Rabu, 16 September 2015

FILSAFAT ILMU DAN METODOLOGI PENELITIAN

by sariono sby

PENDAHULUAN
Filsafat berasal dari kata Philo dan sophia (bahasa Yunani). Philo artinya cinta atau menyenangi dan sophia artinya bijaksana. Konon orang yang selalu mendambakan kebijaksanaan adalah orang-orang yang pandai, orang yang selalu mencari kebenaran. Dalam mencari kebenaran ini, mereka mendasarkan kepada pemikiran dan logika dan bahkan berspekulasi.
Filsafat ilmu merupakan kajian atau telaah secara mendalam terhadap hakekat ilmu. Oleh sebab itu, filsafat ilmu ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu tersebut, seperti :
a. Objek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud hakiki objek tersebut ? Bagaimana hubungan objek dengan daya tangkap manusia (misalnya berpikir, merasa, mengindera) ?
b. Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu ? Bagaimana prosedurnya ? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri ? Apa kriterianya ? Cara, teknik, atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ?
c. Untuk apa ilmu itu dipergunakan ? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana hubungan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dan norma-norma moral / profesional ?
Ketiga kelompok pertanyaan tersebut merupakan landasan-landasan ilmu, yakni kelompok pertama merupakan landasan ontologi, kelompok kedua merupakan landasan epistemologi, dan kelompok yang terakhir merupakan landasan aksiologis.
Secara singkat uraian landasan ilmu itu adalah sebagai berikut :
a. Landasan ontologis adalah tentang objek yang ditelaah ilmu. Hal ini berarti tiap ilmu harus mempunyai objek penelaahan yang jelas. Karena diversivikasi ilmu terjadi atas dasar spesifikasi objek telaahannya maka tiap disiplin ilmu mempunyai landasan ontologi yang berbeda.
b. Landasan epistemologi adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga diperolehnya ilmu tersebut. Secara umum, metode ilmiah pada dasarnya untuk semua disiplin ilmu yaitu berupa proses kegiatan induksi-deduksi-verivikasi seperti telah diuraikan diatas.
c. Landasan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Dengan perkataan lain, apa yang dapat disumbangkan ilmu terhadap pengembangan ilmu itu serta membagi peningkatan kualitas hidup manusia.
Sarana Berpikir Ilmiah
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan langkah tersebut.
Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakekat sarana yang sebenarnya sebab sarana merupakan alat yang membantu dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Dalam proses pendidikan, sarana berpikir ilmiah ini merupakan bidang studi tersendiri. Dalam hal ini kita harus memperhatikan 2 hal, yaitu :
a. Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti diketahui, salah satu diantara ciri-ciri ilmu umpamanya adalah penggunaan induksi dan deduksi dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya.
Secara lebih jelas dapat dikatakan bahwa ilmu mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuaannya yang berbeda dengan sarana berpikir ilmiah.
b. Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuaannya berdasarkan metode ilmiah.
Jelaslah bahwa mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuaannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah dan bahkan merupakan ilmu tersendiri.
Dilihat dari pola berpikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyandarkan diri pada proses logika deduktif dan induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif ini sedangkan statistik mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.
Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk menolak atau menerima hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula.
Salah satu langkah ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah.

PEMBAHASAN
Hubungan Filsafat Ilmu dan Penelitian
A. Definisi Filsafat ilmu dan metodologi penelitian
Menurut Amsal Bahtiar, filsafat Ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar Ilmu.Dengan demikian filsafat Ilmu merupakan cabang dari filsafat yang secara spesifik mengkaji hakekat Ilmu untuk mencapai suatu kebenaran.
Metodologi penelitian adalah berarti Ilmu tentang metode. Sedang penelitian adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan data kemudian mengolah, menganalisa dan mengkaji data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif.
Jadi metodologi penelitian Ilmu yang mempelajari, menyelusuri, mencari dan mengumpulkan data kemudian mengolah, menganalisa dan menyajikan data yang dilakukan secara sistematis supaya diperoleh suatu kebenaran yang obyektif.
Secara terminology, metodologi penelitian atau metodologi riset (science researct atau method), metodologi berasal dari kata methodology, maknanya Ilmu yang menerangkan metode-metode atau cara-cara. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa inggris “research” yang terdiri dari kata “re” (mengulang) dan search (pencarian, pengajaran, penelusuran, penyelidikan atau penelitian) maka research berarti berulang melakukan pencarian.Metodologi penelitian bermakna seperangkat pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah tertentu untuk diolah, dianalisa, diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan cara pemecahannya.
B. Kedudukan Filsafat Ilmu Dan Metodologi Penelitian
Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, jika kebenaran yang sebenarnya itu disusun secara sistematis, jadilah ia sistematika filsafat, sistematika filsafat itu biasanya terbagi atas tiga cabang besar filsafat yaitu: teori pengetahuan, teori hakekat dan teori nilai.
Isi filsafat ditentukan oleh obyek apa yang dipikirkan, obyek yang difikirkan oleh filosof ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. Jadi filsafat sebagai suatu proses berfikir bebas, sistematis, radkal dan mencapai dataran makna yang mempunyai cabang ontology, epistemologi dan aksiologi.
Ontologi dinamakan sbagai teori hakekat, teori hakekat ini sangat luas, segala yang ada yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup penetahuan pengetahuan dan nilai (yang di carinya ialah hakekat penegetahuan dan hakekat nilai).
Didalam ontology membahas dua bidang yaitu:
1. Kosmologi membicarakan hakekat asal, hakekat susunan, hakekat berada, juga hakekat tujuan kosmos.
2. Metafisik atau antropologi secara etimologis berarti dibalik atau dibelakang fisika artinya ia ingin mengerti atau mengetahui apa yang ada dibalik dari alam ini atau suatu yang tidak nampak.
Jadi kosmologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki hakekat asal, susunan, tujuan alam besar, yang dibicarakan didalam cabang ini missal hakekat kosmos, bagaimana caranya ia menjadi (how daes it come to being) dan lain-lain. Mungkin ada orang yang beranggapan bahwa teori kosmologi itu merupakan teori astronomi, sebenarnya bukan, astronomi adalah sains sedangkan kosmologi adalah filsafat. Sedangkan metafisika adalah membicarakan hakekat manusia dari sgi filsafat, umpamanya apa manusia itu? dan dari mana asalnya, apa akhir atau tujuannya?. Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. atau suatu cabang filsafat yang membahas sumber, proses, syarat, batas dan validitas dan hakekat pengetahuan. Sistematika dan logika sangat berperan dalam epistemologi demikian pila metode-metode berfikir seperti deduktif dan induktif.
Epistemologi dari sini dapat disimpulkan bahwa bila ontology memahami sesuatu adalah tunggal maka cara memperoleh kebenarannya dengan menggunakan jenis penelitian kuantitatif, akan tetapi bila ontologynya memahami sesuatu secara jamak, maka digunakan jenis penelitian kualitatif.
Aksiologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai (value), tindakan moral melahirkan nilai etika, ekspresi keindahan yang melahirkan nilai esthetika dan kehidupan sosiolah yang menjelaskan apa yang di anggap baik dalam tingkah laku manusia, apa yang di maksud indah dalam seni. Demikian pula apakah yang benar dan diinginkan didalam organisasi sosial kemasyarakatan dan kenegaraan.
Dalam aksiologi ini di pengaruhi oleh ontology yang digunakan , ontology yang memahami sesuatu itu tunggal, penelitiannya jenis kuantitatif, maka Ilmu yang dibentuknya disebut nomotetik dan bebas nilai, sedangkan ontology yang memahami sesuatu itu jamak dan penelitiannya jenis kualitatif. Maka Ilmu yang di hasilkan disebut ideografik dan bermuatan nilai.
Menurut Jujun S. Suria Sumantri filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat Ilmu dan pengetahuan ilmiah.
Sedangkan menurut tim Dosen filsafat Ilmu UGM, filsafat imu secara sistematis merupakan cabang dari rumpun kajian epistemologi. Epistemologi sendiri mempunyai dua cabang yaitu filsafat pengetahuan (theory of knowledge) dan filsafat Ilmu (theori of science) objek material flsafat pengetahuan yaitu gejala pengetahuan, sedang objek material filsafat yaitu mempelajari gejala-gejala Ilmu menurut sebab secara pokok. Metodologi penelitian adalah seperangkat penegetahuan tentang langkah-langkag sistematis dan logis tentang pencarian data, pengolahan data, analisa data, pengambilan kesimpulan dan cara pemecahan.
Didalam menjalankan fungsinya metodologi menggunakan cara dan di buktikan kebenarannya adalah metode ilmiah. Menurut JUjun S. Suria Sumantri: Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari pelaturan-pelaturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Metode ini secara filsafati termasuk dalam apa yang di namakan epistemologi. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapat pengetahuan, apakah sumber-sumber pengetahuan? apakah hakekat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? apakah manusia di mungkinkan untuk mendapat pengetahuan? sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk di tangkap manusia.
Dari sini dapat kita ketahui bahwa metode ilmiah merupakan bagian dari metodologi ilmiah, bahwa filsafat Ilmu dan metodologi penelitian mempunyai kedudukan yang sama dalam cabang filsafat yaitu masuk dalam golongan epistemologi.
Menurut Amsal Bahtiar tujuan filsafat Ilmu adalah:
1. Mendalami unsur-unsur pokok Ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber hakekat dan tujuan Ilmu
2. Memahami sejarah pertumbuhan , perkembangan dan kemajuan Ilmu di berbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses Ilmu kontemporer secara histories.
Metodologi bisa juga diartikan Ilmu yang membahas konsep berbagai metode, apa kelebihan dan kekurangan dari suatu, kemudian bagaimana seseorang memilih suatu metode. Sedangkan penelitian bertujuan menghimpun data yang akurat yang kemudian diproses sehingga menemukan kebenaran atau teori atau Ilmu dan mungkin pula mengembangkan kebenaran terdahulu atau menguji kebenaran tersebut.
Jadi metode ilmiah untuk memperoleh Ilmu pengetahuan yang benar di perlukan cara-cara yang benar pula. Menurut para pakar , mencari kebenaran, cara-cara memperoleh kebenaran ilmiah diebut metode ilmiah, yang terdiri mencari masalah, menentukan hipotesis, menghimpun data, menguji hipotesis, prinsip ini berlaku untuk untuk semua sains oprasionalisasi, metode ilmiah itu dilakukan bidang studi metodologi penelitian. dari sini tampak dengan jelas hubugan antara filsafat Ilmu dengan metodologi penelitian

