah” (non directional hypotesis).[14] Berikut ini contoh dari hipotesis alternatif:
(1)   Untuk hubungan dua variable sejajar tidak dapat dirumuskan hipotesis terarah.
Ha tidak terarah (non directional)
-          Ada hubungan antara nilai matematika dengan nilai IPA
(2)   Ha terarah (directional)
-          Tingkat kekayaan berpengaruh terhadap kelancaran berusaha
-          Kelancaran berusaha berpengaruh terhadap tingkat kekayaan
Ha tidak terarah (non directional)
-          Ada pengaruh tingkat kekayaan terhadap keberhasilan berusaha
-          Ada pengaruh keberhasilan berusaha terhadap tingkat kekayaan
(3)    Ha terarah (directional)
-          Banyak makan berpengaruh terhadap tingkat kekenyangan
-          Banyak makan mempengaruhi terhadap kekenyangan
Ha tidak terarah (non directional)
-          Ada pengaruh banyaknya makan terhadap tingkat kekenyangan.
4.      Tiga Bentuk Rumusan Hipotesis
Pendapat lain mengenai pengklasifikasian atau jenis-jenis hipotesis diungkapkan oleh Sugiyono. Ia menyatakan bahwa menurut tingkat eksplanasi yang akan duji, maka rumusan hipotesis dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu hipotesis deskriptif (pada suatu sampel atau variabel mandiri/tidak dibandingkan dan dihubungkan), komparatif dan hubungan.
a)      Hipotesis Deskriptif
Menurut Sugiyono hipotesis deskriptif adalah dugaan tentang nilai suatu variabel mandiri, tidak membuat perbandingan atau hubungan. Sebagai contoh, bila rumusan masalah penelitian sebagai berikut ini, maka hipotesis (jawaban sementara) yang dirumuskan adalah hipotesis deskriptif.[15]
(1)   Seberapa tinggi daya tahan lampu merk X?
(2)   Seberapa tinggi produktivitas padi di kabupaten Klaten?
(3)   Berapa lama daya tahan lampu merk A dan B?
(4)   Severapa baik gaya kepemimpinan di lembaga X?
Dari tiga pernyataan tersebut antara lain dapat dirumuskan hipotesis seperti berikut:
(1)   Daya tahan lampu merk X = 800 jam
(2)   Produktivitas padi di Kabupaten Klaten 8 ton/ha.
(3)   Daya tahan lampu merk A=450 jam dan merk B=600 jam.
(4)   Gaya kepemimpinan di lembaga X telah mencapai 70% dari yang diharapkan.
Dalam perumusan hipotesis statistik, antara hipotesis nol dengan hipotesis alternatif selalu berpasangan, bila salah satu ditolak, maka yang lain pasti diterima sehingga dapat dibuat keputusan yang tegas, yaitu kalau Ho ditolak pasti alternatifnya diterima. Hipotesis statistik dinyatakan melalui simbol-simbol.
Hipotesis statistik dirumuskan dengan simbol-simbol statistik, dan antara hipotesis nol (Ho) dan alternatif selalu dipasangkan. Dengan dipasankan itumaka dapat dibuat keputusan yang tegas, mana yang diterima dan mana yang ditolak.
Berikut ini diberikan contoh berbagai pernyataan yang dapat dirumuskan hipotesis deskriptif statistiknya:[16]
(a) Suatu perusahaan minuman harus mengikuti ketentuan, bahwa salah satu unsur kimia hanya boleh dicampurkan paling banyak 1%. (paling banyak berarti lebih kecil atau sama dengan: £). Dengan demikian rumusan hipotesisnya adalah:
 (lebih kecil atau sama dengan)
 (lebih besar)
Dapat dibaca: hipotesis nol untuk parameter populasi berbentuk proporrsi (1% : proporsi) lebih kecil atau sama dengan 1%, dan hipotesis alternatifnya, untuk populasi yang berbentuk proporsi lebih besar dari 1%.