KESIMPULAN
1. Filsafat Ilmu merupakan cabang dari Ilmu filsafat yang termasuk dataran epistemologi
2. Filsafat Ilmu membahas tentang ontology, epistemologi, dan aksiologi
3. Metodologi ditinjau dari Ilmu filsafat juga termasuk dalam tataran epistemologi
4. Filsafat Ilmu dan metodologi penelitian menduduki posisi yang sama dalam Ilmu filsafat yaitu pada tataran epistemologi
5. Dan untuk mencapai hasil penelitian yang valid, metodologi harus di landasi filsafat Ilmu.
Filsafat Ilmu dan metodologi penelitian
Ontologi
1. Membahas apa yang ingin diketahui
2. Suatu pengkajian mengenai teori tentang ada
3. Objek yang di telaah Ilmu adalah sesuatu yang berberada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang di uji indra manusia yang berorientasi empiris
4. Kuantitatif dan kualitatif
Epistemologi
1. Membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan
2. Ilmu pengetahuan diperoleh melalui proses metode
3. Hakekat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan dengan sifat terbuka dan menjunjung tinggi kebenaran diatas segala-galanya
4. Metode ilmiah, logico hypotico verivicative dan deducto hypotetici verivicative
Aksiologi
1. Membahas tentang manfaat yang di peroleh manusia dari pengetahuan yang didapatkanya
2. Analisa tentang penerapan hasil-hasil temuan Ilmu pengetahuan

Sumber : http://referensiagama.blogspot.com

Hubungan Filsafat Ilmu dan Penelitian

OLEH : AHMAD SHOLIHIN
A. Definisi
Menurut Amsal Bahtiar, filsafat Ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar Ilmu.[1]
       Dengan demikian filsafat Ilmu merupakan cabang dari filsafat yang secara spesifik mengkaji hakekat Ilmu untuk mencapai suatu kebenaran. Metodologi penelitian adalah berarti Ilmu tentang metode.[2] Sedang penelitian adalah penelitian adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan data kemudian mengolah, menganalisa dan mengkaji data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif.[3]
Jadi metodologi penelitian Ilmu yang mempelajari, menyelusuri, mencari dan mengumpulkan data kemudian mengolah, menganalisa dan menyajikan data yang dilakukan secara sistematis supaya diperoleh suatu kebenaran yang obyektif.
Secara terminology, metodologi penelitian atau metodologi riset (science researct atau method), metodologi berasal dari kata methodology, maknanya Ilmu yang menerangkan metode-metode atau cara-cara. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa inggris “research” yang terdiri dari kata “re” (mengulang) dan search (pencarian, pengajaran, penelusuran, penyelidikan atau penelitian) maka research berarti berulang melakukan pencarian.Metodologi penelitian bermakna seperangkat pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah tertentu untuk diolah, dianalisa, diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan cara pemecahannya.[4]
B. Kedudukan Filsafat Ilmu Dan Penelitian
Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, jika kebenaran yang sebenarnya itu disusun secara sistematis, jadilah ia sistematika filsafat, sistematika filsafat itu biasanya terbagi atas tiga cabang besar filsafat yaitu: teori pengetahuan, teori hakekat dan teori nilai.
Isi filsafat ditentukan oleh obyek apa yang dipikirkan, obyek yang difikirkan oleh filosof ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. Jadi filsafat sebagai suatu proses berfikir bebas, sistematis, radkal dan mencapai dataran makna yang mempunyai cabang ontology, epistemologi dan aksiologi.
Ontologi dinamakan sbagai teori hakekat, teori hakekat ini sangat luas, segala yang ada yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup penetahuan pengetahuan dan nilai (yang di carinya ialah hakekat penegetahuan dan hakekat nilai).
Didalam ontology membahas dua bidang yaitu:
  1. Kosmologi membicarakan hakekat asal, hakekat susunan, hakekat berada, juga hakekat tujuan kosmos.
  2. Metafisik atau antropologi secara etimologis berarti dibalik atau dibelakang fisika artinya ia ingin mengerti atau mengetahui apa yang ada dibalik dari alam ini atau suatu yang tidak nampak.[5]
Jadi kosmologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki hakekat asal, susunan, tujuan alam besar, yang dibicarakan didalam cabang ini missal hakekat kosmos, bagaimana caranya ia menjadi (how daes it come to being) dan lain-lain. Mungkin ada orang yang beranggapan bahwa teori kosmologi itu merupakan teori astronomi, sebenarnya bukan, astronomi adalah sains sedangkan kosmologi adalah filsafat. Sedangkan metafisika adalah membicarakan hakekat manusia dari sgi filsafat, umpamanya apa manusia itu? dan dari mana asalnya, apa akhir atau tujuannya?.      Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. [6] atau suatu cabang filsafat yang membahas sumber, proses, syarat, batas dan validitas dan hakekat pengetahuan. Sistematika dan logika sangat berperan dalam epistemologi demikian pila metode-metode berfikir seperti deduktif dan induktif.
epistemologi dari sini dapat disimpulkan bahwa bila ontology memahami sesuatu adalah tunggal maka cara memperoleh kebenarannya dengan menggunakan jenis penelitian kuantitatif, akan tetapi bila ontologynya memahami sesuatu secara jamak, maka digunakan jenis penelitian kualitatif.
Aksiologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai (value), tindakan moral melahirkan nilai etika, ekspresi keindahan yang melahirkan nilai esthetika dan kehidupan sosiolah yang menjelaskan apa yang di anggap baik dalam tingkah laku manusia, apa yang di maksud indah dalam seni. Demikian pula apakah yang benar dan diinginkan didalam organisasi sosial kemasyarakatan dan kenegaraan.[7]
Dalam aksiologi ini di pengaruhi oleh ontology yang digunakan , ontology yang memahami sesuatu itu tunggal, penelitiannya jenis kuantitatif, maka Ilmu yang dibentuknya disebut nomotetik dan bebas nilai, sedangkan ontology yang memahami sesuatu itu jamak dan penelitiannya jenis kualitatif. Maka Ilmu yang di hasilkan disebut ideografik dan bermuatan nilai.
Menurut Jujun S. Suria Sumantri filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat Ilmu dan pengetahuan ilmiah.[8]
Sedangkan menurut tim Dosen filsafat Ilmu UGM, filsafat imu secara sistematis merupakan cabang dari rumpun kajian epistemologi. Epistemologi sendiri mempunyai dua cabang yaitu filsafat pengetahuan (theory of knowledge) dan filsafat Ilmu (theori of science) objek material flsafat pengetahuan yaitu gejala pengetahuan, sedang objek material filsafat yaitu mempelajari gejala-gejala Ilmu menurut sebab secara pokok.[9]
Metodologi penelitian adalah seperangkat penegetahuan tentang langkah-langkag sistematis dan logis tentang pencarian data, pengolahan data, analisa data, pengambilan kesimpulan dan cara pemecahan.
Didalam menjalankan fungsinya metodologi menggunakan cara dan di buktikan kebenarannya adalah metode ilmiah. Menurut JUjun S. Suria Sumantri: Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari pelaturan-pelaturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Metode in secara filsafati termasuk dalam apa yang di namakan epistemologi. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapat pengetahuan, apakah sumber-sumber pengetahuan? apakah hakekat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? apakah manusia di mungkinkan untuk mendapat pengetahuan? sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk di tangkap manusia.[10]
Dari sini dapat kita ketahui bahwa metode ilmiah merupakan bagian dari metodologi ilmiah, bahwa filsafat Ilmu dan metodologi penelitian mempunyai kedudukan yang sama dalam cabang filsafat yaitu masuk dalam golongan epistemologi.
Menurut Amsal Bahtiar tujuan filsafat Ilmu adalah:
  1. Mendalami unsur-unsur pokok Ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber hakekat dan tujuan Ilmu
  2. Memahami sejarah pertumbuhan , perkembangan dan kemajuan Ilmu di berbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses Ilmu kontemporer secara histories.[11]
Metodologi bisa juga diartikan Ilmu yang membahas konsep berbagai metode, apa kelebihan dan kekurangan dari suatu, kemudian bagaimana seseorang memilih suatu metode. Sedangkan penelitian bertujuan menghimpun data yang akurat yang kemudian diproses sehingga menemukan kebenaran atau teori atau Ilmu dan mungkin pula mengembangkan kebenaran terdahulu atau menguji kebenaran tersebut.[12]
Jadi metode ilmiah untuk memperoleh Ilmu pengetahuan yang benar di perlukan cara-cara yang benar pula. Menurut para pakar , mencari kebenaran, cara-cara memperoleh kebenaran ilmiah diebut metode ilmiah, yang terdiri mencari masalah, menentukan hipotesis, menghimpun data, menguji hipotesis, prinsip ini berlaku untuk untuk semua sains oprasionalisasi, metode ilmiah itu dilakukan bidang studi metodologi penelitian. dari sini tampak dengan jelas hubugan antara filsafat Ilmu dengan metodologi penelitian
Jadi dapat kita simpulkan bahwa:
-          Filsafat Ilmu merupakan cabang dari Ilmu filsafat yang termasuk dataran epistemologi
-          Filsafat Ilmu membahas tentang ontology, epistemologi, dan aksiologi
-          Metodologi ditinjau dari Ilmu filsafat juga termasuk dalam tataran epistemologi
-          Filsafat Ilmu dan metodologi penelitian menduduki posisi yang sama dalam Ilmu filsafat yaitu pada tataran epistemologi
-          Dan untuk mencapai hasil penelitian yang valid, metodologi harus di landasi filsafat Ilmu.
Filsafat Ilmu dan penelitian
Ontologi Epistemologi Aksiologi
- Membahas apa yang ingin diketahui - Suatu pengkajian mengenai teori tentang ada
- Objek yang di telaah Ilmu adalah sesuatu yang berberada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang di uji indra manusia yang berorientasi empiris
- Kuantitatif dan kualitatif
- Membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan - Ilmu pengetahuan diperoleh melalui proses metode
- Hakekat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan dengan sifat terbuka dan menjunjung tinggi kebenaran diatas segala-galanya
- Metode ilmiah, logico hypotico verivicative dan deducto hypotetici verivicative
- Membahas tentang manfaat yang di peroleh manusia dari pengetahuan yang didapatkanya - Analisa tentang penerapan hasil-hasil temuan Ilmu pengetahuan

[1] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Raja Grafindo Persada. Jakarta 2004, hal: 17
[2] EM Zul Fajri. Ratu Aprilia Senja. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Difa Publiher, hal: 565
[3] Ibid, hal: 803
[4] Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu dakwa, perpustakaan Nasional 1997, hal: 1
[5] Ahmad Tafsir. Filsafat Umum. PT  Remaja Rosda Karya Bandung, 2003, hal: 28-29
[6] Ibid, hal: 23
[7] Mohammad Noor Syam. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Usaha Nasional. Surabaya, 1983, hal: 28-35
[8] Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Filsafat, Pustaka Sinar Harapan, 2001,hal: 33
[9] Tim Dosen filsafat Ilmu Fakultas filsafat UGM. Filsafat Ilmu, Liberty. Yogyakarta, 2001, hal: 45-46
[10] Jujun S. Sumantri, Opcit, hal: 119
[11] Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu. Raja Findo Persada. Jakarta 2004, hal: 20
[12] Wardi Bachtiar. Metodologi Penelitian Ilmu Dakwa, Pustakaan Nasional 1997, hal: 3
 

Senin, 14 September 2015

MANAJEMEN KONFLIK SEBAGAI UPAYA MEMPERTAHANKAN KEUTUHAN RUMAH TANGGA PERSPEKTIF KIAI PESANTREN DI BONDOWOSO
 Dedi Rahman Hasyim
Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Abstract
Divorce cases in Indonesia are growing each year. certainly the special attention is needed to minimize it. One of way that is can be minimize the divorce rate is the conflict management. Where the various conflicts that dwell in the family can afford permissibility managed well by the parties involved in it so inevitabilities of divorce. This research is going to reach, how is the conflict management implemented in the family of Kiai Pesantren in Bondowoso. In that’s way we learn anything done by them in facing and managing any conflicts that was occurred in their family.
 A.Pendahuluan
Membina rumah tangga menuju sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, jelas tak segampang yang dibayangkan. Membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses. Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah, namun lebih kepada adanya keterampilan mengelola konflik yang terjadi di dalamnya.[1]
Konflik begitu akrab serta tak terhindarkan dalam jalinan kehidupan manusia.[2] Namun tentu saja, tidak seorangpun menginginkan konflik terjadi dalam rumah tangganya. Sebaliknya, dalam hubungan diharapkan keharmonisan dan rasa tentram. Oleh karenanya maka sangat penting dalam rumah tangga untuk membangun komitmen untuk menjaganya tetap utuh.
Sejatinya, kodrat manusia dalam sebuah hubungan adalah menjaga keharmonisan hubungan tersebut. Dari itulah terjadi usaha mengelola konflik yang mengancam keharmonisan jalinan rumah tangga.[3] Hanya saja tidak jarang pasangan suami istri tidak mengetahui bagaimana menanggulangi konflik tersebut.[4]
Pada kenyataannya, konflik dalam rumah tangga selalu muncul.[5] Bagaimanapun bentuk konflik tersebut, kecil ataupun besar. Konflik yang terjadi dalam rumah tangga adakalanya berupa konflik yang teratasi, dan sebagian yang lain konflik yang tidak dapat diatasi sehingga berakhir pada perceraian.
Tercatat dalam rekapitulasi urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen, pada tahun 2011 Pengadilan tinggi Agama (PTA) mencatat perkara perceraian sebesar 86,66 persen, sedangkan perkara lain hanya sebesar 13,44 persen saja.[6] Di Bondowoso, kasus perceraian juga terhitung tinggi. Berdasarkan data yang deperoleh dari Pengadilan Agama Bondowoso, tercatat perceraian yang telah diputus sebanyak 1589 perkara.[7]
Dari data serta hasil wawancara yang penulis lakukan di Pengadilan Agama Bondowoso tersebut menunjukkan bahwa rumah tangga Kiai Pesantren di Bondowoso terhindar dari perceraian.[8] Fakta tersebut memberikan indikasi yang kuat terhadap adanya pengelolaan konflik yang baik di dalam relasi tersebut.
Penelitian ini akan menelisik tentang bagaimana konflik terjadi dalam rumah tangga Kiai Pengasuh Pondok Pesantren di Bondowoso dan bagaimana manajemen konflik mereka terapkan guna mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari konflik serta manajemen konflik yang diaplikasikan dalam rumah tangga Kiai Pesantren di Bondowoso.

B.    Konflik dan Manajemen Konflik: Konsepsi Kajian Epistemologis

Konflik: Istilah konflik merupakan kata kerja yang berasal dari bahasa latin configure, artinya saling memukul. Kemudian diadopsi bahasa inggris menjadi conflict, dan diadopsi bahasa indonesia menjadi konflik.[9] Winardi menyebutkan, Konflik berarti adanya oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi.[10]
Menurut Kilmann & Thomas dalam Luthans, yang dimaksud dengan konflik adalah : “ Suatu kondisi ketidakcocokan obyektif antara nilai-nilai atau tujuan-tujuan, seperti perilaku yang secara sengaja mengganggu upaya pencapaian tujuan, dan secara emosional mengandung suasana permusuhan.[11]
Dari beberapa paparan di atas maka dapat dipahami bahwa konflik adalah oposisi, pertentangan pendapat, ketidakcocokan obyektif antara dua individu atau lebih tentang nilai, tujuan, kekuasaan, dan sumberdaya yang bersifat langka.
Dalam bentuk konflik, Al-Qur’an memberikan deskripsi tentang konflik sosial dalam dua bentuk. Bentuk pertama adalah konflik potensial, yakni potensi konflik dalam diri manusia. Potensi konflik tersebut dapat terjadi sekalipun pada orang lain yang tidak saling mengenal. Bentuk yang kedua adalah konflik aktual, yakni realitas konflik sosial. Konflik ini merupakan reaksi dari konflik potensial yang diorganisir dan dimobilisasi massa.[12]

Manajemen Konflik: Menurut Robinson, Manajemen konflik adalah tindakan konstruktif yang direncanakan, diorganisasikan, digerakkan, dan dievaluasi secara teratur atas semua usaha demi mengakhiri konflik. manajemen konflik harus dilakukan sejak pertama kali konflik mulai tumbuh. Karena itu, sangat dibutuhkan kemampuan manajemen konflik, antara lain, melacak pelbagai faktor positif pencegahan konflik daripada melacak faktor negatif yang mengancam konflik.[13]

Menurut Criblin dalam Wahyudi, manajemen konflik adalah teknik yang dilakukan untuk mengatur konflik. Dalam pengertian yang hampir sama, manajemen konflik adalah cara dalam menaksir atau memperhitungkan konflik. Hendricks berpendapat manajemen konflik adalah penyelesaian suatu konflik yang dapat dilakukan dengan cara mempersatukan dan mendorong tumbuhnya creative thinking. Mengembangkan alternatif adalah salah satu kekuatan dari gaya integrating.[14]
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa pengertian manajemen konflik adalah macam-macam pengaturan, pengelolaan, atau cara penyelesaian yang efektif untuk menyikapi suatu permasalahan.
Penelitian ini akan menggunakan teori Kenneth W. Thomas dan Rapl H. Kilmann. Mereka mengembangkan taksonomi gaya manajemen konflik berdasarkan dua dimensi: (1) kerja sama pada sumbu horizontal dan (2) keasertifan pada sumbu vertical. Kerjasama adalah upaya orang lain jika menghadapi konflik. Disisi lain, keasertifan adalah upaya orang untuk memuaskan diri sendiri jika menghadapi konflik. Berdasarkan dua dimensi tersebut Thomas dan kilmann mengemukakan lima jenis gaya manajemen konflik. Adapun kelima jenis gaya manajemen konflik tersebut adalah sebagaimana berikut:[15]
  1. 1.Kompetisi (Competiting). Gara manajemen konflik dengan tingkat keasertifantinggi dan tingkat kerjasama rendah. Gaya in merupakan gaya yang berorentasi pada kekuasaan, dimana seseorang akan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk memenangkan konflik dengan diaya lawannya.
  2. 2.Kolaborasi (Collaborating). Gaya manajemen konflik dengan tingkat keasertifan dan kerjasama tinggi. Tujuannya adalah untuk mencari alternatif, dasar bersama, dan sepenuhnya memenuhi harapan kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik.
  3. 3.Kompromi (Compromizing). Gaya amanajemen konflik tengaha atau menengah, di mana tingkat keasertifan dan kerjasama sedang. Dengan menggunakan strategi memberi dan mengambil (give and take), kedua belah pihak yang terlibat konflik mencari alternatif titik tengah yang memuaskan sebagai keinginan mereka.
  4. 4.Menghindar (Avoiding). Gaya manajemen konflik dengan tingkat keasertifan dan kerja sama rendah. Dalam gaya manajemen konflik ini, kedua belah pihak berusaha menghindari konflik. Menurut Thomas dan Kilmann bentuk menghindar tersebut bisa berupa: (a) menjauhkan diri dari pokok masalah; (b) menunda pokok masalah hingga waktu yang tepat; atau (c) menarik diri dari konflik yang mengancam dan merugikan.
  5. 5.Mengakomodasi (Accomodating) gaya manajemen konflik dengan tingkat keasertifan rendah dan tingkat kerjasama tinggi. Seorang mengabaikan kepentingannya sendiri dan berupaya memuaskan kepentingan lawan.