(1)   Suatu bimbingan tes menyatakan bahwa murid yang dibimbing di lembaga itu, paling sedikit 90% dapat diterima di perguruan tinggi negeri. Rumusan hipotesis statistik adalah:
(2)   Seorang peneliti menyatakan bahwa daya tahan lampu merk A = 450 jam dan B = 600 jam. Hipotesis statistiknya adalah:
Lampu A:                                          Lampu B:
Ho :  450 jam                              Ho :  600 jam
Ha :  450 jam                              Ha :  600 jam
Harga dapat diganti dengan nilai rata-rata sampel, simpangan baku dan varians. Hipotesis pertama dan kedua diuji dengan uji satu satu pihak (one tail) dan ketiga dengan dua pihak (two tail).
b)     Hipotesis Komparatif
Menurut Sugiyono hipotesis komparatif adalah pernyataan yang menunjukkan dugaan nilai dalam satu variabel atau lebih pada sampel yang berbeda. Contoh rumusan masalah komparatif dan hipotesisnya:[17]
(1)   Adakah perbedaan daya tahan lampu merk A dan B?
(2)   Adakah perbedaan produktivitas kerja antara pegawai golongan I, II dan III?
Adapun rumusan hipotesis adalah:
(a)    Tidak terdapat perbedaan daya tahan lampu antara lampu merk A dan B
Daya tahan lampu merk B paling kecil sana dengan lampu merk A
Daya tahan lampu merk B paling tinggi sama dengan lampu merk A
Hipotesis statistiknya adalah:
-         
Rumusan uji hipotesis dua pihak
Ho : 2
Ha : 2
-         
Rumusan hipotesis uji pihak kiri
Ho : 2
Ha : 2
-         
Rumusan hipotesis pihak kanan
Ho : 2
Ha : 2
(b)   Tidak terdapat perbedaan (persamaan) produktivitas kerja antara golongan I, II, III.
-         
-           (salah satu berbeda sudah merupakan Ha)
Dalam hal ini harga m (mu) dapat merupakan rata-rata sampel, simpangan baku, varians dan proporsi.
c)      Hipotesis Hubungan (Asosiatif)
Sugiyono menyatakan bahwa hipotesis asosiatif adalah suatu pernyataan yang menunjukkan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Contoh rumusan masalahnya adalah “Adakah hubungan antara gaya kepemimpinan dengan efektivitas kerja?”. Rumus dan hipotesis nolnya adalah:[18] Tidak ada hubungan antara gaya kepemimpinan dengan efktivitas kerja.
Hipotesis statistiknya adalah:
Dapat dibaca: hipotesis nol, yang menunjukkan tidak adanya hubungan (nol = tidak ada hubungan) antara gaya kepempinan dengan efektivitas kerja dalam populasi. Hipotesis alternatifnya menunjukkan ada hubungan (tidak sama dengan nol, mungkin lebih besar dari nol atau lebih kecil dari nol).
5.      Merumuskan Hipotesis
Cara merumuskan merumuskan hipotesis ialah dengan tahapan sebagai berikut: rumuskan hipotesis penelitian, hipotesis operasional, dan hipotesis statistik.
Hipotesis penelitian ialah hipotesis yang kita buat yang dinyatakan dalam bentuk kalimat dan didasarkan pada asumsi:[19]
Contoh 1: Hipotesis asosiatif
Rumusan Masalah:
·         Adakah hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja pegawai?
Hipotesis penelitian
Ada hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja pegawai.
Hipotesis operasional ialah mendefinisikan hipotesis secara operasional variabel-variabel yang ada di dalamnya agar dapat diopperasionalkan. Misalnya “gaya kepemimpinan” dioperasionalkan sebagai cara memberikan isntruksi terhadap bawahan. Kinerja pegawai dioperasionalkan sebagai cara memberikan instruksi terhadap bawahan. Kinerja pegawai dioperasionalkan sebagai tinggi rendahnya pemasukan perusahaan. Hipotesis operasional dijadikan menjadi dua , yaitu hipotesis 0 yang bersifat netral dan hipotesis 1 yang bersifat tidak netral.[20]