C.    Fenomena Konflik Dalam Rumah Tangga Kiai Pesantren di Bondowoso

1.      Pandangan Kiai Pesantren tentang konflik

Berbagai pandangan yang didapatkan dalam penelitian ini memberikan implikasi yang diantaranya, Pertama: Konflik dapat terjadi dalam rumah tangga yang merupakan lingkup sosial serta terdiri dari lebih dari satu orang anggota. Kedua: Konflik terjadi akibat adanya perbedaan keinginan, perbedaan pandangan, pertentangan, dan ketidak sesuaian. Ketiga: Akan selalu ada objek konflik. Objek tersebut tentu juga beragam.

2.      Penyebeb Terjadinya Konflik Dalam Rumah Tangga Kiai

Temuan dalam penelitian ini menunjukkan ragam faktor penyebab konflik dalam rumah tangga Kiai Pengasuh Pondok Pesantren di Bondowoso, diantaranya, Pertama perbedaan pendapat/argumentasi. Kedua, kecemburuan istri. Ketiga, keadaan ekonomi rumah tangga. Keempat, Faktor eksternal yakni adanya intervensi di luar lingkup rumah tangga itu sendiri. Hal tersebut muncul dari kerabat dekat, keluarga, ataupun masyarakat. 

3.      Bentuk Konflik Dalam Rumah Tangga Kiai Pesantren di Bondowoso

Keempat faktor tersebut berimplikasi pada, Pertama, perdebatan/cekcok. Kedua, terjadinya pertengkaran. Ketiga, tidak saling tegur dengan pasangan. 

4.      Dampak Konflik Dalam Rumah Tangga Kiai Pesantren di Bondowoso

Beberapa dampak terjadinya konflik dalam rumah tangga Kiai di Bondowoso diantaranya, Dampak Positif: 1) Mereka memandang bahwa konflik merupakan nikmat dari Allah atas perbedaan yang diciptikan. 2) Penyesuaian diri dengan lingkungan rumah tangga. 3) Membuat rumah tangga lebih harmonis. 4) Terjadinya adaptasi menuju perubahan dan perbaikan. 5) Lahirnya keputusan-keputusan yang inovatif. 6) Menuntut persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat. 7) Lebih berhati-hati dalam bertindak dikemudian hari. 8) Sebagai langkah introspeksi diri dalam rumah tangga.
Adapun dampak negatifnya adalah: 1) Terhambatnya komunikasi antara pihak yang berkonflik. 2) Terganggunya keeratan hubungan dalam rumah tangga. 3) Terganggunya kerjasama dalam rumah tangga. 4) Timbulnya rasa ketidakpuasan dalam berumah tangga.

D.    Manajemen Konflik Perspektif Kiai Pesantren di Bondowoso.

Penelitian ini menemukan terjadinya manajemen konflik yang efektif dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga oleh Kiai Pesantren di Bondowoso. Gaya manajemen konflik yang diterapkan oleh seluruh objek yang diteliti adalah gaya kolaborasi.
Gaya manajemen konflik kolaborasi merupakan gaya dengan pendekatan yang konfrontatif dan kooperatif, dimana gaya ini digunakan sebagai usaha untuk bekerjasaman dengan lawan gena mendapatkan solusi yang memuaskan bagi keduabelah pihak. Kolaborasi tersebut dapat berbentuk: penyelidikan ketidak setujuan untuk belajar dari pemahaman masing-masing; setuju untuk menyelesaikan masalah yang apabila tidak diselesaikan akan menghabiskan tenaga; atau berkonfrontasi untuk menmukan solusi kreatif atas masalah interpersonal.[16]
Thomas dan Kilmann mengemukakan, Kolaborasi (collaborating) merupakan gaya manajemen konflik dengan tingkat keasertifan dan kerjasama tinggi. Tujuannya adalah untuk mencari alternatif, dasar bersama, dan sepenuhnya memenuhi harapan kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik. Gaya manajemen konflik kolaborasi merupakan upaya bernegosiasi untuk menciptakan solusi sepenuhnya memuaskan pihak-pihak yang terilibat konflik. Upaya tersebut sering meliputi saling memahami perasaan konflik atau saling mempelajari ketidaksepakatan. Selain itu, kreatifitas dan inovasi juga digunakan untuk mencari alternatif yang dapat diterima oleh keduabelah pihak.[17]
Menurut William Hendrick gaya manajemen konflik kolaborasi atau yang ia sebut sebagai gaya integrating (mempersatukan), merupakan gaya yang membawa aliran kreativitas kepermukaan dan mampu menemukan solusi atas isu yang kompleks. Gaya memadukan tersebut sangat baik digunakan bila orang dan masalah itu secara jelas dipisahkan.[18]
Menurut Rahim dan Bouma, dalam berkolaborasi, hal yang terpenting adalah kepercayaan dan keterbukaan oleh pihak yang terlibat dalam konflik. Lebih dari itu, gaya tersebut menunjukkan perhatian terhadap diri sendiri dan orang lain yang sama tinggi dan upaya yang dituju dalam gaya tersebut adalah win-win solution
  1. E.Kesimpulan
Manajemen konflik merupakan bekal yang dibutuhkan bagi pemimpin secara umum. Demikian pula berlaku pada jalinan rumah tangga. Suami sebagai imam dalam rumah tangga, sedemikian mungkin harus mampu mengelola berbagai konflik yang dihadapi, agar dapat menghindari mudharat yakni konflik yang destruktif. terlebih bahwa konflik merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan bersosial sebagaimana dalam rumah tangga.
  1. F.Daftar Pustaka
Gymnastiar , Abdullah, Meraih Bening Hati Dengan Manajemen Qalbu, Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 2002.
Hendricks, William, How to Manage Conflict, Jakarta: Bumi Aksara, 2001.
Jackman, Ann, How to Get Things Done: Kiat Sukses Merealisasikan Rencana, Erlangga, 2006.
Liliweri, Alo, Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural, Cet I; Yogyakarta: Lkis, 2005.
Muhyiddin, Muhammad, Selamatkan Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka, Cet. II; Yogyakarta: Diva Press, 2009.
Nurcahyawati, Febriani W, Manajemen Konflik Rumah Tangga, Yogyakarta: Bintang Pustaka Abadi, 2010.
Thontowi, Ahmad, “Manajemen Konflik,” Makalah, disajikan pada Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Palembang.
Winardi, Konflik dan Manajemen Konflik (Konflik Perubahan dan Pengembangan) Bandung: Mandar Maju, 2007.
Wirawan, Konflik dan Manajemen Konflik Teori, Aplikasi, dan Penelitian, Jakarta: Salemba Humanika, 2010.
Yusuf, Muhammad Ely, Hubungan Antara Penyesuaian Diri Dalam Lingkungan Kerja Dengan Manajemen Konflik di Kalangan Karyawan UD. Sido Muncul Blitar, Skripsi, Malang: Universitas Islam Negeri Malang, 2008.
Zenrif, Fauzan, Realitas dan Metode Penelitian Sosial dalam Perspektif Al-Qur’an, Malang: Uin Press, 2006


[1]Abdullah Gymnastiar, Meraih Bening Hati Dengan Manajemen Qalbu (Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 2002), 82.
[2]William Hendricks, How to Manage Conflict (Jakarta:   Bumi Aksara, 2001), 1.
[3]Muhammad Muhyiddin, Selamatkan Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka (Cet II; Yogyakarta: Diva Press, 2009), 447.
[4]Febriani W Nurcahyawati, Manajemen Konflik Rumah Tangga (Yogyakarta: Bintang Pustaka Abadi, 2010), xiii.
[5]Ibid., 2.
[7]Data didapat dari Pengadilan Agama Bondowoso, tanggal 12 Februari 2013.
[8]Sugeng, Wawancara (Bondowoso, 12 Februari 2013) / Panitera Pengadilan Agama Bondowoso.
[9]Wirawan, Konflik dan Manajemen Konflik Teori, Aplikasi, dan Penelitian (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), 4.
[10]Winardi, Konflik dan Manajemen Konflik (Konflik Perubahan dan Pengembangan) (Cet ke 2; Bandung: Mandar Maju, 2007), 1.
[11]Ahmad Thontowi, “Manajemen Konflik,” Makalah, disajikan pada Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Palembang.
[12]M. F. Zenrif, Realitas dan Metode Penelitian Sosial dalam Perspektif Al-Qur’an (Malang: Uin Press, 2006), 50.
[13]Alo Liliweri, Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural (Cet I; Yogyakarta: Lkis, 2005), 288.
[14]Muhammad Ely Yusuf, Hubungan Antara Penyesuaian Diri Dalam Lingkungan Kerja Dengan Manajemen Konflik di Kalangan Karyawan UD. Sido Muncul Blitar, Skripsi (Malang: Universitas Islam Negeri Malang, 2008), 16.
[15]Ibid., 140.
[16]Ann Jackman, How to Get Things Done: Kiat Sukses Merealisasikan Rencana (Erlangga, 2006), 62.
[17]Wirawan, Konflik dan Manajemen Konflik Teori, Aplikasi, dan Penelitian (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), 140.
[18]William Hendrick, Bagaimana Mengelola Konflik (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 54.

Sumber : http://syariah.uin-malang.ac.id/index.php/113-skripsi-al-ahwal-al-syakhshiyyah/521-manajemen-konflik-sebagai-upaya-mempertahankan-keutuhan-rumah-tangga-perspektif-kiai-pesantren-di-bondowoso

Sabtu, 12 September 2015

Pengambilan Kebijakan Berbasis Education Management Information System (EMIS)
oleh Fuadi Aziz

Download PDF
KEBERIMANAN KEPADA MALAIKAT DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
oleh AFIFUDDIN HARISAH

Download PDF 
MANAJEMEN KONFLIK PONDOK PESANTREN NURUL UMMAH PUTRI KOTAGEDE YOGYAKARTA

Link Download PDF : http://digilib.uin-suka.ac.id/13777/1/BAB%20I%2C%20IV%2C%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf

Manajemen Konflik dalam Kepemimpinan Pesantren

Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Al-Khoirot
Ponpes Al-Khoirot Malang  

Manajemen Konflik dalam Kepemimpinan Pesantren sangat diperlukan karena pondok pesantren baru bisa tumbuh dan berkembang apabila para pengasuhnya memiliki sistem yang solid untuk mengelola konflik yang bisa saja muncul dan terjadi. Karena, tidak jarang terjadi konflik dan perpecahan di antara pengasuh pesantren itu disebabkan oleh masalah yang sepele atau adanya miskomunikasi dan kesalahpahaman. Ponpes yang tidak solid biasanya sulit untuk tumbuh menjadi pesantren yang besar dan memiliki kualitas tinggi.
Setiap ada pengasuh pesantren yang meninggal dunia akan selalu timbul pertanyaan: siapa yang akan mengganti sebagai pengasuh. Dan kalau pengganti pengasuh yang wafat ternyata lebih dari satu, maka akan ada pertanyaan lanjutan: apakah tidak akan terjadi konflik kalau pengasuhnya banyak? Bahkan, pertanyaan itu tak jarang terwujud dalam pernyataan: tidak akan lama lagi akan terjadi konflik internal.
Saat KH. Zainal Ali Suyuthi, pengasuh kedua PP Al-Khoirot, meninggal pada April 2011 rumor akan terjadi konflik internal sempat mengemuka dari sebagian kalangan, termasuk dari sebagian pengasuh pesantren lain. Namun, alhamdulillah, rumor itu tidak terbukti. Sebaliknya, manajemen PP Al-Khoirot justru semakin solid di bawah kepemimpinan Dewan Pengasuh yang unsurnya terdiri dari putra-putri, menantu dan cucu pendiri pesantren.
Pertanyaan dan pernyataan akan terjadinya konflik internal wajar mengemuka saat sebuah pesantren ditinggal wafat pengasuh sebelumnya . Karena, hal itu memang kerap terjadi di banyak pesantren.
Suksesi Kepemimpinan
Sampai saat ini sebagian besar pesantren—kalau tidak semuanya– masih menggunakan cara lama dalam pengelolaan pesantren yaitu manajemen keluarga. Dalam sejarahnya mayoritas pesantren di Indonesia didirikan oleh individu santri dan biasanya dibangun di atas tanah milik pribadi, atau tanah hibah/tanah wakaf yang diserahkan oleh pemiliknya pada kyai pengelola pesantren. Pada proses pembangunannya, kyai biasanya dibantu oleh banyak pihak sukarelawan termasuk masyarakat, wali santri dan simpatisan. Dengan demikian, kyai menjadi figur sentral dalam kepemimpinan pesantren dan terkadang menjadi figur sentral dalam masyarakat.
Dalam sistem kultur Indonesia yang paternalistik[1], maka biasanya saat pendiri pesantren wafat, ia secara natural akan diganti oleh putra atau menantunya. Tidak penting apakah mereka memenuhi syarat atau tidak secara keilmuan dan kepribadian untuk memimpin pesantren. Dalam kultur Indonesia, khususnya Jawa, yang masih menghormati budaya feodal[2], putra atau menantu kyai adalah penerus natural dalam suksesi kepemimpinan pesantren. Masyarkat memaklumi itu dan mereka menerimanya.
Sistem dinasti ini bukan hanya monopoli pesantren. Dalam politik pun, tradisi ini terjadi. Partai PDIP tidak bisa melepaskan diri dari sosok Megawati yang merupakan anak pendiri ideologinya yaitu Soekarno. Saat ini, Puan Maharani, anak Megawati, sudah digadang-gadang untuk meneruskan estafet kepemimpinan Megawati. Walaupun secara kualitas kepemimpinannya masih kalah dibanding para aktifis internal partai.
Sistem dinasti dalam suksesi kepempinanan di pesantren sebenarnya merupakan tradisi turun temurun yang terjadi juga di luar pesantren. Karena itu, tidak ada masalah cara ini terus diterapkan. Tapi dari praktik ini pula konflik internal dapat muncul.
Terjadinya Konflik Internal
Konflik internal itu akan muncul biasanya apabila pengasuh yang wafat meninggalkan calon-calon pengasuh lebih dari satu dan mereka tidak terdidik secara baik dalam bidang keilmuan dan kepemimpinan (leadership).
Untuk menghindari konflik antar-saudara semacam ini, para kiai di Madura dan sebagian Jawa memiliki cara yang mereka anggap jitu. Yaitu, setiap anak laki-laki akan dibuatkan pesantren baru di luar. Dan hanya satu yang akan menjadi penerus pesantren asal. Dengan cara ini ada dua keuntungan yang diperoleh, pertama, jumlah pesantren akan terus bertambah dan itu baik bagi pendidikan masyarakat. Kedua, potensi konflik antar-saudara akan terhindari.
Namun, sistem ini juga mengandung beberapa kelemahan. Seperti, pertama, pesanren asal akan sulit tumbuh besar karena kemampuan para penerusnya jadi terpecah-pecah ke dalam sejumlah pesantren kecil. Apalagi kalau para pendiri pesantren baru itu lemah secara ekonomi dan komunikasi. Kedua, cara ini seperti menghindari masalah, bukan memecahkan akar masalah itu sendiri yang sebenarnya dapat diatasi dengan manajemen konflik yang baik. Dan yang tak kalah penting, tanpa pemecahan masalah yang komprehensif dalam hal suksesi ini, sebuah pesantren akan sulit menjadi besar, kokoh dan solid secara organisasi.
Dengan demikian, solusi konflik internal yang biasa dilakukan– dengan cara hanya satu orang yang menjadi pengasuh pesantren dan yang lain harus keluar– saya kira tidak tepat. Dan malah akan semakin memperlemah pesantren itu sendiri. Baik secara kualitas maupun kuantitas. Apalagi, lemah kuantitas biasanya berakibat pada lemahnya tawar menawar (bargaining power) dengan pihak lain.
Manajemen Konflik
Sebenarnya akar masalah dari konflik antarpengasuh dalam satu pesantren dapat terjadi karena kurangnya kemampuan atau kemauan (political will) masing-masing pihak yang bertikai untuk mengatasi konflik (conflict management). Padahal, konflik itu bersumber dari perbedaan dan mengatasi perbedaan itu tidaklah sulit asal ada kemauan dari setiap individu terkait.
Unsur paling menonjol terjadinya suatu keretakan internal dalam kepemimpinan plural biasanya karena salah satu atau beberapa faktor di bawah dan begitu juga solusinya.
Pertama, komunikasi dan musyawarah mufakat. Komunikasi adalah kata kunci utama atas keberhasilan atau kegagalan suatu kepemimpinan yang plural (tidak tunggal). Terjadinya keretakan atau konflik internal pasti dikarenakan oleh kurang atau tidak adanya komunikasi. Pemicu awal dari konflik adalah kesalahpahaman. Dan kesalahpahaman terjadi karena minimnya komunikasi. Komunikasi bisa dalam bentuk formal dan informal. Dalam setiap keputusan, hedaknya diprioritaskan musyawarah mufakat. Tidak ada ego yang harus menang atau kalah. Semua ego harus mendapatkan bagian dari “kemenangan” dan bagian “kekalahan.” Itulah esensi dari musyawarah mufakat.
Kedua, persamaan visi. Dari komunikasi yang intens, maka kesempatan untuk menyamakan visi (rencana besar ke depan) dan menghindari konflik akan semakin besar.
Ketiga, kerja sama tim. Kepemimpinan plural ibarat main bola. Semua keberhasilan adalah karena hasil kerja sama tim. Langsung atau tidak langsung. Begitu juga, tanggung jawab kegagalan harus dipikul bersama. Dengan pola pikir (mindset) seperti ini, maka tidak ada seorang pun yang akan merasa dilupakan saat suka. Dan jadi kambing hitam saat duka.
Keempat, hindari kepentingan pribadi. Pengasuh pesantren adalah posisi untuk ibadah kepada Allah dan pengabdian kepada kepentingan masyarakat dengan mengorbankan waktu, tenaga dan materi. Bukan posisi untuk mencari keuntungan. Berangkat dari paradigma ini, maka semua tugas yang diemban oleh masing-masing pengasuh adalah mulia.
Kelima, pembagian tugas. Setiap individu memiliki potensi tertentu yang tidak dimiliki oleh yang lain. Akan sangat ideal apabila setiap Dewan Pengasuh memikul tugas khusus tertentu sesuai dengan bidang dan potensinya. Di PP Al-Khoirot, misalnya, semua tugas kepesantrenan dan kemasyarakatan ditanggung bersama sesuai potensi dan kesepakatan sebelumnya. Termasuk acara rutin seperti imam shalat berjamaah. Dengan demikian, tugas menjadi lebih ringan. Dan masih ada waktu yang tersisa bagi setiap pengasuh untuk melaksanakan pekerjaan pribadi masing-masing.
Keenam, penghasilan tetap. Kiai sebaiknya punya penghasilan tetap. Entah itu dengan cara bekerja, berbisnis atau bertani. Sebab, salah satu faktor terjadinya keretakan internal tidak jarang disebabkan oleh—meminjam istilah Kyai Syuhud Zayyadi– “rebutan tumpeng.” Realita ini menyedihkan, tapi harus dengan besar hati diakui. Ada pesan almarhum Kiai Nabrawi, mantan takmir masjid jamik kota Malang, yang patut diingat oleh semua kiai dan calon kiai demikian: “Kiai koduh alakoh, malّe tak rep-ngarep pessenah santreh.”
Dengan melaksanakan enam poin di atas, konflik antarpengasuh pesantren insyaAllah akan terhindari. Dengan cara itu pula pesantren akan lebih cepat maju dan besar karena dipimpin oleh sebuah tim yang solid dengan berbagai macam dan ragam potensi dan kemampuan individunya.[]
CATATAN AKHIR
[1] Paternalistik adalah budaya dalam suatu masyarakat yang menggantungkan diri pada figur tokoh kharismatik tertentu.
[2] Di mana orang dihargai dan tidak dihargai karena faktor keturunannya. Bukan karena kualitas individunya.