Dengan demikian, bunyi hipotesis operasionalnya:
H0 :  Tidak ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi-rendahnya pemasukan perusahaan
H1 :  Ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi-rendahnya pemasukan perusahaan.
Hipotesis statistik ialah hipotesis operasional yang diterjemahkan ke dalam bentuk angka-angka  statistik sesuai alat ukur yang dipilih oleh peneliti. Dalam contoh ini asumsi kenaikan pemasukan sebesar 30% sehingga hipotesisnya berbunyi sebagai berikut:[21]
H0: 0,3
H1: 0,3
Contoh 2: Hipotesis deskriptif
Rumusan masalahnya:
·         Seberapa besar penguasaan Bahasa Inggris di kalangan mahasiswa?
·         Hipotesis penelitian:
·         Penguasaan Bahasa Inggris di kalangan mahasiswa nkurang dari standar
Hipotesa operasional berbunyi:
H0 = Penguasaan Bahasa Inggris di kalangan mahasiswa sama dengan standar
H1 = Penguasaan Bahasa Inggris di kalangan mahasiswa tidak sama dengan standar.
Hipotesis statistik
·         H0:
·         H1
Diasumsikan bahwa standar sama dengan 80% penguasaan Bahasa Inggrisnya
Contoh 3: Hipotesis komparatif
Rumusan masalahnya:
·         Bagaimana sikap mahasiswa di Bandung terhadap penyalahgunaan narkoba dibandingkan denan sikap mahasiswa di Yogyakarta?
Hipotesis penelitian:
·         Ada perbedaan sikap terhadap penyalahgunaan narkoba pada mahasiswa di Bandung dan mahasiswa di Yogyakarta
Hipotesis operasional
H0 = Tidak ada perbedaan persentase sikap terhadap penyalahgunaan narkoba pada mahasiswa di bandung dan mahasiswa di Yogyakarta.
H1 = Ada perbedaan persentase sikap terhadap penyalahgunaan narkoba pada mahasiswa di Bandung dan mahasiswa di Yogyakarta.
Hipotesis statistik:
H0
H1
Cara menentukan hipotesis yang baik sesuai dengan pendapat Borg dan Gall hipotesi dapat dikatakan baik apabila memenuhi empat buah kriteria:[22]
                                    1.      Hipotesis hendaknya merupakan rumuusan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih variabel.
                                    2.      Hipotesis yang dirumuskan hendaknya disertai dengan alasan atau dasar-dasar teoritik dan hasil penemuan terdahulu
                                    3.      Hipotesis harus dapat diuji
                                    4.      Rumusan hipotesis hendaknya singkat dan padat, artinya bahwa hipotesis tidak boleh menggunakan hiasan kata atau diberi hiasan kata-katat yang tidak atau kurang bermakna
6.      Cara Menguji Hipotesis
Hipotesis yang sudah dirumuskan kemudian harus diuji. Pengujian ini akan membuktikan H0 atau H1 yang akan diterima. Jika H1 diterima maka H0 ditolak. Artinya, ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi-rendahnya pemasukan peruusahaan.
Dalam membuat hipotesis ada dua jenis kekeliruan yang kadang dibuat oleh penelitian, yaitu:[23]
a)      Menolak hipotesis yang seharusnya diterima. Kesalahan ini disebut kesalahan alpha ( )
b)      Menerima hipotesis yang seharusnya ditolah. Kesalahan ini disebut keslahan beta ( )
BAB III
PENUTUP