 

TEORI DAN HIPOTESIS
DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Metodologi Penelitian
Dosen Pengampu: Dr. Usman, M.Ag

  


Oleh:
Tri Pariyatun, S.Pd.I
1420411160
PAI-D (Mandiri)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
KONSENTRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penelitian merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan. Tujuan penelitian adalah menemukan atau mengembangkan teori. Teori membuat manusia mempunyai ilmu pengetahuan. Tanpa teori, tidak ada ilmu pengetahuan di dunia ini, karena tidak pernah ada kegiatan pengumpulan dan pembuktian. Melalui penelitian, teori mendorong ilmu mencapai kemjauan secara berkesinambungan. Dengan dilakukan penelitian maka dihasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Untuk melakukan penelitian maka harus dilewati berbagai tahapan. Hal ini sesuai dengan pengertian penelitian ilmiah itu sendiri yakni menjawab masalah berdasarkan metode yang sistematis. Salah satu hal penting yang dilakukan terutama dalam penelitian kuantitatif adalah merumuskan hipotesis.
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya: Pertama, Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik. Kedua, Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau difalsifikasi. Ketiga, hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Namun tidak semua peneliti mampu menyusun hipotesis dengan baik terutama peneliti pemula. Masih banyak terdapat kesalahan dalam menyusun hipotesis. Untuk menyusun hipotesis yang baik setidaknya peneliti harus mengacu pada kriteria perumusan hipotesis, bagaimana jenis-jenis hipotesis dalam penelitian, maupun pemahaman tentang penelitian tanpa menggunakan hipotesis. Selain itu seorang peneliti juga harus mengetahui bagaimana cara menguji hipotesis agar terhindar dari kekeliruan yang mungkin terjadi dalam pengujian hipotesis. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka makalah ini akan membahas mengenai hakikat teori dan hipotesis dalam sebuah penelitian sehingga mengurangi kekeliruan yang mungkin terjadi dalam pengujian hipotesis.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah yaitu:
Teori Penelitian
1.         Apa pengertian teori penelitian?
2.         Apa peran dan kriteria teori penelitian?
3.         Apa sumber dan langkah-langkah pendiskripsian teori penelitian?
Hipotesis Penelitian
1.      Apa pengertian hipotesis?
2.      Apa manfaat dan karakteristik hipotesis penelitian?
3.      Apa jenis-jenis hipotesis?
4.      Apa bentuk rumusan hipotesis?
5.      Bagaimana cara merumuskan hipotesis?
6.      Bagaimana cara menguji hipotesis?

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Teori Penelitian
Setiap kali melakukan penelitian, peneliti harus terlebih dahulu mengkaji teori yang relevan dengan masalah penelitian. Untuk dapat melakukan pengkajian teori sebagai landasan landasan penelitian, peneliti terlebih dahulu harus memahami konse-konsep dasar tentang teori.
1.      Pengertian Teori
Suatu penelitian perlu mengkaji teori dan menjadikannya landasan agar penelitian yang dilakukan tidak sekedar coba-coba. Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.[1] Teori merupakan pokok penyataan mengenai sebab-akibat atau adanaya hubungan positif antara gejala yang diteliti dari satu atau beberapa faktor tertentu dalam masayarakat. Oleh sebab itu, pada setiap penelitian teori-teori wajib diperlukan untuk mendukung hipotesis yang dibuat.
Teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum, teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (predicton), pengendalian (control) suatu gejala.[2] Menurut Suryabrata, dalam memilih teori harus memperhatikan prinsip kemutakhiran (recency) dan relevansi (relevance). Kecuali penelitian historis, penelitian perlu menghindarkan menggunakan bacaan yang sudah lama, karena sumber yang lama mungkin memuat teori dan konsep yang sudah tidak berlaku lagi yang kebenarannya sudah dibantah oleh teori yang lebih baru atau hasil penelitian yang lebih kemudian. Prinsip relevansi maksudnya adalah bahwa sumber teori haruslah relevan atauterkait dengan masalah yang sedang digarap. Apabila suatu penelitian hendak menyelidiki tentang sikap remaja terhadap tata tertib sekolah , maka haruslah dilakukan kajian teori tentang sikap, remaja, dan tata tertib sekolah, sebagai dasar pijkan penelian tersebut.[3]
Jadi, untuk melakukan penelitian harus dilakukan dengan melihat bangunan yang lebih dulu dibuat oleh generasi pendahulu atau orang lain. Sehingga teori merupakan bangunan atas fakta-fakta yang sudah diketahui sebelumnya. Atas dasar pondasi teori tersebut, seorang peneliti berpartisipasi menyususn pengetahuan di atasnya. Dapat disimpulkan bahwa teori merupakan informasi yang diberikan oleh para pendahulu untuk menjadi panduan dalam memahami realitas, baik fisik maupun sosial. Dengan demikian, teori menempatkan dua fungsi yaitu menjadi sumber bagi hipotesis dan memberikan petunjuk dalam mengumpulkan data.
2.      Peran dan Kriteria Teori
Teori merupakan alat dari ilmu (tool of science). Sebagai alat dari ilmu, landasan teori memiliki beberapa manfaat, yaitu:[4]
a)      Memperdalam pengetahuan tentang bidang yang diteliti
b)      Mengetahui hasil-hasil penelitian yang berhubungan yang sudah pernah dilaksnaaan.
c)      Memperjelas masalah penelitian.
d)     Meramalkan fakta atau memprediksi fakta.
Adapunn peranan fakta, antara lain: alasan untuk menolak teori yang ada; menyebabkan lahirnya teori baru; memberi dorongan untuk mempertajam atau memperhalus rumusan teori yang ada. Kegunaan suatu teori ilmiah dijadikan acuan dalam riset ilmiah harus memenuhi enam kriteria. Keenam kriteria itu adalah sebagai berikut:[5]
a)      Inklusif. Suatu teori yang dijadikan acuan dalam riset ilmiah harus sesuai dengan jumlah dan jenis fenomena yang dikaji dalam riset itu.
b)      Konsisten. Konsisten suatu menentukan apakah teori itu dapat menjelaskan temuan-temuan baru tanpa mengubah asumsi-asumsi yang mendasarinya.
c)      Akurat. Akurat suatu teori adalah derajat ketepatan teori itu untuk digunakan dalam menjelaskan suatu fenomena dan membuat prediksi.
d)     Relevan. Relevansi suatu teori tergantung pada kedekatan hubungan antara teori itu dengan informasi atau data yang dikumpulkan.
e)      Berbuah atau fruitfulness. Keberbuahan suatu teroi menunjukkan pada produktivitas teori itu dalam merangsang ide-ide baru untuk riset-riset di masa yang akan datang.
f)       Sederhana. Kesederhanaan teori terkait dengan derajat kedalaman teori itu dalam menjelaskan suatu fenomena dengan hanya membutuhkan sedikit keterangan.
3.         Sumber dan Langkah-langkah Pendiskripsian Teori
Pustaka yang merupakan sumber-sumber teori dapat diperoleh dari dua sumber utama, yaitu:
a)      Laporan-laporan penelitian (abstrak, jurnal ilmiah, tesis, disertasi, dan laporan penelitian lainnya)
b)      Buku-buku teks
Dalam menyusun landasasan teori adalah membaca buku dan lapiran hasil penelitian. Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:[6]
a)      Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya
b)      Cari sumber-sumber bacaan (buku, kamus, ensiklopedia, journal ilmiah, laporan penelitian, Skripsi, Tesis, Disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti.
c)      Lihat daftar isi setiap buku, dan pillih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti. (Untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian, lihat judul penelitian, permasalahan, teori yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisi, kesimpulan dan saran yang diberikan.
d)     Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
e)      Baca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti, lakukanlah analisa, renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
f)       Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.
B.       Hipotesis Penelitian
Dalam kegiatan penelitian, hipotesis biasanya disusun setelah peneliti mengkaji beberapa teori terkait dengan variable-variabel yang dikaji. Hasil penelaahan berbagi teori inilah yang kemudian dapat membantu peneliti merumuskan hipotesis penelitian. Selanjutnya akan dipaparkan hal-hal yang terkait dengan hipotesis dalam penelitian.
1.      Pengertian Hipotesis
Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dankerangka berfikir. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian harus merumuskan hipotesis. Penelitian yang bersifat ekploratif dan deskriptif sering tidak merumuskan hipotesis. Hipotesis menjadi dugaan berdasarkan keterngan teori yang sementara diterima sebagai kebenaran sambil menunggu pengujian menggunakan data empiris.
Hipotesis berasal dari kata hypo (di bawah, lemah) dan thesa (kebenaran). Dari kedua akar katanya dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah kebenaran yang lemah.[7] Kebenaran hipotesis dikatakan lemah karena kebenarannya baru teruji pada tingkat teori. Untuk menjadi kebenaran yang kuat, hipotesis masih harus diuji menggunakan data-data yang dikumpulkan. Kebenaran yang lemah akan meningkat menjadi thesa apabila berdasarkan hasil uji menggunakan data yang dikumpulkan memberi kesimpulan mendukung hipotesis. Sebaliknya, bila hipotesis teruji melalui data-data yang dikumpulkan maka hipotesis tidak dapat lagi diterima sebagai kebenaran.
Hipotesis adalah kesimpulan sementara atas masalah penelitian. Kita mengemukakan sebelumnya bahwa untuk sampai pada kesimpulan tersebut, harus dijalin pola pemikiran sehingga kesimpulan tersebut benar-benar logis. Dengan kata, lain hipotesis tersebut merupakan prediksi hasil penelitian yang akan dilakukan. Ia dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang bersifat sementara, akrena masih perlu diuji dengan data penelitian yang akan ditemukan nantinya.[8]
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban yang empirik dengan data.[9]
Suryanbrata memberikan beberapa definisi tentang hipotesis:[10] (1) hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris, (2) hipotesis merupakan rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoritus yang diperoleh dari penelaahan kepustakaan, (3) hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling tinggi kebenarannya, (4) hipotesis merupakan pernyataan mengenai populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sempel penelitian atau hipotesis adalah pernyataan mengenai keadaan parameter yang akan diuji melalui statistik sampel.
2.      Manfaat dan Karakteristik Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam suatu penelitian sangat penting untuk memandu penelitian. Manfaatnya dapat dirinci sebagai berikut:
a)      Memberikan tujuan yang tegas bagi peneliti
b)      Membantu dalam menentukan arah yang harus ditempuh, dalam pembatasan ruang lingkup penelitian dengan memilih fakta-fakta yang relevan.
c)      Menghindarkan sesuatu penelitian yang tidak terarah dan tidak bertujuan dan pengumpulan data yang mungkin ternyata tidak ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.[11]
Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan suatu fenomena keagamaan tertentu yang terjadi di masyarakat. Karena itu, penelitian deskriptif tidak memerlukan hipotesis. Kalaupun ada hipotesis dalam penelitian deskripsi, sifatnya hanya pertanyaan penelitian, tidak perlu dirumuskan dalam sebuah hipotesis secara eksplisit.
Menurut Sugiyono, hipotesis yang baik memiliki beberapa karakteristik, diantaranya:[12]
a)      Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih
b)      Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran
c)      Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.
3.      Jenis-Jenis Hipotesis
Ditinjau dari operasinya rumusan untuk ketiga jenis hipotesis tersebut kita kenal dua jenis rumusan yaitu:
a)      Hipotesi Nol
Hipotesis nol, yakni hipotesis yang menyatakan ketidakadanya hubungan anatara variabel. Dalam notasi, hipotesis ini dituliskan dengan “Ho”. Dalam contoh-contoh di atas ketiga rumuusan hipotesis nol dimaksud adalah:[13]
(1)   Tidak ada hubungan antara nilai matematika dengan nilai IPA
(2)   Tidak ada hubungan sebab-akibat timbal balik antara tingkat kekayaan dengan kelancaran berusaha. Tidak ada saling pengaruh antara tingkat kekayaan dengan keberhasilan berusaha.
(3)   Tidak ada hubungan sebab-akibat antara banyaknya makanan dengan tingkat kekenyangan. Tidak ada pengaruh banyaknya makan terhadap tingkat kekenyanga. Banyak makan tidak berpengaruh terhadap tingkat kekenyangan.
b)     Hipotesis Alternatif atau Hipotesis Kerja
Hipotesis alternatif atau hipotesis kerja, yakni hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antar variabel. Dalam notasi, hipotesis ini di tuliskan dengan “Ha”. Untuk hipotesis alternatif sendiri dapat dibedakan menjadi dua macam yaittu: “hipotesis terarah” (directional hypothesis) dan “hipotesis tidak terarah” (non directional hypotesis).[14] Berikut ini contoh dari hipotesis alternatif:
(1)   Untuk hubungan dua variable sejajar tidak dapat dirumuskan hipotesis terarah.
Ha tidak terarah (non directional)
-          Ada hubungan antara nilai matematika dengan nilai IPA
(2)   Ha terarah (directional)
-          Tingkat kekayaan berpengaruh terhadap kelancaran berusaha
-          Kelancaran berusaha berpengaruh terhadap tingkat kekayaan
Ha tidak terarah (non directional)
-          Ada pengaruh tingkat kekayaan terhadap keberhasilan berusaha
-          Ada pengaruh keberhasilan berusaha terhadap tingkat kekayaan
(3)    Ha terarah (directional)
-          Banyak makan berpengaruh terhadap tingkat kekenyangan
-          Banyak makan mempengaruhi terhadap kekenyangan
Ha tidak terarah (non directional)
-          Ada pengaruh banyaknya makan terhadap tingkat kekenyangan.
4.      Tiga Bentuk Rumusan Hipotesis
Pendapat lain mengenai pengklasifikasian atau jenis-jenis hipotesis diungkapkan oleh Sugiyono. Ia menyatakan bahwa menurut tingkat eksplanasi yang akan duji, maka rumusan hipotesis dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu hipotesis deskriptif (pada suatu sampel atau variabel mandiri/tidak dibandingkan dan dihubungkan), komparatif dan hubungan.
a)      Hipotesis Deskriptif
Menurut Sugiyono hipotesis deskriptif adalah dugaan tentang nilai suatu variabel mandiri, tidak membuat perbandingan atau hubungan. Sebagai contoh, bila rumusan masalah penelitian sebagai berikut ini, maka hipotesis (jawaban sementara) yang dirumuskan adalah hipotesis deskriptif.[15]
(1)   Seberapa tinggi daya tahan lampu merk X?
(2)   Seberapa tinggi produktivitas padi di kabupaten Klaten?
(3)   Berapa lama daya tahan lampu merk A dan B?
(4)   Severapa baik gaya kepemimpinan di lembaga X?
Dari tiga pernyataan tersebut antara lain dapat dirumuskan hipotesis seperti berikut:
(1)   Daya tahan lampu merk X = 800 jam
(2)   Produktivitas padi di Kabupaten Klaten 8 ton/ha.
(3)   Daya tahan lampu merk A=450 jam dan merk B=600 jam.
(4)   Gaya kepemimpinan di lembaga X telah mencapai 70% dari yang diharapkan.
Dalam perumusan hipotesis statistik, antara hipotesis nol dengan hipotesis alternatif selalu berpasangan, bila salah satu ditolak, maka yang lain pasti diterima sehingga dapat dibuat keputusan yang tegas, yaitu kalau Ho ditolak pasti alternatifnya diterima. Hipotesis statistik dinyatakan melalui simbol-simbol.
Hipotesis statistik dirumuskan dengan simbol-simbol statistik, dan antara hipotesis nol (Ho) dan alternatif selalu dipasangkan. Dengan dipasankan itumaka dapat dibuat keputusan yang tegas, mana yang diterima dan mana yang ditolak.
Berikut ini diberikan contoh berbagai pernyataan yang dapat dirumuskan hipotesis deskriptif statistiknya:[16]
(a) Suatu perusahaan minuman harus mengikuti ketentuan, bahwa salah satu unsur kimia hanya boleh dicampurkan paling banyak 1%. (paling banyak berarti lebih kecil atau sama dengan: £). Dengan demikian rumusan hipotesisnya adalah:
 (lebih kecil atau sama dengan)
 (lebih besar)
Dapat dibaca: hipotesis nol untuk parameter populasi berbentuk proporrsi (1% : proporsi) lebih kecil atau sama dengan 1%, dan hipotesis alternatifnya, untuk populasi yang berbentuk proporsi lebih besar dari 1%.
(1)   Suatu bimbingan tes menyatakan bahwa murid yang dibimbing di lembaga itu, paling sedikit 90% dapat diterima di perguruan tinggi negeri. Rumusan hipotesis statistik adalah:
(2)   Seorang peneliti menyatakan bahwa daya tahan lampu merk A = 450 jam dan B = 600 jam. Hipotesis statistiknya adalah:
Lampu A:                                          Lampu B:
Ho :  450 jam                              Ho :  600 jam
Ha :  450 jam                              Ha :  600 jam
Harga dapat diganti dengan nilai rata-rata sampel, simpangan baku dan varians. Hipotesis pertama dan kedua diuji dengan uji satu satu pihak (one tail) dan ketiga dengan dua pihak (two tail).
b)     Hipotesis Komparatif
Menurut Sugiyono hipotesis komparatif adalah pernyataan yang menunjukkan dugaan nilai dalam satu variabel atau lebih pada sampel yang berbeda. Contoh rumusan masalah komparatif dan hipotesisnya:[17]
(1)   Adakah perbedaan daya tahan lampu merk A dan B?
(2)   Adakah perbedaan produktivitas kerja antara pegawai golongan I, II dan III?
Adapun rumusan hipotesis adalah:
(a)    Tidak terdapat perbedaan daya tahan lampu antara lampu merk A dan B
Daya tahan lampu merk B paling kecil sana dengan lampu merk A
Daya tahan lampu merk B paling tinggi sama dengan lampu merk A
Hipotesis statistiknya adalah:
-         
Rumusan uji hipotesis dua pihak
Ho : 2
Ha : 2
-         
Rumusan hipotesis uji pihak kiri
Ho : 2
Ha : 2
-         
Rumusan hipotesis pihak kanan
Ho : 2
Ha : 2
(b)   Tidak terdapat perbedaan (persamaan) produktivitas kerja antara golongan I, II, III.
-         
-           (salah satu berbeda sudah merupakan Ha)
Dalam hal ini harga m (mu) dapat merupakan rata-rata sampel, simpangan baku, varians dan proporsi.
c)      Hipotesis Hubungan (Asosiatif)
Sugiyono menyatakan bahwa hipotesis asosiatif adalah suatu pernyataan yang menunjukkan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Contoh rumusan masalahnya adalah “Adakah hubungan antara gaya kepemimpinan dengan efektivitas kerja?”. Rumus dan hipotesis nolnya adalah:[18] Tidak ada hubungan antara gaya kepemimpinan dengan efktivitas kerja.
Hipotesis statistiknya adalah:
Dapat dibaca: hipotesis nol, yang menunjukkan tidak adanya hubungan (nol = tidak ada hubungan) antara gaya kepempinan dengan efektivitas kerja dalam populasi. Hipotesis alternatifnya menunjukkan ada hubungan (tidak sama dengan nol, mungkin lebih besar dari nol atau lebih kecil dari nol).
5.      Merumuskan Hipotesis
Cara merumuskan merumuskan hipotesis ialah dengan tahapan sebagai berikut: rumuskan hipotesis penelitian, hipotesis operasional, dan hipotesis statistik.
Hipotesis penelitian ialah hipotesis yang kita buat yang dinyatakan dalam bentuk kalimat dan didasarkan pada asumsi:[19]
Contoh 1: Hipotesis asosiatif
Rumusan Masalah:
·         Adakah hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja pegawai?
Hipotesis penelitian
Ada hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja pegawai.
Hipotesis operasional ialah mendefinisikan hipotesis secara operasional variabel-variabel yang ada di dalamnya agar dapat diopperasionalkan. Misalnya “gaya kepemimpinan” dioperasionalkan sebagai cara memberikan isntruksi terhadap bawahan. Kinerja pegawai dioperasionalkan sebagai cara memberikan instruksi terhadap bawahan. Kinerja pegawai dioperasionalkan sebagai tinggi rendahnya pemasukan perusahaan. Hipotesis operasional dijadikan menjadi dua , yaitu hipotesis 0 yang bersifat netral dan hipotesis 1 yang bersifat tidak netral.[20]
Dengan demikian, bunyi hipotesis operasionalnya:
H0 :  Tidak ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi-rendahnya pemasukan perusahaan
H1 :  Ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi-rendahnya pemasukan perusahaan.
Hipotesis statistik ialah hipotesis operasional yang diterjemahkan ke dalam bentuk angka-angka  statistik sesuai alat ukur yang dipilih oleh peneliti. Dalam contoh ini asumsi kenaikan pemasukan sebesar 30% sehingga hipotesisnya berbunyi sebagai berikut:[21]
H0: 0,3
H1: 0,3
Contoh 2: Hipotesis deskriptif
Rumusan masalahnya:
·         Seberapa besar penguasaan Bahasa Inggris di kalangan mahasiswa?
·         Hipotesis penelitian:
·         Penguasaan Bahasa Inggris di kalangan mahasiswa nkurang dari standar
Hipotesa operasional berbunyi:
H0 = Penguasaan Bahasa Inggris di kalangan mahasiswa sama dengan standar
H1 = Penguasaan Bahasa Inggris di kalangan mahasiswa tidak sama dengan standar.
Hipotesis statistik
·         H0:
·         H1
Diasumsikan bahwa standar sama dengan 80% penguasaan Bahasa Inggrisnya
Contoh 3: Hipotesis komparatif
Rumusan masalahnya:
·         Bagaimana sikap mahasiswa di Bandung terhadap penyalahgunaan narkoba dibandingkan denan sikap mahasiswa di Yogyakarta?
Hipotesis penelitian:
·         Ada perbedaan sikap terhadap penyalahgunaan narkoba pada mahasiswa di Bandung dan mahasiswa di Yogyakarta
Hipotesis operasional
H0 = Tidak ada perbedaan persentase sikap terhadap penyalahgunaan narkoba pada mahasiswa di bandung dan mahasiswa di Yogyakarta.
H1 = Ada perbedaan persentase sikap terhadap penyalahgunaan narkoba pada mahasiswa di Bandung dan mahasiswa di Yogyakarta.
Hipotesis statistik:
H0
H1
Cara menentukan hipotesis yang baik sesuai dengan pendapat Borg dan Gall hipotesi dapat dikatakan baik apabila memenuhi empat buah kriteria:[22]
                                    1.      Hipotesis hendaknya merupakan rumuusan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih variabel.
                                    2.      Hipotesis yang dirumuskan hendaknya disertai dengan alasan atau dasar-dasar teoritik dan hasil penemuan terdahulu
                                    3.      Hipotesis harus dapat diuji
                                    4.      Rumusan hipotesis hendaknya singkat dan padat, artinya bahwa hipotesis tidak boleh menggunakan hiasan kata atau diberi hiasan kata-katat yang tidak atau kurang bermakna
6.      Cara Menguji Hipotesis
Hipotesis yang sudah dirumuskan kemudian harus diuji. Pengujian ini akan membuktikan H0 atau H1 yang akan diterima. Jika H1 diterima maka H0 ditolak. Artinya, ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi-rendahnya pemasukan peruusahaan.
Dalam membuat hipotesis ada dua jenis kekeliruan yang kadang dibuat oleh penelitian, yaitu:[23]
a)      Menolak hipotesis yang seharusnya diterima. Kesalahan ini disebut kesalahan alpha ( )
b)      Menerima hipotesis yang seharusnya ditolah. Kesalahan ini disebut keslahan beta ( )
BAB III
PENUTUP