Kesimpulan

Teori adalah sebuah set konsep atau construct yang berhubungan satu dengan yang lainnya, suatu set dari proporsi yang mengandung suatu pandangan sistematis dan fenomena. Teori mempunyai peranan sebagai berikut: (1) Memperdalam pengetahuan tentang bidang yang diteliti (2) Mengetahui hasil-hasil penelitian yang berhubungan yang sudah pernah dilaksnaaan (3) Memperjelas masalah penelitian (4) Meramalkan fakta atau memprediksi fakta. Adapun kriteria itu adalah sebagai berikut: inklusif, konsisten, akurat, relevan, berbuah atau fruitfulness, dan sederhana. Sumber-sumber teori dapat diperoleh dari dua sumber utama, yaitu: laporan-laporan penelitian (abstrak, jurnal ilmiah, tesis, disertasi, dan laporan penelitian lainnya) dan buku-buku teks.

Hipotesis berasal dari perkataan hipo (hypo) dan tesis (thesis). Hipo berarti kurang dari, sedang tesis berarti pendapat. Jadi hipotesis adalah suatu pendapat atau kesimpulan yang sifatnya masih sementara, belum benar-benar berstatus sebagai suatu tesis. Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoretis dianggap paling mungkin atau paling tinggi tingkat kebenarannya. Manfaatnya dapat dirinci sebagai berikut: (1) Memberikan tujuan yang tegas bagi peneliti. (2) Membantu dalam menentukan arah yang harus ditempuh, dalam pembatasan ruang lingkup penelitian dengan memilih fakta-fakta yang relevan, (3) Menghindarkan sesuatu penelitian yang tidak terarah dan tidak bertujuan dan pengumpulan data yang mungkin ternyata tidak ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.

Hipotesis yang baik memiliki beberapa karakteristik, diantaranya: (1) Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. (2) Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran. (3) Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.

Ditinjau dari operasinya rumusan untuk ketiga jenis hipotesis tersebut kita kenal dua jenis rumusan yaitu: hipotesi nol dan hipotesis alternatif atau hipotesis kerja. Sedangkan tiga bentuk rumusan hipotesis yang dapat disusun sesuai dengan rumusan permasalahan penelitian, yaitu: hipotesis deskriptif, hipotesis komparatif, dan hipotesis asosiatif.

Cara merumuskan merumuskan hipotesis ialah dengan tahapan sebagai berikut: rumuskan hipotesis penelitian, hipotesis operasional, dan hipotesis statistik. Hipotesis yang sudah dirumuskan kemudian harus diuji. Pengujian ini akan membuktikan H0 atau H1 yang akan diterima. Jika H1 diterima maka H0 ditolak. Artinya, ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi-rendahnya pemasukan peruusahaan. Dalam membuat hipotesis ada dua jenis kekeliruan yang kadang dibuat oleh penelitian, yaitu:

1. Menolak hipotesis yang seharusnya diterima. Kesalahan ini disebut kesalahan alpha ( )

2. Menerima hipotesis yang seharusnya ditolah. Kesalahan ini disebut keslahan beta ( )

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Yatimin. Studi Islam Kontemporer. Jakarta: AMZAH. 2006.
Ali, Mohammad. Memahami Riset Perilaku dan Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2014.
Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT RINEKA CIPTA. 2005.
Polan, Rusdin. Metodologi Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Rijal Isntitute. 2007.
Purwanto. Instrumen Penelitian Sosial dan Pendidikan: Pengembangan dan Pemanfaatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010.
Sarwono. Jonathan. Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS. Yoyakarta: Penerbit ANDI. 2006.
Sugiyono. Metodologi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. 2010.
________ Statistik Untuk Penelitian. Bandung: ALFABETA. 2005.


[1] Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 79.
[2] Ibid., hlm. 81.
[3] Purwanto, Instrumen Penelitian Sosial dan Pendidikan: Pengembangan dan Pemanfaatan, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 66.
[4] Yatimin Abdullah, Studi Islam Kontemporer, (Jakarta: AMZAH, 2006), hlm. 239.
[5] Mohammad Ali, Memahami Riset Perilaku dan Sosial, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014), hlm. 71.
[6] Sugiyono, Metodologi..., hlm. 90.
[7] Purwanto, Instrumen..., hlm. 82.
[8] Rusdin Pohan, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Rijal Isntitute, 2007), hlm. 31.
[9] Sugiyono, Metodologi..., hlm. 96.
[10] Purwanto, Instrumen..., hlm. 83.
[11] Yatimin Abdullah, Studi..., hlm. 239.
[12] Sugiyono, Metodologi..., hlm. 96.
[13] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2005), hlm. 47.
[14] Ibid., hlm. 47.
[15] Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian, (Bandung: ALFABETA, 2005), hlm. 83.
[16] Ibid, hlm. 84.
[17] Ibid., hlm. 85.
[18] Ibid., hlm. 86.
[19] Jonathan Sarwono, Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS, (Yoyakarta: Penerbit ANDI, 2006), hlm. 68.
[20] Jonathan Sarwono, Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS, (Yoyakarta: Penerbit ANDI, 2006), hlm. 68.
[21] Ibid., hlm. 68.
[22] Suharsimi Arikunto, Manajemen..., hlm. 50.
[23] Jonathan Sarwono, Analisis..., hlm. 70.