Kesimpulan

Teori adalah sebuah set konsep atau construct yang berhubungan satu dengan yang lainnya, suatu set dari proporsi yang mengandung suatu pandangan sistematis dan fenomena. Teori mempunyai peranan sebagai berikut: (1) Memperdalam pengetahuan tentang bidang yang diteliti (2) Mengetahui hasil-hasil penelitian yang berhubungan yang sudah pernah dilaksnaaan (3) Memperjelas masalah penelitian (4) Meramalkan fakta atau memprediksi fakta. Adapun kriteria itu adalah sebagai berikut: inklusif, konsisten, akurat, relevan, berbuah atau fruitfulness, dan sederhana. Sumber-sumber teori dapat diperoleh dari dua sumber utama, yaitu: laporan-laporan penelitian (abstrak, jurnal ilmiah, tesis, disertasi, dan laporan penelitian lainnya) dan buku-buku teks.

Hipotesis berasal dari perkataan hipo (hypo) dan tesis (thesis). Hipo berarti kurang dari, sedang tesis berarti pendapat. Jadi hipotesis adalah suatu pendapat atau kesimpulan yang sifatnya masih sementara, belum benar-benar berstatus sebagai suatu tesis. Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoretis dianggap paling mungkin atau paling tinggi tingkat kebenarannya. Manfaatnya dapat dirinci sebagai berikut: (1) Memberikan tujuan yang tegas bagi peneliti. (2) Membantu dalam menentukan arah yang harus ditempuh, dalam pembatasan ruang lingkup penelitian dengan memilih fakta-fakta yang relevan, (3) Menghindarkan sesuatu penelitian yang tidak terarah dan tidak bertujuan dan pengumpulan data yang mungkin ternyata tidak ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.

Hipotesis yang baik memiliki beberapa karakteristik, diantaranya: (1) Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. (2) Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran. (3) Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.

Ditinjau dari operasinya rumusan untuk ketiga jenis hipotesis tersebut kita kenal dua jenis rumusan yaitu: hipotesi nol dan hipotesis alternatif atau hipotesis kerja. Sedangkan tiga bentuk rumusan hipotesis yang dapat disusun sesuai dengan rumusan permasalahan penelitian, yaitu: hipotesis deskriptif, hipotesis komparatif, dan hipotesis asosiatif.

Cara merumuskan merumuskan hipotesis ialah dengan tahapan sebagai berikut: rumuskan hipotesis penelitian, hipotesis operasional, dan hipotesis statistik. Hipotesis yang sudah dirumuskan kemudian harus diuji. Pengujian ini akan membuktikan H0 atau H1 yang akan diterima. Jika H1 diterima maka H0 ditolak. Artinya, ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi-rendahnya pemasukan peruusahaan. Dalam membuat hipotesis ada dua jenis kekeliruan yang kadang dibuat oleh penelitian, yaitu:

1. Menolak hipotesis yang seharusnya diterima. Kesalahan ini disebut kesalahan alpha ( )

2. Menerima hipotesis yang seharusnya ditolah. Kesalahan ini disebut keslahan beta ( )

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Yatimin. Studi Islam Kontemporer. Jakarta: AMZAH. 2006.
Ali, Mohammad. Memahami Riset Perilaku dan Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2014.
Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT RINEKA CIPTA. 2005.
Polan, Rusdin. Metodologi Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Rijal Isntitute. 2007.
Purwanto. Instrumen Penelitian Sosial dan Pendidikan: Pengembangan dan Pemanfaatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010.
Sarwono. Jonathan. Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS. Yoyakarta: Penerbit ANDI. 2006.
Sugiyono. Metodologi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. 2010.
________ Statistik Untuk Penelitian. Bandung: ALFABETA. 2005.


[1] Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 79.
[2] Ibid., hlm. 81.
[3] Purwanto, Instrumen Penelitian Sosial dan Pendidikan: Pengembangan dan Pemanfaatan, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 66.
[4] Yatimin Abdullah, Studi Islam Kontemporer, (Jakarta: AMZAH, 2006), hlm. 239.
[5] Mohammad Ali, Memahami Riset Perilaku dan Sosial, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014), hlm. 71.
[6] Sugiyono, Metodologi..., hlm. 90.
[7] Purwanto, Instrumen..., hlm. 82.
[8] Rusdin Pohan, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Rijal Isntitute, 2007), hlm. 31.
[9] Sugiyono, Metodologi..., hlm. 96.
[10] Purwanto, Instrumen..., hlm. 83.
[11] Yatimin Abdullah, Studi..., hlm. 239.
[12] Sugiyono, Metodologi..., hlm. 96.
[13] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2005), hlm. 47.
[14] Ibid., hlm. 47.
[15] Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian, (Bandung: ALFABETA, 2005), hlm. 83.
[16] Ibid, hlm. 84.
[17] Ibid., hlm. 85.
[18] Ibid., hlm. 86.
[19] Jonathan Sarwono, Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS, (Yoyakarta: Penerbit ANDI, 2006), hlm. 68.
[20] Jonathan Sarwono, Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS, (Yoyakarta: Penerbit ANDI, 2006), hlm. 68.
[21] Ibid., hlm. 68.
[22] Suharsimi Arikunto, Manajemen..., hlm. 50.
[23] Jonathan Sarwono, Analisis..., hlm. 70.